Comscore Tracker

[CERPEN] Gelap

Kau tak akan merasakan dirimu sebelum bersama gelap

Daegal mendapati dirinya terbangun saat sedang tidur. Dia berada di dalam kegelapan yang teramat sangat. Matanya tidak dapat menjangkau bagian luar tubuhnya. Hanya warna hitam pekat yang berada di hadapannya.

"Gelap... Di mana aku?" ia bertanya sembari mendengar suara. Suara dari jantungnya sendiri yang berdegup mengejar ketakutannya. Dirinya berusaha bangun dan menimbulkan suara lain dari gemertak sendinya. Suara dari tubuh jauh lebih jelas dari pandangannya yang hitam.

Dia berdiri lalu berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa eksistensinya masih ada. Perasaannya jauh lebih dalam memahami jika dia telah tertelan sekitarnya. Hanya pikiran dalam kepala yang masih berusaha meyakinkan jika dia sedang berdiri.

Tidak ada yang lain kecuali dia. Dia tidak mendengar sebuah pantulan dari apapun. Pantulan yang selalu dia rasakan tiap harinya. Dari suara, cahaya, sampai sensasi semuanya tiada. Hanya dirinya keberadaan di sini.

Matanya mencoba melihat sekeliling berusaha menerjam setitik kecil cahaya untuk menerka sekitar. Kiri ke kanan, atas ke bawah, depan ke belakang semua arah yang memungkin dia coba. Kosong. Hanya itu yang dia hasilkan dari usahanya. Matanya terasa tertutup setelah semua itu, sedangkan secara sadar dia membuka matanya.

Tangannya digerakkan. Sebuah usaha untuk meraih sesuatu yang berada di sekitar. Jemarinya tidak menggenggam apapun. Tidak sekalipun mengenai sesuatu kecuali kegelapan. 

Kakinya mencoba untuk melangkah. Saat kaki kanannya maju dan yang kiri mengikuti, itu hanya membuatnya terantuk. Dia jatuh dan menimbulkan suara. Satu diantara suara lain dari dirinya. Bukan dari yang lain.

Dia tetap berada di bawah. Tubuhnya membujur. Merasakan bagaimana rupa pijakannya sedari tadi. Dingin. Lembut. Menusuk kulit. Itu seperti lantai rumahnya.

Keringatnya mulai deras. Menyelimuti setiap jengkal kulitnya. Menyadarkan keberadaannya sebagai satu - satunya makhluk di kegelapan ini.

Badannya mulai dibuat berdiri. Jatuh. Ini sangat susah bahkan untuk seorang jenius seperti Daegal. Karena semuanya gelap dan sama sekali tidak ada apapun di sana. Hanya dirinya dan lantai yang dia kira adalah pijakan. Hanya sampai situ kesadarannya.

Dia terpejam. Otaknya bekerja agar semua ini menjadi logis. Semua ini harus logis. Kegelapan ini. Kekosongan ini. Ketiadaan ini. Setiap dari ini harus dapat diterima olehnya.

"Bukan hal yang buruk. Ini malah bagus. Tidak ada yang mengganggu di sini. Semuanya menghilang. Aku suka ini." 

Mulutnya menyeringai. Ingatannya membawa ke dalam sebuah kejadian dimana dia selalu berada di bawah tekanan. Tuntutan menjadi kudapan tiap harinya. Dia merasa bebas berada di sini. Karena semuanya telah tiada dan hanya ini harapannya tiap hari. 

Jatuh. Jatuh. Jatuh. Dia tidak bisa berdiri. Kenapa dia berusaha sangat hanya untuk berdiri? Semuanya mudah bukan? Untuk seorang mahasiswa tingkat akhir di universitas terbaik yang akan mendapat cum laude itu sangat sederhana bukan? 

Seringainya berhenti. Dia tertawa. Kencang sekali sehingga dia merasakan keberadaan orang lain. Keberadaan dari tawanya sendiri yang saling terpantul.

Dia menggila melalui tawanya yang lantang, yang lebih lantang dari hatinya. Hatinya yang semakin lama semakin redup. Terbawa arus kegelapan di sekitarnya.

Berdirilah. Hatinya berteriak berdiri. Tubuhnya memberontak untuk berdiri. Selalu jatuh, tetapi dia hanya ingin berdiri. Tawanya semakin menggila. Diikuti dengan gilanya dia dalam tertawa dan usahanya untuk berdiri. Cacinglah yang menyamai dia sekarang.

