Minggu pagi dihiasi dengan langit gelap. Yuka, Lani, Moona, dan Tomi hendak pergi ke perpustakaan kota. Mereka berkumpul di taman dekat rumah Yuka dengan membawa sepeda masing-masing. Mereka memutuskan untuk mengambil jalan lain dari biasanya—melewati jalan dengan pepohonan rindang. Sebelum berangkat, Lani dan Yuka membeli beberapa camilan dan minuman di toko kelontong untuk dibawa dan dimakan di taman perpustakaan nanti.
Pukul 09.00, mereka semua pun mulai mengayuh sepedanya secepat mungkin, mengalahkan kecepatan kilat yang sedang menari-nari di langit gelap. Angin berembus kencang seakan ingin menerbangkan apa pun di sekitarnya. Suara guntur bergemuruh, memberikan peringatan bahwa hujan akan segera turun.
Di tengah perjalanan, topi kesayangan Tomi tiba-tiba lepas tertiup angin. Tomi yang menyadarinya langsung berbalik arah. "Kalian duluan saja! Aku harus mencari topiku!" teriak Tomi sambil memutar balik sepedanya. "Astaga, Tomi! Lani, Yuka, ayo kita susul dia!" ajak Moona khawatir melihat Tomi sendirian.
Mereka akhirnya menemukan Tomi di dekat sebuah bangunan tua yang aneh namun terlihat sangat terawat. Tomi tampak berbinar karena berhasil mengambil topinya yang tersangkut di atas pohon mangga. Moona, Yuka, dan Lani hanya bisa menghela napas pasrah. Tiba-tiba, hujan turun dengan sangat deras. Mereka terjebak di bawah pepohonan. Yuka mengajak mereka berteduh di bangunan tua tersebut. Lani awalnya menolak karena takut, namun setelah diejek "penakut" oleh Tomi, ia terpaksa mengiyakan dengan hati ragu.
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam saja? Rumah ini terlihat sangat terawat, pasti ada orang di dalam. Aku sudah kedinginan dan lapar," ujar Tomi sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk mencari sedikit kehangatan.
"Tidak! Kita di luar saja. Kita tidak tahu ada apa dan ada siapa di dalam. Barangkali ada seseorang yang lewat dan bisa membantu kita. Jadi, bukankah lebih baik menunggu di sini saja?" Lani menolak mentah-mentah ucapan Tomi. Moona pun terlihat mengangguk-angguk setuju dengan Lani. Sedangkan Yuka hanya berdiam menatap teman-temannya berdebat—pemandangan yang sudah biasa.
"Ah, kalian ini... bilang saja takut. Kalau begitu, aku saja yang masuk, ya," seru Tomi. Ia melenggang pergi meninggalkan teman-temannya dan memasuki bangunan tua tersebut. Saat Tomi membuka pintu, alangkah terkejutnya ia disambut dengan ruangan besar dengan deretan rak buku layaknya perpustakaan. Tomi segera memanggil teman-temannya untuk memasuki bangunan tersebut. Namun, mereka semua hanya mengacuhkannya. Tomi yang merasa tidak dipedulikan pun akhirnya terpaksa menarik tangan teman-temannya untuk melihat apa yang dilihatnya.
"Astaga! Ruang apa ini? Kenapa banyak sekali buku? Apakah ini perpustakaan? Tapi mana mungkin ada perpustakaan sebagus ini di tengah-tengah hutan?" Ribuan pertanyaan menghunjam dari seorang Lani. "Kau benar, Lani. Aneh, tapi ruangan ini unik sekali," timpal Moona.
Mereka berempat memasuki ruangan tersebut dengan penuh kagum. Deretan buku tersusun rapi dalam rak sejauh mata memandang. Aneka benda kuno dan replika fosil hewan purba layaknya museum sejarah—perpaduan unik antara perpustakaan dan museum di tengah hutan membuat mata mereka berbinar. "Tuh, kan. Apa kubilang, tidak ada yang menakutkan. Kita baca buku di sini saja sambil menunggu hujan reda," ujar Tomi berlagak seolah ia yang menang. Kali ini semuanya setuju dengan Tomi.
Mereka mengelilingi area perpustakaan ditemani detak jam dinding dan alunan melodi hujan. Sesekali mereka berlarian di antara rak-rak besar yang berbaris. Di sela-sela waktu bermain, Moona menemukan sebuah ruangan kecil. Moona memasuki ruangan tersebut dan menemukan buku-buku kuno yang unik dan aneh. Saat hendak keluar, tiba-tiba Moona tak sengaja menjatuhkan satu buku yang sangat misterius dan berbeda dari buku yang lain. Yuka, Lani, dan Tomi menyusul Moona setelah dipanggil dan mereka juga merasakan hal yang sama. Buku itu seakan memanggil mereka untuk membukanya.
