Di suatu tempat dimana para hewan hidup cukup waras untuk memahami batasan moral sederhana, ada satu makhluk yang menjadi sumber utama kerusakan logika dan mental seluruh peternakan. Namanya Buri, babi gemuk berwarna merah muda yang terlalu sering dipoles oleh peternak. Entah karena ingin dagingnya berkualitas atau karena peternak tidak peka, yang jelas Buri mendapatkan perlakuan istimewa sejak kecil. Sayangnya, kemanjaan itu berubah jadi racun dan kini Buri tumbuh menjadi babi narsis yang merasa dirinya paling benar, paling suci, paling teraniaya, bahkan setelah berkali-kali ia melakukan hal jahat kepada hewan lain.
Setiap pagi Buri berkeliaran sambil bersuara seolah sedang berkhotbah. Mulutnya yang masih berlumur lumpur mengeluarkan kata-kata tentang moral dan adab. Ia berbicara tentang etika, kesopanan, pentingnya harmoni, dan segala hal yang indah-indah di dunia ini, padahal sambil bicara ia menindih kepala kelinci yang kebetulan lewat. Ketika domba-domba berjalan pulang dari ladang, Buri menyingkirkan mereka ke kanan dan kiri seperti sampah yang menghalangi jalan. Setelah itu ia menghela napas panjang dan berlagak lelah karena, menurutnya, ia selalu harus membersihkan kekacauan yang dibuat hewan lain.
Lebih menyebalkan lagi, Buri selalu berkata bahwa ia hanya mencoba membuat lingkungan yang lebih baik. Dia berkata ia terpaksa kasar karena para hewan di sekitarnya tidak cukup beradab untuk memahami niat baiknya. Dia mengaku bahwa dirinya selalu disalahpahami karena terlalu jujur. Ayam-ayam yang melihatnya hanya bisa menatap langit sambil berharap badai datang menghantam peternakan. Kelinci-kelinci yang sempat diinjaknya memilih diam karena mereka tahu Buri mampu membuat cerita yang berbalik menyalahkan korban.
Setiap kali peternak lewat, Buri berubah jadi malaikat palsu. Dia memosisikan diri sebagai penjaga moral peternakan. Dia memuji domba, padahal baru saja menendang mereka. Dia menolong kelinci, padahal sebelumnya menginjak mereka. Dia bilang pada peternak bahwa dirinya rela mengorbankan kenyamanan demi menjaga kedamaian seluruh hewan. Peternak yang tidak tahu apa-apa hanya terkagum-kagum. Dia mengira Buri adalah hewan istimewa yang pantas dibanggakan. Tanpa sadar, peternak memupuk monster kecil yang montok dan manipulatif.
Hewan-hewan lain mulai memahami satu hal. Bukan lumpur yang membuat Buri kotor, tetapi sifatnya sendiri. Mereka sudah melihat cukup banyak: Buri memutarbalikkan fakta, memainkan perasaan, dan selalu berlagak korban padahal dialah pelaku utama kendala sosial peternakan. Mereka sering berkumpul diam-diam di belakang kandang sambil bertanya-tanya bagaimana makhluk seperti itu bisa eksis tanpa dihantam karma.
Dan di malam tertentu, ketika Buri sedang berkhotbah sendirian di bawah bulan, suara bising dari hutan terdengar pelan. Buri sempat sombong. Dia bilang hanya hewan liar yang iri pada keadabannya. Tetapi hewan-hewan waras tahu, malam itu bukan tentang iri. Malam itu tentang utang moral yang jatuh tempo.
Buri berdiri di tengah halaman peternakan seperti seorang orator yang yakin dunia membutuhkan kata-katanya. Ia mengangkat kepala tinggi-tinggi, lumpur di moncongnya sudah mulai kering membentuk kerak seperti bekas dosa yang dibiarkan menempel terlalu lama. Di hadapannya tidak ada yang mau mendengarkan, tetapi dia tetap berbicara seolah seluruh peternakan memerlukan petunjuk moral darinya. Kelinci-kelinci menyingkir pelan, masih trauma dengan injakan paginya. Domba-domba berusaha tidak menatap matanya karena takut mendadak ditendang. Ayam-ayam pura-pura sibuk mengais tanah, padahal mereka hanya berusaha mengalihkan pikiran agar tidak muntah melihat kepalsuan babi itu.
