Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] KKN di Lereng Merapi

ilustrasi hutan (pexels.com/@fez-brook-1587707/)
ilustrasi hutan (pexels.com/@fez-brook-1587707/)
Intinya sih...
  • Malam di Yogyakarta, Annie cerita pengalaman KKN di lereng Merapi
  • Annie melihat sosok misterius di pinggir jalan, temannya tidak melihatnya
  • Sosok mengerikan muncul di rumah mereka, mengganggu keluarga Usman dan Annie
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Malam itu Yogyakarta diselimuti hawa dingin sisa hujan deras yang baru saja reda. Jarum jam di dinding ruang tengah hampir menyentuh angka dua belas, menciptakan detak monoton yang terasa lebih nyaring di tengah kesunyian kota. Di ruang keluarga, tepat di samping meja makan kayu jati yang mulai kusam, Usman dan Annie masih asyik duduk berdua di depan televisi yang volumenya dikecilkan. Cahaya layar kaca memantul di dinding, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di sudut ruangan.

Tiba-tiba, Annie mematikan televisi. Keheningan mendadak terasa begitu padat. Ia menoleh ke arah Usman dengan tatapan ganjil. “Ayah, mau kuceritakan kisah KKN-ku dulu di sebuah desa di lereng Merapi?”

Usman sedikit terkejut, namun rasa penasarannya bangkit. Sebagai lulusan filsafat, ia selalu menyukai diskusi tentang pengalaman eksistensial, termasuk yang berbau mistis. “Mau sekali Bunda. Sepertinya seru mumpung suasananya lagi dingin begini,” jawab Usman antusias.

Namun, baru saja Annie hendak memulai, Usman merasa perutnya mulas. “Tapi sebentar ya Bunda, aku ke toilet dulu. Tiba-tiba kebelet sekali,” ucap Usman sambil terburu-buru beranjak. Langkah kakinya bergema di lorong rumah yang lembap. Di dalam toilet, ia sempat membasuh muka, mencoba mengusir kantuk yang mulai menyerang.

Sekembalinya Usman dari toilet, suasana di ruang tengah entah mengapa terasa bergeser. Annie sudah duduk lebih tegak, wajahnya tampak serius di bawah temaram lampu. Sebelum memulai, ia menatap mata suaminya dalam-dalam.

“Tapi, Ayah nanti jangan takut ya. Cerita ini bukan sekadar cerita.”

Usman terkekeh, mencoba mencairkan suasana dengan gaya sok beraninya. “Seram ya Bunda? Tidak apa-apa Bunda, aku hanya takut pada Tuhan. Masa cuma gara-gara cerita saja aku harus gemetar,” ucapnya jumawa, meski ia mulai merasakan debaran jantung yang tidak beraturan.

Annie menarik napas panjang, matanya menerawang jauh ke masa belasan tahun silam saat ia masih berada di ketinggian Merapi, tempat di mana kabut tidak pernah benar-benar pergi. “Jadi, suatu malam sehabis rapat pleno KKN yang melelahkan, aku dibonceng seorang teman melewati jalan setapak di tengah kebun salak. Jalan itu sangat sepi, tidak ada lampu penerangan selain lampu motor yang kuning redup. Di sana, di pinggir jalan yang rimbun, aku melihat ada sesuatu yang mirip mbah-mbah. Dia sedang berdiri mematung di bawah pohon. Tubuhnya tegap, tapi mukanya... hitam sekali, kayak gosong.”

Annie terdiam sejenak. Usman yang tadi tampak santai, kini mulai merapatkan duduknya ke arah Annie.

“Haah, siapa orang tua itu Bunda?” tanya Usman yang nyalinya mulai ciut.

“Itu dia Yah. Sebagai mahasiswa yang harus sopan, aku tetap menyapa. Saat motor lewat persis di depannya, aku bilang, ‘Monggo Mbah’. Tapi sesuatu itu diam saja. Dia tidak menoleh, tidak bergerak. Tapi suasananya langsung jadi dingin luar biasa,” Annie melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.

“Temanku yang memboncengku tiba-tiba panik. Dengan suara gemetar dia bertanya, ‘Kamu ngomong sama siapa sih, An?’. Aku jawab jujur, ‘Sama mbah yang berdiri di bawah pohon salak itu tadi’. Mendengar jawabanku, temanku makin histeris. Dia teriak, ‘Mbah yang mana? Tidak ada siapa-siapa di sana kok! Jalan itu kosong!’. Dia langsung memacu motornya secepat mungkin sampai kami tiba di posko dengan napas yang memburu.”

Usman menelan ludah dengan susah payah. Rasa haus mendadak menyerang kerongkongannya. “Lalu, siapa sebenarnya mbah-mbah itu Bunda? Penunggu kebun?”