Tomi yang selalu penasaran, tiba-tiba membuka buku tersebut tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Cahaya terang muncul dari buku tersebut hingga menyilaukan mata. "Tomi!" teriak Yuka, Lani, dan Moona bersamaan. Ruangan kembali seperti semula. Namun, di luar ruangan terdengar ramai seakan banyak pengunjung. Yuka yang menyadari pun membuka pintu ruangan dan terperangah. Suara riuh yang mereka dengar bukanlah suara manusia, melainkan suara gesekan tulang yang mengerikan dan raungan rendah yang menggetarkan lantai—segala benda-demda sejarah dan fosil yang ada kembali hidup.
"Tomi, apa yang sudah kamu lakukan?" ucap Lani dengan suara bergetar. Tomi hanya bisa berdiri kaku. "Aku hanya ingin tahu isi bukunya... aku tidak tahu kalau fosil-fosil ini akan bangun!"
Yuka menenangkan teman-temannya dan mencoba membuka-buka bukunya untuk mencari solusi. Ia akhirnya mengerti bahwa buku tersebut adalah buku ajaib, di mana mereka harus menyelesaikan teka-teki dan mendapatkan batu permata untuk bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Mau tak mau mereka harus keluar dari ruangan tersebut untuk menyelesaikan teka-tekinya.
"Ayo, kita harus keluar dari sini sebelum jam 12 siang. Kalau kita tidak menyelesaikan teka-tekinya, kita akan terjebak di sini selamanya," ucap Yuka meyakinkan teman-temannya.
"Tapi..."
"Ayo, Lani tak perlu takut. Kita pasti bisa melakukannya," Moona menenangkan Lani yang masih ketakutan. "Dan kau, Tomi. Jangan melakukan hal-hal yang aneh, ya!" Yuka menatap tajam Tomi. Tomi hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Mereka mulai keluar dari ruangan kecil itu. Di hadapan mereka, perpustakaan yang tadinya tenang kini berubah menjadi kekacauan purba. Fosil hewan purba ada di mana-mana. Kerangka gajah purba berjalan berat hingga membuat rak buku bergoyang hebat, sementara fosil T-rex tampak mengintai dari balik bayangan lorong.
"Moona, coba buka bukunya!" seru Yuka menunjuk ke buku yang dipegang Moona. Tiba-tiba sebuah tulisan cahaya muncul, menandai dimulainya tantangan pertama: "Aku memiliki akar yang tak terlihat, lebih tinggi dari pohon mangga, namun tak pernah tumbuh."
"Gunung!" teriak Tomi. "Tapi di mana kita bisa menemukan gunung?" Tomi keheranan. Ternyata Lani sempat melihat ada replika gunung purba di ujung lorong. Mengetahui hal itu, mereka semua langsung menuju ke sana dengan penuh hati-hati. Namun, tanpa diduga seekor kerangka T-rex menyergap mereka dengan rahang terbuka dan suara keras. Tanpa pikir panjang, mereka berlari sekuat tenaga mencari jalan lain untuk menghindari terkaman T-rex yang kelaparan.
Setelah hampir satu jam bermain kejar-kejaran dan petak umpet, mereka melihat secercah cahaya di ujung lorong tempat replika gunung purba berada. Saat jarak mereka mulai dekat, Tomi segera menyambar cahaya tersebut tanpa pikir panjang. Mereka semua terjatuh dan saat itu juga T-rex yang tadinya mengejar tiba-tiba diam tak bergerak. "Huft, akhirnya kita berhasil," ucap Lani sambil menyeka peluh di dahinya.
Belum lama beristirahat, mereka telah berpindah lokasi yang berbeda dan buku kembali terbuka menampilkan teka-teki berikutnya: "Aku selalu lari tanpa kaki, punya mulut tapi tak bisa bicara."
"Sungai!" sahut Lani. "Ya ampun... aku sudah sangat lelah," keluh Tomi.
"Ayo kita ke lantai atas. Lihatlah, ada tanda di sana!" ajak Moona sambil menunjuk tangga kayu yang dikelilingi tanaman merambat. Mereka semua mulai menaiki tangga tersebut dengan napas yang tersengal-sengal.
