Jangan pernah berharap hidup itu adil.
Aku ingin kalian paham kalimat ini sebelum mulai membaca kisahku. Cerita ini dimulai dari sudut pandang pribadiku. Anonim, sebut saja itu namaku.
Menatap layar seharian membuatku hampir gila. Aku ingin bicara dengan rekan kerjaku, tetapi ia juga hampir gila. Aku hampir gila karena pekerjaanku sangat membosankan dan tidak bermakna. Sementara, rekan kerjaku hampir gila karena berpikir ia bisa menyingkirkanku dengan segala cara, termasuk tidak memberikanku ruang untuk berbicara.
Aku tidak punya teman di tempat kerja. Jangan menilai bahwa aku seorang introvert, si tertutup dan pendiam. Aku hanya berbeda dengan mereka semua yang ada disini. Aku datang untuk bekerja, tidak memakai barang-barang yang sedang viral dan tidak tahu banyak tentang trend media sosial. Aku hanya lebih banyak menonton film dengan rating dan ulasan bagus serta membaca buku.
Aku sungguh berusaha berbaur. Menurunkan ego dan standarku agar bisa diterima oleh rekan kerjaku. Aku malah ikut bergosip, padahal aku tidak terlalu peduli pada penampilan orang lain. Di atas penampilan, karakter adalah penilaian utamaku. Jika karaktermu bagus, kita pasti bisa berteman baik. Begitulah aku menemukan banyak sahabat di akhir umur dua puluhan.
Orang bilang sulit mendapatkan sahabat kan? Aku justru mempunyai sahabat baik di dunia orang dewasa yang keras ini.
Jadi, aku putuskan untuk mundur.
Kamu tidak salah dengar. Aku mundur dari lingkungan itu. Beberapa orang menyuruhku berpikir lagi. Seolah hidupku berakhir jika aku pergi tanpa pegangan apapun. Jujur, aku juga berpikir demikian, kok. Aku juga takut.
Untuk memulai kembali, aku mengumpulkan keberanianku berbulan-bulan. Aku melihat dengan jelas bahwa hidup memang tidak adil. Rasanya, aku harus bekerja tiga kali lipat dibandingkan orang lain. Dan orang yang taraf hidupnya ada di bawahku, bayangkan, berapa kali lipat dia harus bekerja dibandingkan diriku?
Maka, aku tidak mau mengeluh. Aku hanya ingin memulai kembali semuanya. Tanpa melihat umur, keadaan saat ini atau batasan yang kupunya. Aku berkata pada diri sendiri, “Tidak masalah untuk memulai kembali.”
Sekarang, aku disini berjalan seperti kura-kura.
Aku mengubah arah hidupku lalu berjalan terus.
Hanya terus berjalan.
Melakukan apa yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.
Namaku Anonim karena aku belum sampai pada tujuanku. Namun, keputusan berbeda yang kubuat setiap hari, pasti akan membawaku ke tujuan akhirku. Aku berharap kamu ingat bahwa tidak ada yang berubah dari hidupmu jika kamu tidak mengubah keputusanmu hari ini.
Perubahan tidak terjadi tanpa tindakan nyata.
Perubahan juga butuh waktu untuk menampakkan hasilnya.
Dunia ini tidak adil kan? Jadi, bertindaklah. Tak apa jika kamu tidak bisa berlari, kamu masih dapat berjalan. Berjalanlah terus sampai tujuanmu. Beberapa orang menyebut hal ini sebagai “Teori Kura-Kura”. Terserah, apa sebutannya, bukan? Yang penting lakukan saja sesuatu untuk masa depanmu.
Terimakasih, sudah bertahan.
Penuh hormat,
Anonim
2026