Jatuh yang sekarang lebih keras. Kepalanya sampai terbentuk dengan sangat keras. Tawanya berhenti seketika dengan badannya yang menelungkup. Sebuah cairan muncul dari kepalanya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

Darah. Bukan, apa itu jus? Ah... tetapi tubuh manusia tidak menghasilkan jus. Itu pasti darah. Ini sangat lezat. Sungguh lezat sehingga dia meminumnya. Rasa kering ditenggorokan setelah menjadi cacing selama itu membuat dia seperti mahkluk lain.

Darah dari dirinya dirasa cukup. Kesadarannya berangsur kembali. Dia berpikir mungkin nantinya dia akan memberitahu temannya untuk membuat karya ilmiah tentang darah dapat membuatmu semakin waras. Temannya memang akan menjalani sidang untuk kelulusannya. Jadi ini cukup untuk memberikan gelar pada temannya itu.

Temannya yang bernama Pradana. Satu - satunya teman, atau lebih dari itu. Mahkluk yang menerimanya sebagai manusia sesuai keinginan Daegal. Itulah Pradana. 

"Jika aku tidak bisa berdiri, satria akan menertawakan aku," gumamnya sambil berbaring. Sebuah film berjalan sebentar di kepalanya tentang bagaimana temannya itu. Teman yang baik bagi dia. Teman yang sempurna.

Itulah teman bagi Daegal. Sosok yang mengerti saat dia sedang dalam kesusahan. Berada paling depan saat pembicaraan. Pembicaraan apapun adalah temannya yang memulai. Itu yang membuat dia senang.

Usaha lain untuk berdiri lalu terjatuh lagi. Hasil yang sama, sensasi yang berbeda. Cairan baru muncul dari wajahnya. Sebuah tangisan. Tidak bersuara hanya saja cukup untuk membuat dirinya mendengar kesedihannya sendiri.

Di mana sekarang Pradana? Di mana sekarang seorang yang sempurna sebagai teman? Apa dia mencarinya? Apa dia mengkhawatirkannya?

Pikirannya berteriak. Mencemooh harapannya. Tidak akan ada seorang Satria akan menolongmu. Tidak mungkin.

Apa dia tidak ingat kejadian itu? Tentu saja dia ingat. Suatu hari dia sedang dihadang sekelompok preman. Pradana bersama dia. Tidak. Dia tidak bersama dia. Dia mendorongnya ke sekelompok preman itu dan lari. Hasilnya? Dia babak belur bahkan masuk rumah sakit selama seminggu.

Iya, dari situlah seorang Daegal Kusuma terbentuk. Setelah dikutuk oleh ikatan yang menyedihkan dalam balutan pertemanan. Menjadikannya mengerti bahwa dia hanyalah individu dan tetaplah menjadi individu hingga seterusnya.

Itulah kenapa daritadi dia tidak takut. Kenapa harus takut pada kegelapan dan kesendirian? Toh, dari awal dia sudah sendirian dimanapun itu.

Kesendirian juga teman terbaik yang selama ini berada di sampingnya. Bukan berarti dia tidak mau bersosialisasi, tetapi naturalnya seorang yang telah dikhianati menjadikannya seperti itu. Sebuah kemewahan dari apa yang selama ini dia dambakan.

Seorang yang selama ini terbentuk sedikit demi sedikit dari tragedi. Keluarga yang berantakan sudah bukan sebagai dongeng baginya. Cinta tak terbalas adalah lagu pengantar tidurnya. Dan pengkhianatan menjadi reka adegan terfavorit.

Dari sinilah Daegal mulai sadar. Kesadarannya dari awal sudah menjadikannya sebagai individu terbaik di muka bumi. Individu ideal yang telah termanifestasi dengan sempurna. Benar - benar selayaknya sebutan individu sebenarnya.

Kaya? Bahkan dia menjalankan bisnis sebagai pengembang software multimedia ternama sekarang. Tampan? Sudah tidak terhitung wanita yang dijajahinya. Terkenal? Majalah mana yang tidak mau meliput tentangnya.

Semuanya serba bersinar di dalam kegelapan dirinya. Kegelapan yang sebenarnya selalu bersemayam dalam tubuhnya. Yang sedari dulu merayap keluar dan ingin menunjukkan eksistensinya.

Inilah sekarang dia dalam gelap. Tidak ada satupun dari yang ia tahu berada di sini. Hanya dia dan dirinya bersama dengan warna hitam memeluknya erat agar ia mengerti inilah dirinya.

Baca Juga: [PUISI] Jendela Kecil di Suriah

aryasuta rajendra rahmatullah Photo Community Writer aryasuta rajendra rahmatullah

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You