Menit demi menit berlalu, namun mereka tak kunjung sampai seakan mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama. "Sepertinya ini jebakan... tangga ini tidak ada ujungnya!" seru Tomi frustrasi. Namun, Yuka menyadari sesuatu; mereka harus terus berlari tanpa keraguan. Begitu mereka mempercepat langkah secara bersamaan, ilusi itu pecah dan mereka tiba-tiba sudah berada di lantai atas.
Saat mereka mulai mencari sungai, mumi yang sebelumnya masih tergeletak di peti kaca mendadak hidup setelah dilewati mereka. Sontak mereka terkejut dan mulailah kejar-kejaran tahap kedua. "Kenapa kita selalu sial begini?! Sepertinya mumi itu mantan atlet lari," Tomi sempat-sempatnya mengeluarkan leluconnya. "Berisik kau, Tomi!" Lani menimpali.
Mereka lalu bersembunyi di balik sela sempit rak buku. "Lihat! Ada petunjuk di buku ini. Kita harus mengembalikan mumi itu ke petinya." Moona menemukan petunjuk setelah buku itu mengeluarkan sinyal cahaya. "Dalam keadaan seperti ini, kita harus mengalihkan perhatian mumi itu untuk mendekati petinya," pikir Yuka. "Tapi siapa yang akan melakukannya?" tanya Tomi. Semua mata tertuju pada yang bertanya.
Tomi mengalihkan perhatian mumi sedangkan Yuka, Lani, dan Moona mulai memindahkan peti mumi menuju dekat balkon. Tomi berlari kencang menuju arah mereka bertiga dan dengan gesit Tomi tiba-tiba berbelok arah bersembunyi di balik balkon, sedangkan mumi tersebut justru masuk kembali ke peti kacanya—kembali tidur dengan tenang. Mereka semua jatuh kelelahan dan tertawa.
"Tunggu, bukankah terdengar suara percikan air? Sepertinya dari arah sana. Ayo kita cek!" Yuka berseru. Mereka semua segera menuju sumber suara tersebut. Ternyata, tanaman merambat yang sangat lebat—yang entah dari mana asalnya—telah menutupi tangga yang sebelumnya mereka naiki. Namun, saat mereka menyibakkan dedaunan hijau itu, mereka terbelalak. Tangga kayu itu telah menghilang, berubah menjadi aliran sungai kecil yang mengalir jernih, seolah-olah lantai perpustakaan itu menyatu dengan alam purba.
"Tangga kita... jadi sungai?" gumam Moona takjub.
Di tengah aliran sungai kecil yang mengalir di sela-sela anak tangga yang kini berbatu itu, sesuatu berkilau dengan sangat terang. Cahaya biru safir memancar dari dasar air yang jernih. "Lihat! Itu permata airnya!" tunjuk Lani. Tanpa memedulikan sepatu mereka yang basah, mereka mendekat. Lani nekat merogoh dasar air yang sedingin es di antara bebatuan kali dan fosil ikan purba yang ikut muncul secara ajaib. Ia berhasil mengambil permata air yang jernih itu.
Cahaya muncul dari buku dan keadaan sekitar berubah lagi. Mereka kembali ke lantai dasar perpustakaan. Tapi anehnya, suasananya sangat sepi, tidak ada fosil dan kerangka yang hidup—hanya ruangan luas dan rak-rak buku yang berjejer rapi. Buku yang mereka bawa tidak mengeluarkan cahaya teka-teki terakhir. "Apakah sudah selesai? Tapi kenapa pintunya masih tidak bisa dibuka?" tanya Lani keheranan. "Benar, sebentar lagi tengah hari. Kalau kita tidak bisa menemukan dan menjawab teka-teki terakhir, kita akan terjebak di sini," gumam Moona khawatir.
Yuka membolak-balikkan halaman buku dan frustrasi. Tomi yang sedari tadi memegang batu permata melihat pola aneh di belakang buku. "Berikan buku itu!" Tomi menyambar buku yang sedang dipegang Yuka dan mulai menyusun kedua batu permata itu sesuai pola yang ada. "Polanya sesuai!" seru Tomi kegirangan.
Satu, dua, tiga detik. Buku itu kembali bercahaya namun padam lagi. Hanya angin lembut yang tiba-tiba berlalu mengelus mereka. Mereka semua hanya menghela napas pasrah, merasa usaha mereka telah sia-sia.
Tiba-tiba, di ujung lorong gelap yang sepi, muncul sepasang mata keemasan yang menyala. Suasana yang tadinya hening berubah mencekam saat terdengar suara langkah kaki yang berat namun anggun. Dari kegelapan, muncul kehadiran seekor singa jantan berbulu emas. Bulunya berkilau seolah memancarkan cahaya matahari sendiri, menerangi lorong yang suram itu.