Saat Buri sedang dalam puncak khutbah palsunya, terdengarlah suara ranting patah dari arah hutan. Buri sempat berhenti, lalu tersenyum sombong dan berkata bahwa suara itu pasti hewan liar yang kurang adab. Ia lalu melanjutkan pidatonya dengan nada merendah tapi ingin dipuji, mengatakan bahwa bahkan makhluk-makhluk hutan pun pasti iri melihatnya menjaga etika peternakan sendirian. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya adalah pusat moralitas dunia, padahal satu-satunya hal yang dia jaga hanyalah rasa superioritas yang lebih rapuh dari sarang burung.
Hewan-hewan lain merasakan sesuatu yang berbeda. Angin malam terasa lebih berat. Tanah terasa lebih sunyi. Mereka menahan napas, sebagian berharap apa pun yang mendekat bisa menjadi akhir dari semua kebohongan yang sudah mereka telan bertahun-tahun. Namun Buri tetap sibuk dengan khutbahnya, sesekali menendang batu ke arah domba sambil bilang itu bentuk kasih sayang.
Dari balik gelapnya pepohonan, sepasang mata muncul. Mata itu bukan mata kelaparan biasa. Ada ketenangan, ada penilaian, seperti sedang memeriksa apakah makhluk yang berdiri di tengah halaman itu benar-benar seburuk aroma moral yang menguar dari tubuhnya. Seekor hewan buas akhirnya menampakkan diri. Bulunya kusut, tubuhnya besar, dan langkahnya pelan tetapi pasti. Seekor serigala kelabu yang tampak seperti utusan alam yang sudah muak melihat kebusukan tidak tersentuh keadilan.
Buri mengerjapkan mata, lalu tersenyum kaku. Dia mencoba memainkan jurus playing victim terakhirnya. Suara dibuat bergetar seolah dia makhluk suci yang sedang dizalimi. Dia berkata bahwa kedatangannya pasti karena takdir ingin menguji kesabarannya, bahwa dia selalu disalahpahami, bahwa semua hewan di peternakan akan tersesat tanpa nasihat-nasihat sucinya. Dia bahkan mencoba menunduk anggun padahal kaki belakangnya gemetar.
Serigala itu tidak bereaksi. Tidak terpancing air mata palsu. Tidak tertipu kata-kata yang dilumuri lumpur kebohongan. Dalam sekejap ia menurunkan posisi tubuh seperti hendak menerkam. Buri panik dan mulai mengoceh lebih cepat daripada biasanya, memfitnah domba, menyalahkan ayam, menuduh kelinci-kelinci membuatnya stress. Dia mencoba membalikkan keadaan seperti biasa, tetapi malam itu tidak ada yang bisa dia manipulasi.
Tidak ada yang menolongnya. Hewan-hewan lain berdiri jauh di belakang, diam, bukan karena benci, tetapi karena lega. Dunia akhirnya memproses laporan yang sudah terlalu lama tertunda. Buri menjerit, tetapi jeritan itu hanya membuat serigala semakin yakin bahwa targetnya tepat. Dalam satu lompatan besar, hewan buas itu menerjang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Buri tidak sempat menyiapkan kalimat pembelaan atau drama narsistik yang bisa menyelamatkan wajahnya.
Ketika pagi datang, peternakan terasa lebih bersih tanpa perlu disapu. Tidak ada khutbah palsu, tidak ada suara manipulatif, tidak ada kelinci yang diinjak atau domba yang ditendang. Hewan-hewan lain berjalan dengan langkah lebih ringan. Mereka tidak merayakan apa pun. Mereka hanya merasa lega. Beberapa makhluk memang tidak perlu dijatuhi hukuman. Cukup ditiadakan.
