Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Sepenggal Kenangan tentang Mandy

ilustrasi siluet mengintip
ilustrasi siluet mengintip (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya sih...
  • Lagu "Man in The Mirror" oleh Michael Jackson memiliki kenangan tersendiri bagi Usman, yang sering mendengarkan lagu-lagu MJ di kamarnya di Kampuang.
  • Hubungan dekat antara Usman dan Mandy melebihi hubungan kekasih, meskipun mereka tidak pernah berpacaran secara resmi.
  • Kematian Mandy dalam kecelakaan motor membuat Usman semakin yakin bahwa Kampuang sudah tidak layak lagi untuk ditinggali.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

I'm gonna make a change
For once in my life
It's gonna feel real good
Gonna make a difference, gonna make it right

Lagu “Man in The Mirror”, yang dinyanyikan oleh Michael Jackson (MJ), mengalun dari laptop Usman. Ada banyak kenangan dari lagu-lagu MJ ini bagi Usman. Ia teringat kamarnya di Kampuang, dulu, ketika rumah keluarganya masih menyatu dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), milik orang tuanya.

Di kamarnya itulah, Usman, kerap mendengarkan lagu-lagu MJ, dari kaset yang diputar di tape recorder miliknya. Kakinya juga masih lincah ikut berjoget ala Michael Jackson, kala itu. Jendela kamar yang tidak pernah ditutup itu, menjadi saksi, semua musik dan lagu yang pernah didengar dan dinyanyikan olehnya.

Ingatannya tiba-tiba tertambat pada seorang sahabat dekatnya, yang tidak berumur panjang. Mandy, nama sahabatnya itu. Ia tidak ada nama belakang seperti artis Hollywood, yang cantik itu, Mandy Moore. Mandy temannya ini bukan orang Eropa, yang punya nama keluarga. Ia hanya perempuan asli dari Kampuang, kota tempat Usman menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya.

Mandy dulu sering mengunjungi Usman di kamarnya itu, mereka sering merokok berdua di kamar Usman. Ia memang bukan pacarnya Usman, selayaknya Agatha, akan tetapi kedekatan mereka melebihi hubungan kekasih. Terkadang saat Usman tertidur siang hari, Mandy tiba-tiba datang dan merebahkan dirinya di samping Usman. Ketika terbangun, biasanya Usman akan kaget, menyadari bahwa ada seseorang tidur di sampingnya, dengan posisi tidur yang sangat mepet ke tubuhnya.

Ketika berenang bersama di Danau Singkarak, Mandy selalu berada di dekat Usman. Berpegangan pada benen (ban dalam truk, yang difungsikan jadi semacam pegangan, untuk mengapung dan tidak tenggelam di danau), yang sama dengan yang dipegang Usman

Suatu kali, entah kenapa, saat Usman tengah duduk bersandar di pinggir tempat tidur, Mandy secara mendadak melakukan gerakan seperti ingin memeluknya. Usman kaget, dan langsung menghindar, takut terjadi apa-apa. Maklum anak muda, kadang masih belum mampu mengendalikan hasrat. Apalagi saat itu, ia masih berpacaran dengan Agatha, sehingga Usman tidak enak, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang bisa membuat pacarnya itu cemburu.

Mandy ini mantan pacarnya si Zul, teman Usman. Ketika sedang hangout, biasanya Zul bercerita, bagaimana kisah cintanya dengan Mandy, yang cenderung nekat dan berani. Diajak bagaimana dan apa saja, biasanya si Mandy tidak pernah menolak, kecuali mungkin berhubungan suami istri, entahlah, yang jelas, si Zul belum pernah dan tidak mau cerita, apakah ia pernah berhubungan seksual dengan Mandy.

Usman terkadang hanyut dalam imajinasi nakalnya. Mandy memiliki pesona tersendiri, di balik gaya tomboy dan sikapnya yang cenderung nekat. Ia kelihatan eksotis, dengan tubuh ramping dan kulit coklat hangat. Hidungnya yang mungil, mata besar beriris coklat gelap, dan bibir tipis merah jambu, perpaduan yang membuat wajahnya tampak manis. Ditambah rambut tebal ikal kehitaman, yang biasanya disisir belah tengah, membuat Mandy terlihat begitu menawan dan memesona.

Akan tetapi, Usman hanya mau berimajinasi saja, ia tidak mau merealisasikannya dalam dunia nyata, walaupun Usman yakin, Mandy tidak akan menolak, jika ia mengajaknya melakukan seperti yang diimajinasikannya tersebut. Selain itu, Usman tidak mau persahabatannya dengan Mandy rusak, gara-gara memperturutkan nafsu birahi.