Annie tidak langsung menjawab. Ia justru perlahan mengalihkan pandangannya dari wajah Usman menuju ke arah belakang punggung suaminya. Tatapannya menjadi sangat tajam dan dingin. “Pertanyaannya bukan siapa Yah, tapi apa.”

Suara Annie mendadak bergetar hebat. “Itu Yah... silakan Ayah tanya langsung saja ke makhluknya.”

Darah Usman seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Dengan gerakan kaku, ia perlahan menoleh ke belakang. Di sana, tepat di sudut ruangan yang gelap di samping lemari jati, telah berdiri sesuatu yang sangat mengerikan. Tingginya hampir menyentuh langit-langit, terbungkus kain kafan putih yang sudah kusam dan kotor oleh noda tanah. Di bagian kepalanya, terdapat ikatan tali yang mencuat kaku. Namun yang paling mengerikan adalah wajahnya: kulitnya hitam pekat, gosong, dan mengerut layaknya kayu yang habis dimakan api, dengan mata yang hanya berupa lubang gelap tanpa bola mata.

Bau menyengat kain terbakar dan tanah makam basah mendadak memenuhi ruangan. Usman membeku. Hawa dingin yang luar biasa menusuk tengkuknya, memberikan sensasi perih yang tak tertahankan.

"Bunda... jangan bercanda..." suara Usman nyaris tak keluar, hanya berupa bisikan parau.

Annie tidak menjawab. Ia justru menangis tanpa suara, matanya menatap lurus ke arah pintu kamar bayi yang perlahan terbuka sendiri. Dari balik kegelapan pintu itu, muncul Fatimah, putri bungsunya. Fatimah tidak merangkak secara normal. Ia muncul dalam posisi tegak namun bertumpu sepenuhnya pada lututnya yang mungil. Kedua tangannya tergantung kaku di samping tubuh, persis seperti posisi mayat yang diikat.

Bluk... bluk... bluk...

Fatimah meloncat-loncat kecil di atas lantai. Gerakannya patah-patah, kaku, dan ritmis. Ia menatap ke arah sosok berwajah gosong di belakang Usman dengan mata berbinar-binar kegirangan.

“Yang... cat... Yang... cat...” racau Fatimah sambil tertawa kecil.

Suara cadal bayi itu memecah keheningan malam yang mistis. Fatimah sedang memanggil "Eyang" untuk mengajaknya "Loncat". Setiap kali Fatimah meloncat, sosok gosong di belakang Usman itu ikut menganggukkan kepalanya yang terbungkus tali kafan kusam. Annie menangkup wajahnya, terisak pelan. “Dia tidak pernah tertinggal di Merapi, Yah. Selama ini dia bersembunyi di rumah kita, dan sekarang... dia sudah punya teman baru.”

Tiba-tiba, dalam sekejap mata, sosok itu menghilang. Usman yang dilanda ketakutan luar biasa langsung refleks berdiri dan menyambar Fatimah. Ia mendekap anaknya itu dengan sangat erat, merapal Ayat Kursi dengan suara bergetar. Namun, Fatimah masih saja tertawa cekikikan, bibirnya masih bergumam ganjil, “Yang…cat, Yang…cat.”

Usman memutar otak dengan panik. Ia berkata pada istrinya, “Bunda, tolong pegang Fatimah sebentar. Aku mau browsing bagaimana caranya mengusir makhluk ini!”

Usman merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel pintarnya dengan tangan gemetar. Namun, baru saja ibu jarinya menyentuh layar, sebuah suara berat, serak, dan sangat rendah terdengar bergema di seluruh ruangan.

“Buat apa kau usir aku? Aku kan tidak mengganggu kalian.”

Usman membeku untuk yang kedua kalinya. Lidahnya kelu, tak tahu harus menjawab apa. Ruangan itu mendadak senyap, hanya menyisakan suara detak jantung Usman yang memburu. Sementara itu, jari Usman terus bergerak sendiri, men-scroll layar HP tanpa arah di bawah tatapan tak kasat mata yang kini menetap permanen di rumah mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[CERPEN] Susu Jahe di Tengah Gelap

18 Jan 2026, 15:31 WIBFiction
Ilustrasi gambar

[PUISI] Pena dan Kertas

18 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi berdoa

[PUISI] Menggugat Doa

18 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi bulan sabit

[PUISI] Bulan Sabit

17 Jan 2026, 21:17 WIBFiction
ilustrasi menghadap laut

[PUISI] Palung Batin

16 Jan 2026, 20:07 WIBFiction
ilustrasi kertas putih

[PUISI] Halaman Kosong

14 Jan 2026, 20:17 WIBFiction