Singa itu tidak mengaum. Ia justru berjalan mendekat dengan tenang hingga berdiri tepat di depan mereka. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, membuat mereka semua terdiam mematung dan mundur perlahan.
"Kalian mencari yang terakhir?" suara singa itu terdengar berat, menggema di seluruh ruangan. "Tenang saja. Aku tidak akan memakan kalian. Justru aku akan membantu kalian," ucap singa tersebut. "Bagaimana kami bisa mempercayaimu?" tanya Yuka dengan menaruh perasaan curiga.
"Permata itu tidak tersimpan di tempat yang bisa kalian lihat dengan mata, melainkan tersimpan di dalam apa yang baru saja kalian hembuskan." Yuka, Tomi, Lani, dan Moona saling pandang, masih bingung dengan maksud sang singa.
"Pikirkanlah," lanjut sang singa sambil menatap mereka satu per satu dengan bijaksana. "Tak terlihat namun dirasakan, awal dari kehidupan dan akhir dari setiap ucapan. Tanpa itu, kalian tidak akan bisa berdiri di sini. Apakah itu?"
Yuka terdiam sejenak, ia teringat bagaimana tadi mereka semua menghela napas pasrah secara bersamaan tepat sebelum singa ini muncul. Ia merasakan dadanya yang naik-turun, udara yang mengalir masuk dan keluar secara alami dari tubuhnya.
"Napas!" seru Yuka lantang.
Seketika, angin lembut yang tadi sempat berlalu berubah menjadi pusaran angin kecil yang berkumpul di telapak tangan sang singa. Dari tengah pusaran itu, muncul permata terakhir yang bening dan transparan. Singa emas itu mengangguk perlahan, menyerahkan permata terakhir tersebut kepada Yuka.
Yuka pun segera meletakkan permata itu pada lubang terakhir di sampul buku. Cahaya putih yang terang menyambar, dan seketika ruangan kecil tempat mereka pertama kali menemukan buku itu muncul kembali di hadapan mereka. Namun, bersamaan dengan itu, dinding perpustakaan seolah runtuh dan kerangka T-rex, mumi, serta kerangka hewan purba lainnya datang berbondong-bondong menyerbu ke arah mereka dengan raungan yang memekakkan telinga.
"Cepat! Waktu kalian hampir habis!" perintah sang singa dengan suara menggelegar.
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berempat berlari melompati tumpukan buku yang berserakan. Tomi sempat hampir saja tertangkap oleh cengkeraman mumi, namun Yuka menarik tangannya tepat waktu. Mereka melompat masuk ke dalam ruangan kecil itu tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas. "Terima kasih, Singa!" teriak mereka bersamaan. Raungan sang singa terdengar menggelegar seakan menjawab ucapan terima kasih dari mereka.
BRAAAK! Pintu ruangan itu tertutup otomatis, meredam suara raungan di luar. Keheningan total menyergap. Cahaya terang muncul dari buku tersebut dan menelan mereka semua. Mereka duduk dengan napas tersengal-sengal dan lalu terbaring karena kelelahan.
Saat mereka membuka mata, mereka sudah berada di teras luar. Hujan telah reda dan matahari bersinar cerah. Bangunan itu kembali sunyi, dan singa tadi telah kembali menjadi patung batu yang diam.
"Kita... kita berhasil?" gumam Moona tak percaya. Lani terduduk lemas di lantai teras. "Tadi itu... nyata, kan? Aku... aku tidak mau ke perpustakaan lagi kalau jalannya lewat sini." Tomi membetulkan topinya dan nyengir, "Nyata atau tidak, setidaknya petualangan ini lebih seru daripada sekadar baca buku di perpustakaan kota."
Yuka melihat sekitar, namun buku misterius dan ketiga permata itu telah menghilang tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah sebuah patung singa yang berdiri gagah di samping pintu masuk dan keheningan perpustakaan tua, seolah-olah petualangan menegangkan tadi hanyalah sebuah mimpi panjang di siang bolong.
"Loh, sejak kapan ada patung singa di depan? Perasaan saat pertama kali kita datang tidak ada," ujar Moona terlihat kebingungan. "Sejak kita berhasil menyelesaikan teka-tekinya," timpal Yuka. "Sudahlah, ayo berangkat, sebelum perpustakaan kota yang asli benar-benar tutup," lanjutnya.
Yuka tersenyum melihat patung singa itu yang seolah berkedip padanya. Mereka pun segera menaiki sepeda dan melanjutkan perjalanan, membawa rahasia besar tentang perpustakaan ajaib di tengah hutan.