Suatu hari, di awal tahun 1995, Usman kabur ke Jakarta, bersama Abu Sufyan dan Gresi. Selain frustrasi dengan lingkungannya, ada satu hal utama sebenarnya, yang membuat Usman bersedia menuruti ajakan dua temannya itu, untuk kabur ke Jakarta.

Beberapa bulan sebelumnya, setelah putus dari Agatha, karena jarang masuk sekolah, Usman juga menjauhi teman-teman Agatha, termasuk Mandy. Terkadang ketika Mandy datang ke rumahnya, Usman lebih memilih kabur lewat pintu belakang rumahnya, supaya tidak bertemu Mandy.

Terkadang ia bersembunyi di bawah tangga samping rumah. Dari tempat persembunyiannya itu, ia bisa melihat Mandy, yang kebingungan dan heran, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia tidak bisa menemui Usman.

Usman tidak mau bertemu, karena kecewa, mengapa Mandy tidak membantu mempertahankan hubungan cintanya dengan Agatha. Usman paham sekali, bahwa Agatha cenderung menurut, jika dinasehati oleh Mandy.

Baru saat beberapa bulan kembali ke Kampuang, dari pelariannya ke Jakarta, Usman paham mengapa Mandy tidak membantunya mempertahankan Agatha menjadi kekasihnya. Si Zul yang menceritakan hal itu di dalam kamarnya, di bawah ruang tamu rumah gadang milik keluarganya.

“Sebenarnya si Mandy suka padamu Man, hanya ia tidak enak untuk menyampaikannya langsung kepadamu.” jelas Zul pada Usman.

“Agatha kan temannya, karena itu Mandy tidak mau berterus terang, ia tidak ingin merusak pertemanannya dengan Agatha.” ucap Zul lagi, menambah penjelasannya.

Usman hanya terdiam dalam lamunannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya, setelah mendengar penjelasan dari Zul.

“Aku sebenarnya takut sama Mandy, Zul, habis dia terlalu agresif.” tutur Usman pada Zul, yang hanya merespon dengan tersenyum kecil.

Azan Maghrib, kemudian berkumandang, dari mesjid di depan rumah si Zul. Siang tadi, Usman dan Zul berkunjung ke rumah Mandy, untuk melayat Mandy, yang hari itu meninggal dunia, karena kecelakaan motor. Mandy dibonceng oleh Kasih, yang sedang diajari olehnya mengendarai sepeda motor, sebelum peristiwa nahas itu terjadi.

Kematian Mandy inilah, yang membuat Usman semakin yakin bahwa Kampuang sudah tidak layak lagi untuk ditinggali. Ia harus pergi sejauh-jauhnya dari Kampuang, pikir Usman. Sebuah perasaan tidak enak yang aneh, selalu dirasakannya di Kampuang, setelah Mandy meninggal. Perasaan itu muncul, setelah ia melihat jasad Mandy yang terbujur kaku, di rumah gadang milik orang tuanya, dengan kepala ditutup kain, supaya tidak kelihatan bentuk kepalanya yang sudah setengah hancur, akibat terlindas truk.

Dari si Martil, Usman paham, mengapa kecelakaan itu terjadi.

“Kasih memacu motor kencang sekali, di atas jalanan licin. Mereka terjatuh, sebuah truk kemudian merenggut nyawa Mandy.” ucap Martil lirih menceritakan kejadian nahas itu. Usman mendengarkan dalam diam. Dadanya terasa sesak, bulu romanya berdiri, ia seakan melihat dengan jelas saat-saat terakhir sahabatnya itu

Selain itu, Usman sangat marah pada Kasih, yang karena tindakan gegabah dan cerobohnya itu, membuat Mandy sahabatnya, harus kehilangan nyawa. Semenjak itu, ketika bertemu Kasih, Usman selalu mendiamkannya. Bahkan ketika disapa oleh Kasih, Usman tidak merespon sama sekali. Ia hanya memandangi gigi depan Kasih, yang pecah, gara-gara kecelakaan itu.

Sehabis Maghrib, si Zul berkata pada Usman, “Man, sepertinya malam ini kita jangan tidur di kamarku dulu.”

“Mengapa kita tidak tidur di kamarmu ini Zul?” tanya Usman.

“Si Mandy dulu pernah tidur di sini, saat itu malam, dan hujan deras, ia mampir ke kamarku, supaya tidak basah kehujanan. Karena hujan tidak berhenti sampai pagi, ia akhirnya tidur di kamarku. “

“Hah, yang betul Zul? Gila, kalian ngapain semalaman?” tanya Usman kaget dan ingin tahu.

“Tidak Man, kami tidak berbuat apa-apa, si Mandy kecapekan, sementara aku sudah mengantuk sekali, kala itu Man.” jawab Zul singkat.

