Mata bulat dan pipi yang merona. Pemandangan yang sulit diabaikan bagi seorang lelaki muda berambut ikal yang tengah berdiri mematung di antara gubukan prasmanan pesta pernikahan seseorang. Pandangannya terpaku pada gadis di seberangnya.
"Apa? Kenapa?!"
Menyadari gelagat tak biasa kawannya, gadis bermata bulat itu merasa risih dan terganggu. Namun, matanya yang membelalak berpadu dengan pipi tembamnya sama sekali tidak menyiratkan rona menakutkan bagi kawannya yang berambut ikal tersebut.
"Nggak, nggak apa-apa…," ucap lelaki itu sambil menyambar semangkuk es krim yang tersaji di salah satu meja gubukan prasmanan.
"Lucu, ya, mereka dulu musuh bebuyutan selama sekolah, jadi jodoh ternyata," ucap pria tersebut sambil menyendokkan es krim ke mulutnya. Pandangannya tertuju pada sepasang pengantin dengan busana keemasan yang tengah menyalami tamu-tamu yang begitu banyaknya.
Gadis di seberangnya, yang kini telah berpindah posisi ke sebelahnya, menanggapi obrolan tersebut dengan mengedikkan bahu. Tidak tahu harus berkomentar apa.
"Kalau kamu, rencana kapan?"
Bagi si gadis bermata bulat, pertanyaan itu bagai sambaran halilintar di siang bolong. Seketika, ia merasakan aliran darahnya mendidih di ujung kepala. Sontak, ia mendaratkan ujung sol sepatu haknya pada sepatu kulit kawannya yang bermulut lancang tersebut.
"Aduh, maaf, aku cuma bertanya," lelaki itu meringis kesakitan sambil menyelamatkan kakinya yang lain dari serangan sepatu hak milik sang gadis.
Gadis itu memicingkan matanya, "Bukan urusanmu," ujarnya galak.
"Ya udah maap, mau es krim?" lelaki tersebut menyodorkan segelas es krimnya pada sang gadis, sebagai permohonan maaf. Tanpa ragu, gadis itu menyambut tawaran kawannya. Ia memang penggemar es krim, dan itu adalah segelas es krim terakhir pada jamuan tersebut.
Gadis itu memakan es krim dengan lahap. Rautnya begitu riang, amarah yang baru saja terjadi seakan hilang ditelan lautan es. Lelaki di sampingnya tersenyum geli melihat tingkah kawannya tersebut.
"Gadis roller coaster," gumam lelaki tersebut pada dirinya sendiri. Ia terheran dengan perubahan suasana hati sang gadis yang begitu cepat, layaknya wahana roller coaster seketika dapat melaju tinggi menantang langit, kemudian menukik turun, seakan ingin menghujam bumi.
"Ayuk, nikah!" ujar pria itu spontan.
Mendengar ucapan tersebut, gadis itu lantas menatap tajam ke arah kawannya. Seakan dapat membaca kejadian selanjutnya, pria tersebut sigap melindungi kepalanya dari tamparan tas selempang sang gadis.
"Aku serius," kali ini, lelaki tersebut merendahkan nada bicaranya. Tatapannya yang meneduh menyiratkan kesungguhan.
"M-memangnya kita siapa? Kita cuma teman," menyadari lawan bicaranya mendadak serius, dengan alur pembicaraan yang tak pernah dapat ia tebak sebelumnya, gadis itu mendadak terbata. Ia mengerjap-ngerjap tak percaya.
"Lalu?" balas lelaki tersebut, masih dengan kesungguhan nada bicaranya.
Sesaat kemudian, keadaan justru berbalik. Lelaki tersebut dikejutkan dengan tatapan nanar dari sang gadis, reaksi yang tak pernah ia bayangkan.
"Aku tahu kau kini mulai menyukaiku hanya karena parasku, topeng riasanku," ucap gadis itu dengan sendu. Dalam kepala gadis itu, terputar ingatan masa lalu. Tentang olokan orang mengenai fisiknya-parasnya yang dinilai kumal, juga puluhan jerawat yang meradang di wajahnya.
Dan lelaki di sampingnya menjadi salah satu orang yang tetap hadir di sisinya, tanpa menghakiminya berdasarkan fisik semata. Bukan cinta tanpa syarat yang digaungkan di novel-novel ternama, melainkan karena lelaki tersebut merasakan keterikatan nasib yang setara, luka yang sama. Status lelaki tersebut sebagai anak seorang residivis membuatnya diperlakukan laksana seonggok sampah yang tak pantas diterima sosial.
Mereka tumbuh bersama, saling memperbaiki, hingga keduanya melanjutkan perjalanan masing-masing menuju masa depan yang dicita-citakan. Tahun demi tahun berlalu, sepucuk surat undangan pernikahan membawa mereka kembali bersua dan berkesempatan mengungkapkan rasa.
Mendengar ucapan gadis itu, lelaki tersebut menelan ludah, menampakkan tatapan yang seakan menggambarkan keterjutannya atas isi pikirannya sendiri.
"Sudah kuduga," gadis itu tersenyum getir, tampak seperti seringaian pilu berpadu dengan tangisnya yang hampir pecah. Ia tak menyangka hal ini begitu sensitif dan emosional baginya.
Wajar saja, perjalanannya tak terbilang mudah. Realita menumbangkan asa yang pernah bersemayam di antara bunga tidurnya. Hingga ia tak pernah berpikir untuk menemukan makna cinta di antara hari-harinya yang tersisa.
"Itu tak benar." Lelaki tersebut mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah manggis dari saku celananya. Ia membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Tampak, sebuah cincin keemasan dengan sebuah permata kecil yang berkilauan di tengahnya.
"Aku tak menyangka kau menjadi gadis yang serupawan ini sebelumnya," ia menggosok-gosokkan cincin tersebut di lengan kemejanya, "meski begitu, tekadku memang sudah bulat sedari awal."
"Tujuanku datang kemari memang ingin bertemu dan meminangmu," ia mengulurkan tangannya ke arah sang gadis. Cincin tersebut diletakkannya di telapak tangannya yang terbuka.
"Alasannya sudah jelas, hanya kau yang dapat menerimaku pada titik terendahku, seperti pada masa itu," sambungnya.
Sejenak setelah itu, hening menyelimuti keduanya. Telapak tangan sang lelaki yang menopang cincin berkilau tersebut tampak goyah dan gemetar. Seakan diliputi ketakutan akan sebuah penolakan.
Di sisi lain, sang gadis terenyuh dengan pengakuan sahabat masa kecilnya tersebut. Dengan malu-malu, ia menerima cincin itu. Tatapannya yang pilu, merekah menjadi binar tawa yang haru.
Mendapati perubahan rona wajah yang secepat itu, lagi-lagi sang lelaki tak dapat menahan senyumnya yang menggebu. Sambil dalam hatinya, ia berjanji dengan penuh untuk menjaga dan membahagiakan gadis roller coaster itu selalu.
![[CERPEN] Gadis Roller Coaster](https://image.idntimes.com/post/20260517/gadis-roller-coaster_d1340147-d162-4b9d-9282-e5402d5eb0db.jpg)