[CERPEN] Susu Jahe di Tengah Gelap

- Seorang pemuda membeli susu jahe hangat di angkringan pada malam gelap yang sunyi.
- Pemuda tersebut diserang oleh sosok misterius, tetapi selamat dengan luka dangkal setelah kejadian mengerikan di angkringan.
- Keesokan harinya, pemuda mengalami mimpi buruk dan menemukan tanda-tanda kehadiran sosok misterius di rumahnya.
Di suatu malam yang gelap, aku berjalan menyusuri perumahan yang sunyi. Tak satu pun lampu menyala, hanya secuil cahaya lilin di setiap rumah. Udara dingin menusuk kulitku yang hanya dilapisi kemeja tipis. Jalanan basah karena hujan deras mengguyur sore tadi. Aku terpaksa harus berjalan pelan-pelan di tengah kegelapan sepi ini.
Dari kejauhan aku melihat sebuah angkringan yang masih buka. Dua orang bapak sedang duduk dan asyik mengobrol ditemani cahaya lilin redup. Aku mampir untuk membeli secangkir susu jahe hangat dan meneguknya hingga tandas. "Hati-hati, ya. Sudah larut malam," ujar ibu pemilik angkringan. Aku mengangguk tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Aku pergi meninggalkan angkringan tersebut dan tak sengaja menabrak seseorang. Aku mengucapkan maaf, tetapi orang itu melenggang begitu saja menuju angkringan. Ia memakai pakaian serba hitam, mengenakan masker, kedua tangannya tersembunyi di saku hoodie seakan menyembunyikan sesuatu, dan baunya seperti susu jahe—orang aneh, batinku.
Tak lama, aku mendengar teriakan ibu pemilik angkringan. Aku berlari kembali dan terkesiap melihat pemandangan di sana. Salah satu bapak bersimbah darah di bagian dada dan perutnya, sementara yang lain sedang bergelut dengan orang misterius yang kutemui tadi. "Hei, hentikan! Siapa kau?!" Teriakku sedikit gemetar sambil berpura-pura menelepon polisi. Orang itu menoleh dan menyeringai. Tiba-tiba ia menusuk bapak tersebut di bagian leher, darah muncrat membasahi wajahnya.
Ia kemudian berjalan ke arahku sambil menimang pisau tajamnya. Aku ingin lari, tapi tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Napasku memburu, dan suaraku tertahan di kerongkongan. Aku hanya bisa memejamkan mata, memasrahkan diri pada keajaiban. Kurasakan ia berdiri sangat dekat. Bilah pisau yang dingin menyentuh kulitku. Detik berikutnya, rasa hangat anyir merayap di sela jemariku sebelum akhirnya sosok itu melebur ke dalam kegelapan. Pandanganku mengabur, lalu semuanya gelap.
Keesokan harinya, aku terbangun oleh silau matahari yang menembus sela-sela gorden rumah sakit. Di samping tempat tidur, seorang polisi tampak sibuk mencatat sesuatu.
"Anda beruntung," gumam polisi itu tanpa mengalihkan pandangan. "Dua pria di angkringan itu tewas di tempat. Tapi Anda... dia hanya meninggalkan goresan dangkal di lengan Anda."
Aku menyentuh perban di tanganku. Rasa perihnya masih nyata, namun ada yang lebih mengganggu pikiranku. Mengapa dia membiarkanku hidup? Mengapa dia sempat menyeringai padaku seolah kami adalah kawan lama?
Saat polisi itu pergi, aku menemukan sebuah kertas di meja dan bertuliskan sesuatu.
"Susu hangatnya enak, kan?"
Seketika, seluruh tubuhku membeku. Sosok itu tidak hanya berada di sana bersamaku saat penyerangan, dia mungkin sudah mengamatiku sejak aku menyesap gelas pertamaku di angkringan.
Malam harinya, aku sudah berada di rumah seorang diri. Polisi menawarkan perlindungan sementara, namun aku menolaknya karena merasa tidak nyaman. Aku sempat keluar ke minimarket untuk membeli camilan. Namun dalam perjalanan pulang, listrik kembali padam. Lagi-lagi, aku terjebak dalam kegelapan. Aku memaksakan diri terus berjalan menuju rumah dibantu cahaya ponsel. Akhirnya, aku berhasil sampai di rumah dengan selamat meski bayang-bayang kejadian semalam masih terngiang dalam kepalaku.
Tepat saat hendak membuka pintu, aku mendengar keributan dari rumah di depanku. Karena penasaran, aku mencoba mengecek ke sana. "Permisi, apakah terjadi sesuatu?" Tak ada jawaban. Aku membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Rumah itu kacau balau. Di sebuah ruangan, aku melihat pemandangan mengerikan: sepasang suami istri tergeletak dalam genangan darah, dengan pecahan kaca mencuat di kepala sang suami.
Aku terpaku, nyaris tak bisa bernapas. Teringat akan anak mereka, aku segera mencari kamar sang anak tanpa suara. Di lantai dua, aku mengintip dari balik pintu setengah kaca. Sosok misterius itu berdiri menatap sang anak yang tertidur pulas. Keringat dingin membasahi tubuhku. Dalam keadaan seperti ini, lagi-lagi ponsel tidak berguna—tidak ada sinyal.
Dengan tangan gemetar, aku meraih vas bunga di atas meja dekat pintu. Napasku menderu, mencoba mengumpulkan sisa keberanian. Begitu sosok hitam itu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi ke arah sang anak, aku mendobrak pintu dan menerjangnya.
"Jangan!" teriakku pecah.
Vas itu kuhantamkan ke punggungnya, namun ia tak bergeming. Sosok itu berbalik dan menyeringai ke arahku. Aku mundur ketakutan, berlari menuruni tangga, namun malangnya aku tersandung hingga kakiku tertusuk pecahan kaca. Aku merangkak kesakitan, tapi sosok itu menerjang dan mencengkeram leherku dengan kekuatan yang tak sebanding, memperlihatkan kengerian di wajahnya yang tertutup masker.
Ponselku jatuh, memantulkan cahaya redup yang memperlihatkan kilatan pisaunya. Tanpa sepatah kata pun, ia menghujamkan bilah dingin itu tepat ke dadaku. Satu kali, dua kali, tiga kali hingga napas yang tadinya sesak berganti menjadi kosong. Dunia mulai memudar, sayup-sayup terdengar tangis sang anak, dan rasa hangat darah kembali menjalar di kulitku—persis seperti malam itu. Aroma susu jahe menyerbak dan pandanganku menggelap saat ia berbisik tepat di telingaku, "Waktumu habis."
Jantungku seakan meledak.
Aku tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh kemeja tipisku. Mataku menatap langit-langit kamar yang gelap. Kesunyian kamar ini terasa mencekam sebelum suara detik jam perlahan mengembalikan kesadaranku. Segera kuraba dadaku—tidak ada luka, tidak ada darah.
"Hanya mimpi..." bisikku parau, mencoba menenangkan jantung yang masih berpacu gila.
Aku bangkit untuk mengambil air minum. Namun, saat melewati cermin di sudut kamar, langkahku terhenti. Cahaya bulan menerangi lenganku. Di sana, melingkar rapi sebuah perban putih pada posisi yang sama persis dengan luka dalam mimpiku. Dan di atas meja rias, berdiri sebuah gelas berisi susu jahe dengan sobekan kertas di bawahnya:
"Tidurlah yang nyenyak. Aku masih di sini."


