Dalam hati, Usman sebenarnya tidak percaya, dengan kata-kata Zul. Pikirnya, kalau tidak berbuat apa-apa, mengapa dia takut di sini?

Mereka berdua, kemudian pergi berjalan ke rumah Usman, yang berjarak beberapa kilometer dari rumah si Zul. Di pasar, mereka berhenti sebentar di warung kopi. Di sana, Usman dan Zul minum kopi sambil makan pisang goreng.

“Benar, kalian tidak berbuat apa-apa, waktu itu Zul?” tanya Usman lagi, dengan penuh rasa penasaran.

“Aduh Man, iya, kau seperti tidak percaya sama aku. Kami memang pernah hampir melampaui batas dulu, tapi bukan di kamarku, Man. Sudahlah, tak usah dibahas lagi, tidak enak aku sama Mandy.” jawab Zul.

“Wah, nekat juga kalian, Zul, he-he-he.” ucap Usman, sambil tertawa.

Imajinasi Usman melayang, bayangan tubuh Mandy memenuhi otaknya. Tak terasa bulu roma Usman berdiri dibuatnya.

Sesampai di kamarnya, Usman berkata pada Zul, “Si Mandy juga sering ke sini dulu Zul. Di kamar ini, kami menghabiskan waktu berdua.”

“Waduh Man, kalau begitu, kita jangan tidur di kamarmu ini, malam ini Man. Ayo kita ke tempat Alan saja, di sana lebih aman. Lagipula kalau ada apa-apa, kan ada Hammir, anjing si Alan. Biasanya makhluk astral bisa dengan mudah dikenali anjing.” ucap Zul kepada Usman.

Mereka berdua pun kembali ke arah rumah si Zul, karena rumah Alan, tepat berada di samping rumah Zul. Di kamar Alan, mereka tidur malam itu. Untungnya, Alan baik sekali, tidak pernah menolak temannya yang ingin tidur di kamarnya.

Bertahun-tahun kemudian, di masa depan, Usman tersadar dalam lamunannya mengenang masa lalu. Di ruang tamu, ia memandangi jendela rumahnya. Hari sudah gelap, malam sudah datang dari tadi.

Ia masih membayangkan Mandy, sahabatnya yang sudah berpulang tiga puluh tahun yang lalu. Wangi tubuhnya masih teringat oleh Usman. Saat duduk berdekatan, Mandy terkadang merapatkan tubuhnya ke Usman. Biasanya, Usman hanya pura-pura cuek, dengan dada berdentuman.

Terakhir, Usman ingat, sahabatnya itu dulu datang ke kamarnya dalam balutan celana jeans dan kaos polo hitam ketat. Ia naik sepeda dari rumahnya, yang terletak dekat batas kota, jaraknya sekitar 5 kilometer, dari rumah Usman.

Saat itu, Mandy bercerita kepadanya, bahwa ia sedang jatuh hati pada seorang laki-laki, tetapi yang bersangkutan sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama padanya.

“Mengapa tidak kau nyatakan saja langsung rasa cintamu pada laki-laki itu, Mandy?” tanya Usman saat itu. Mandy yang ditanya, tidak menjawab pertanyaan Usman.

Baru sekarang, Usman tersadar, bahwa laki-laki yang dimaksud oleh Mandy itu adalah dirinya.

Usman menatap kegelapan malam di balik jendela rumahnya. Sosok Mandy yang cantik, seolah terlihat samar, selayaknya bayangan yang menolak hilang. Dengan gemetar, ditutupnya gorden, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[CERPEN] Adab Versi Babi yang Menginjak Kepala Kelinci

30 Nov 2025, 23:07 WIBFiction
ilustrasi menunggu

[PUISI] Jeruji Malam

30 Nov 2025, 19:22 WIBFiction
ilustrasi bintang

[PUISI] Risalah Hidup

30 Nov 2025, 05:04 WIBFiction
ilustrasi sketsa

[PUISI] Garis Abstrak

29 Nov 2025, 20:48 WIBFiction
ilustrasi buku

[PUISI] Membaca Tanda

29 Nov 2025, 20:07 WIBFiction
ilustrasi berdoa (pexels.com/Thirdman)

[PUISI] Tanpa Pamrih

29 Nov 2025, 19:07 WIBFiction
perempuan

[PUISI] Menyepi

28 Nov 2025, 20:48 WIBFiction
ilustrasi kecoa

[PUISI] Kecoa

28 Nov 2025, 18:57 WIBFiction
Tali berbentuk hati di atas buku

[PUISI] Rona Kata

28 Nov 2025, 05:15 WIBFiction
ilustrasi kucing

[PUISI] Kucing

27 Nov 2025, 21:22 WIBFiction