[CERPEN] Lentera yang Menyimpan Jalan Pulang
![[CERPEN] Lentera yang Menyimpan Jalan Pulang](https://image.idntimes.com/post/20260428/pexels-i-slam-abruev-2157269750-34637944_b61cc2f6-72fb-44d3-aabe-a6fbd22a730e.jpg)
Di sudut kamar kos yang sempit, Lila menemukan sebuah lentera tua di dalam kardus peninggalan pemilik sebelumnya. Kacanya agak kusam, pegangan besinya dingin, dan ada bau minyak samar yang anehnya tidak mengganggu. Lila hampir mengabaikannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak langsung membuang benda itu.
Malam itu, listrik tiba-tiba padam. Tanpa banyak pilihan, Lila menyalakan lentera itu. Api kecil muncul perlahan, berwarna kekuningan hangat. Aneh, cahaya dari lentera itu terasa lebih tenang dibanding lampu biasa, seperti memeluk ruangan dengan cara yang lembut.
Beberapa menit kemudian, Lila merasa suasana kamar berubah. Bukan gelap atau menyeramkan, tapi lebih… sunyi. Terlalu sunyi. Ia mendengar suara langkah pelan dari luar pintu, seperti seseorang berjalan tanpa ingin terdengar.
Lila membuka pintu dengan ragu. Lorong kos tampak sama seperti biasa, hanya lebih redup. Namun di ujung lorong, ada bayangan seseorang berdiri di bawah cahaya yang samar. Sosok itu tidak bergerak, hanya diam seperti menunggu.
“Siapa?” tanya Lila pelan. Tidak ada jawaban. Tapi entah kenapa, ia tidak merasa takut. Justru ada rasa penasaran yang menariknya untuk melangkah mendekat.
Setiap langkah terasa ringan, seolah lantai tidak benar-benar padat. Saat Lila sampai di ujung lorong, sosok itu perlahan memudar, seperti kabut yang tersentuh cahaya. Yang tersisa hanya angin pelan dan rasa hangat di dada.
Lila kembali ke kamar dengan lentera masih menyala. Ia duduk di lantai, memeluk lutut. Hidupnya akhir-akhir ini terasa berat, penuh tekanan kerja dan rasa lelah yang tidak pernah benar-benar hilang. Tapi malam itu, semuanya terasa sedikit lebih… pelan.
Keesokan harinya, ia mencoba menyalakan lentera itu lagi. Kali ini, tidak ada bayangan. Tapi setiap kali api kecil itu menyala, Lila merasa pikirannya lebih jernih, seperti ada ruang untuk bernapas.
Malam berikutnya, suara itu kembali. Langkah pelan, bayangan samar, lalu hilang saat didekati. Lila mulai terbiasa. Ia tidak lagi mengejar, hanya mengikuti sejauh yang ia butuhkan.
Suatu malam, ia memilih duduk saja di depan pintu, tidak bergerak. Ia menatap cahaya lentera di tangannya. Dalam diam, ia menyadari bahwa sosok itu tidak pernah benar-benar ingin ditemui.
Sejak saat itu, Lila mengerti. Lentera itu bukan untuk menunjukkan siapa yang ada di luar, tapi untuk menerangi apa yang ada di dalam dirinya. Rasa takut, lelah, dan hal-hal yang selama ini ia hindari.
Beberapa minggu kemudian, listrik tidak lagi sering padam. Lentera itu tetap ada di sudut kamar, kadang dinyalakan, kadang tidak. Tapi Lila tahu, ia tidak lagi benar-benar sendirian. Karena di antara cahaya kecil itu, ia akhirnya menemukan cara untuk pulang ke dirinya sendiri.
![[PUISI] Upah yang Tak Pernah Utuh](https://image.idntimes.com/post/20260317/screenshot-2026-03-17-102436_e9d48926-e472-43f7-b59b-9aabacc39fbb.png)
![[PUISI] Aku Bukan Milik Ekspektasimu](https://image.idntimes.com/post/20260426/pexels-esrakorkmaz-17715824_f2a066e5-bff5-4baf-9e7d-a6dc484f0479.jpg)
![[PUISI] Tumbang di Ambang Temu](https://image.idntimes.com/post/20260427/tomas-hudolin-frpafdyanj8-unsplash_0176e9fd-5669-47a2-8589-cc146ae62c9b.jpg)
![[PUISI] Asap yang Kehilangan Nyawa](https://image.idntimes.com/post/20260420/pexels-photo-12090500_56cd9ed6-a458-4f30-90f3-23b598342cce.jpeg)
![[PUISI] Inang Benalu](https://image.idntimes.com/post/20260418/pexels-cottonbro-6764111_a32be83e-fbb2-4bff-a94e-e69825837bad.jpg)
![[PUISI] Memoir dalam Tetes Hujan](https://image.idntimes.com/post/20260420/pexels-chetanvlad-1529360_0da6768a-2cf6-4e86-af89-b7917607d14d.jpg)
![[PUISI] Rumit](https://image.idntimes.com/post/20260421/pexels-prasanthinturi-4151498_37931d41-4b2a-461b-b49b-27f94755a5a5.jpg)
![[PUISI] Sepi yang Berisik](https://image.idntimes.com/post/20260420/pexels-burst-373914_e830a8a0-209e-45c7-9786-7fe818d5c577.jpg)
![[PUISI] Jejak Hangat di Dinding Rumah](https://image.idntimes.com/post/20260418/pexels-munis-asadov-414047487-17104199_c4ff3ca0-670b-4def-86a9-da503ede95fd.jpg)
![[PUISI] Dihakimi di Rumah Sendiri](https://image.idntimes.com/post/20240104/pexels-peter-holmboe-18121478-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-8157dc570f86891d2ceae6f55989e291.jpg)
![[PUISI] Jika Uang Bukan Masalah](https://image.idntimes.com/post/20260423/black_sea-book-7431063_1920_0311c0a5-d7e6-4a0d-9eec-64c2f94233f4.jpg)
![[PUISI] Tentang Pulang yang Hanya Berani Kuingat](https://image.idntimes.com/post/20260412/ilustrasi-pulang_80ac8a44-c46f-4008-9094-7deae6936ea4.jpg)
![[PUISI] Rindu dalam Lembar Resep](https://image.idntimes.com/post/20260422/pexels-prolificpeople-29666891_d9979c46-0737-49d3-8f59-09a808edca22.jpg)
![[PUISI] Hening yang Menjadi Rumah](https://image.idntimes.com/post/20260413/pexels-andrew-3132388-2_f7f6a7c5-d606-4f06-a12b-8026db78a220.jpg)
![[PUISI] Teratai di Tengah Arus](https://image.idntimes.com/post/20260423/jay-castor-7acmusyrzpu-unsplash_3bf9f325-2778-4909-a76d-ea77beb7cd69.jpg)
![[PUISI] Perempuan di Tengah Badai](https://image.idntimes.com/post/20260421/pexels-yaroslava-borz-126286496-10012550_d413b09f-cc6b-46f1-8d9e-c730c8bf3ab1.jpg)
![[PUISI] Bulan Paling Sempurna](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-matoga-6512981_1f621aca-404f-446a-86ec-ed3a7166c7e2.jpg)
![[PUISI] Sajak di Balik Jendela](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-ufoops-8271868_cbdcfc08-a64f-4f1f-ad8e-595f7198d6db.jpg)
![[PUISI] Berjuta-juta, Membuat Gila](https://image.idntimes.com/post/20260421/idntimes_e70cc75c-8e45-4aca-9e9d-464bc730fed9.jpg)