Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Perempuan Bermantilla Putih

https://unsplash.com/photos/woman-wearing-white-scarf-QsTGgW6RoLI
ilustrasi perempuan bermantilla putih (unsplash.com/@lunarts)
Intinya sih...
  • Seorang perempuan berjalan sendirian di taman dengan buket bunga mawar merah, namun ia membuangnya dengan marah dan kemarahan.
  • Perempuan tersebut mengenakan mantilla putih sebagai simbol harapan, namun ia menolak cinta dan kasih dari orang lain serta Tuhan.
  • Ia terus mengucapkan kebencian pada dirinya sendiri dan menolak cinta dari siapapun yang mencoba mendekatinya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selamat merasakan api panas yang tersimpan, semoga seiring berjalannya waktu, benih cinta yang tersimpan tidak ikut terbakar habis.

Senja mulai menghampiri. Perempuan itu beranjak dari bangkunya. Ia berjalan dengan buket bunga di genggaman tangannya. Matanya menyusuri sisi kanan taman itu. Pandangannya terhenti pada tempat sampah kosong yang mengundang dirinya. Perempuan itu membuang buket bunga mawarnya.

Mawar merah yang cantik itu terbuang sia-sia.

Perempuan itu menatap nanar buket itu. Namun, dalam sekejap matanya memancarkan kemarahan. Hatinya mulai memanas dan tangannya mulai mengepal dengan kuat. Ia beranjak dari situ dan berjalan kembali. Langkahnya begitu tegas. Rahang dan sudut wajahnya mengeras. Matanya menatap lurus ke depan, begitu tajam dalam memandang apapun di depannya.

Salah satu tangannya memegang mantilla putihnya. Karena angin cukup kencang, menggoyahkan mantillanya yang sebelumnya melingkupi kepalanya dengan rapi. Perempuan itu keluar dari taman kemudian menyusuri jalanan kota. Hari itu begitu sepi. Gambaran yang tepat dari dalam dirinya.

Sekarang, apa lagi? Kamu tahu kan’ jika aku membencimu. Maka, diamlah, jangan meminta apapun dariku. Diam, hari ini kamu tidak perlu meredakan laparmu. Tahan. Ini hukuman untukmu. Aku membencimu, enyahlah kau.

Perempuan berisik.

Bibir merahnya merapalkan kalimat penuh cinta pada dirinya sendiri. Perempuan itu begitu mengasihi dan memberikan apapun untuknya. Dalam bentuk yang berbeda. Ia berjalan dengan langkah yang terburu-buru. Seolah-olah sedang mengejar sesuatu. Perempuan itu sedang menjemput kemarahan yang lebih besar.

Kemarahan adalah makanan yang mengenyangkan dirinya.

Sorot matanya sangat tajam. Namun, jika manusia lain melihat lebih dekat, mereka bisa menemukan air mata yang menggenang. Mereka pun akan menemukan telapak tangan yang bergetar.

Sayangnya, tidak ada manusia lain yang melihat perempuan itu.

Mantilla putih itu adalah simbolis harapan. Bahwa, perempuan itu berserah pada Tuhan yang bersamanya. Termasuk harapan untuk bisa merasakan kedekatan dan kasih dari Tuhannya. Namun, perempuan itu tidak bisa. Ia begitu keras sehingga tidak bisa memasrahkan hidupnya dan merasakan kasih apapun itu.

Perempuan itu berjalan sebagai api panas yang membakar apapun, termasuk dirinya. Maka, dalam hidupnya, ia berjalan sendirian. Dirinya sendiri ia bakar, bagaimana bisa berjalan dengan orang lain yang ikut terbakar oleh karena api panasnya?

“Kamu membutuhkan cinta.” Ucap seseorang yang ia jumpai.

Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu jatuh cinta atau merasakan cinta dari sudut manapun di dunia ini. Berhentilah untuk menangis. Berhentilah untuk meminta seseorang atau beberapa orang untuk terus berada di dalam hidupmu.

Aku membencimu, kau tahu itu kan?

Maka, diamlah. Saat kamu membuka mulutmu dan mengais cinta, kamu menjadi mesin penghancur. Cukup hancurkan dirimu sendiri, jangan orang lain atau sesuatu yang kamu cintai itu. Berhentilah. Aku mau kamu diam di situ.

Aku membencimu, diamlah.

Sudah berapa orang yang kamu hancurkan? Dasar perempuan tidak berguna. Perempuan itu terus melantukan lagu cinta yang ia ciptakan khusus untuk dirinya sendiri. Begitu hangat, begitu indah, sungguh manis sekali.

Oh Tuhan, aku tidak tahu harus mengeluarkan apa dari mulutku yang kejam ini.

Tuhan, angkatlah kebencian ini dari seluruh diriku.

Ia telah mengakar dan menjalar begitu kuat.

Lepaskan ini Tuhan, sungguh, aku memohon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Pertentangan Liat

02 Feb 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi berdiri di atas panggung

[PUISI] Ingin Dipuja

02 Feb 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi menutup muka dengan buku

[PUISI] Sampul Buku

01 Feb 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi nerdiri di atas panggung

[PUISI] Ingin Dipuja

31 Jan 2026, 21:48 WIBFiction
ilustrasi melangkah bebas

[PUISI] Mimpi Tanpa Batas

31 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi laki-laki disabilitas di pinggir pantai

[PUISI] Berlari Tanpa Kaki

30 Jan 2026, 21:48 WIBFiction
ilustrasi pertarungan

[PUISI] Menyendiri

30 Jan 2026, 21:07 WIBFiction
Ilustrasi gambar orang duduk di kursi

[PUISI] Singgasana Sunyi

30 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi seseorang melihat keluar dari jendela

[PUISI] Melebur Sekat

30 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi kabut di hutan

[PUISI] Rumit Ke Pamit

29 Jan 2026, 20:27 WIBFiction
ilustrasi seorang perempuan berlarian di pinggir pantai

[PUISI] Terus Berlari

29 Jan 2026, 18:07 WIBFiction