Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[CERPEN] Lentera yang Menyimpan Jalan Pulang

[CERPEN] Lentera yang Menyimpan Jalan Pulang
ilustrasi seseorang yang memegang lentera untuk penerangan (pexels.com/İslam Abruev)

Di sudut kamar kos yang sempit, Lila menemukan sebuah lentera tua di dalam kardus peninggalan pemilik sebelumnya. Kacanya agak kusam, pegangan besinya dingin, dan ada bau minyak samar yang anehnya tidak mengganggu. Lila hampir mengabaikannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak langsung membuang benda itu.

Malam itu, listrik tiba-tiba padam. Tanpa banyak pilihan, Lila menyalakan lentera itu. Api kecil muncul perlahan, berwarna kekuningan hangat. Aneh, cahaya dari lentera itu terasa lebih tenang dibanding lampu biasa, seperti memeluk ruangan dengan cara yang lembut.

Beberapa menit kemudian, Lila merasa suasana kamar berubah. Bukan gelap atau menyeramkan, tapi lebih… sunyi. Terlalu sunyi. Ia mendengar suara langkah pelan dari luar pintu, seperti seseorang berjalan tanpa ingin terdengar.

Lila membuka pintu dengan ragu. Lorong kos tampak sama seperti biasa, hanya lebih redup. Namun di ujung lorong, ada bayangan seseorang berdiri di bawah cahaya yang samar. Sosok itu tidak bergerak, hanya diam seperti menunggu.

“Siapa?” tanya Lila pelan. Tidak ada jawaban. Tapi entah kenapa, ia tidak merasa takut. Justru ada rasa penasaran yang menariknya untuk melangkah mendekat.

Setiap langkah terasa ringan, seolah lantai tidak benar-benar padat. Saat Lila sampai di ujung lorong, sosok itu perlahan memudar, seperti kabut yang tersentuh cahaya. Yang tersisa hanya angin pelan dan rasa hangat di dada.

Lila kembali ke kamar dengan lentera masih menyala. Ia duduk di lantai, memeluk lutut. Hidupnya akhir-akhir ini terasa berat, penuh tekanan kerja dan rasa lelah yang tidak pernah benar-benar hilang. Tapi malam itu, semuanya terasa sedikit lebih… pelan.

Keesokan harinya, ia mencoba menyalakan lentera itu lagi. Kali ini, tidak ada bayangan. Tapi setiap kali api kecil itu menyala, Lila merasa pikirannya lebih jernih, seperti ada ruang untuk bernapas.

Malam berikutnya, suara itu kembali. Langkah pelan, bayangan samar, lalu hilang saat didekati. Lila mulai terbiasa. Ia tidak lagi mengejar, hanya mengikuti sejauh yang ia butuhkan.

Suatu malam, ia memilih duduk saja di depan pintu, tidak bergerak. Ia menatap cahaya lentera di tangannya. Dalam diam, ia menyadari bahwa sosok itu tidak pernah benar-benar ingin ditemui.

Sejak saat itu, Lila mengerti. Lentera itu bukan untuk menunjukkan siapa yang ada di luar, tapi untuk menerangi apa yang ada di dalam dirinya. Rasa takut, lelah, dan hal-hal yang selama ini ia hindari.

Beberapa minggu kemudian, listrik tidak lagi sering padam. Lentera itu tetap ada di sudut kamar, kadang dinyalakan, kadang tidak. Tapi Lila tahu, ia tidak lagi benar-benar sendirian. Karena di antara cahaya kecil itu, ia akhirnya menemukan cara untuk pulang ke dirinya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera
Follow Us

Related Articles

See More

[CERPEN] Lentera yang Menyimpan Jalan Pulang

28 Apr 2026, 16:47 WIBFiction
[PUISI] Inang Benalu

[PUISI] Inang Benalu

27 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rumit

[PUISI] Rumit

26 Apr 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Sepi yang Berisik

[PUISI] Sepi yang Berisik

26 Apr 2026, 05:25 WIBFiction