[CERPEN] Seorang Anak Istimewa yang Menyimpan Cahaya
![[CERPEN] Seorang Anak Istimewa yang Menyimpan Cahaya](https://image.idntimes.com/post/20250527/syahrul-alamsyah-wahid-totiull8fay-unsplash-f0449dd4d87dfdffa45288aebd169bf1-a6fb8a1f437bd094995b9dbff170f28b.jpg)
Adi diolok-olok karena berbeda, dianggap bodoh oleh teman sekelas
Pak Arman melihat keistimewaan Adi, mengajari dengan cara yang sesuai dengannya
Dengan bantuan Pak Arman, Adi berhasil menunjukkan kecerdasannya dan meraih peringkat satu di kelas
Adi selalu duduk di bangku paling belakang kelas. Tatapannya kosong, ekspresinya datar, seolah apa pun yang terjadi di sekitarnya tidak pernah benar-benar masuk ke kepalanya. Di sekolah itu, semua orang mengenalnya sebagai anak paling bodoh.
“Eh, Adi! Itu papan tulis, bukan jendela! Ngapain diliatin?” teriak Raka sambil tertawa keras.
Satu kelas ikut tertawa. Ada yang menepuk meja, ada yang menirukan wajah kosong Adi. Guru hanya menghela napas dan melanjutkan pelajaran, seakan semua itu biasa.
Adi tidak menjawab.
“Kenapa mereka selalu tertawa?”
“Aku cuma tidak mengerti cara mereka berpikir.”
Saat jam istirahat, ejekan tidak berhenti. Tas Adi disembunyikan, bukunya dicoret, bahkan ada yang mendorongnya sampai jatuh.
“Sekolah ini bukan tempat buat anak gagal kayak lo,” kata Dimas sambil menendang sepatu Adi.
“Bodoh, aneh, nggak guna,” sahut yang lain.
Adi bangkit pelan, membersihkan debu di seragamnya. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Wajahnya tetap datar.
“Sakit… tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Aku ingin berhenti ada di sini.”
Ia memang berbeda. Adi memiliki keistimewaan: pikirannya bisa menyerap pola dan logika dengan sangat cepat, tapi ia tidak bisa mengekspresikannya seperti orang lain. Kata-kata terasa kacau di kepalanya. Emosi tidak pernah muncul di wajahnya. Karena itulah, semua orang mengira ia bodoh.
Suatu sore, Adi duduk sendirian di perpustakaan sekolah. Di sanalah ia bertemu Pak Arman, guru baru yang memperhatikannya sejak lama.
“Kamu suka angka, ya?” tanya Pak Arman pelan.
Adi mengangguk.
“Boleh Bapak lihat caramu mengerjakan soal ini?”
Adi menulis. Tangannya ragu, tapi jawabannya tepat. Bahkan lebih cepat dari siswa mana pun.
Pak Arman tersenyum. “Adi, kamu bukan bodoh. Kamu hanya berbeda.”
“Berbeda?”
“Apa itu berarti aku tidak rusak?”
Sejak hari itu, Pak Arman mengajari Adi dengan caranya sendiri. Tanpa tekanan, tanpa teriakan. Ia mengajarkan Adi bagaimana memahami dirinya sendiri, bagaimana menata pikirannya, dan bagaimana menggunakan keistimewaannya.
Perlahan, nilai Adi naik. Ulangan demi ulangan ia lalui dengan sempurna. Hingga suatu hari, wali kelas mengumumkan peringkat.
“Peringkat satu… Adi.”
Kelas mendadak sunyi.
“Itu bercanda, kan?” bisik seseorang.
“Anak bodoh itu?” kata yang lain tidak percaya.
Adi berdiri. Wajahnya masih datar, tapi dadanya terasa hangat.
“Aku bisa.”
“Aku ternyata bisa.”
Sejak saat itu, ejekan berubah menjadi tatapan kagum. Orang-orang mulai menyapanya, bahkan meminta bantuan. Mereka yang dulu menertawakan Adi, kini tersenyum canggung padanya.
Adi tetap sama. Tenang. Datar. Namun kini ia tahu satu hal: kebodohan yang mereka lihat hanyalah topeng dari sebuah cahaya yang selama ini tersembunyi.
![[PUISI] Antara Luka dan Tujuan](https://image.idntimes.com/post/20250204/adam-le-sommer-czb0elzrasa-unsplash-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-fde4a349be04ed929864fca210b9325d.jpg)
![[PUISI] Kepada Secangkir Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-mkid-793570_4408f74b-e9e0-429a-8545-7be1199cdff8.jpg)
![[PUISI] Jangan Lupa Bersyukur](https://image.idntimes.com/post/20260328/deeznutz1-lunch-8742076_dcd74029-c9fc-4d4a-9eb8-196c79b87c13.jpg)
![[PUISI] Jika Sempurna Punya Rupa](https://image.idntimes.com/post/20260129/img_2909_7ca833f8-e909-4f62-9fb7-5b03d841421f.jpeg)
![[PUISI] Bekas yang Tak Terlihat](https://image.idntimes.com/post/20260307/pexels-aleksandr-neplokhov-486399-3971223_d66dd84d-5f12-484e-bded-687eed3ea57e.jpg)
![[PUISI] Selamanya Seperti Ini](https://image.idntimes.com/post/20260201/screenshot-2026-02-01-213517_156545e8-3ebc-4065-bbe2-9c9770a59d64.png)
![[PUISI] Mesin Penetas Mimpi](https://image.idntimes.com/post/20260108/pexels-ron-lach-10670134_79bd944d-5b97-4b3c-9940-7f8c940c867f.jpg)
![[PUISI] Tiga Perempuan yang Terluka](https://image.idntimes.com/post/20260326/pexels-cottonbro-6284260_41cc01b5-8251-49b5-874d-87d2120f05ab.jpg)
![[PUISI] Bahasa yang Lupa Pulang](https://image.idntimes.com/post/20260327/pexels-stefan-g-44736111-7450476_6a09d1a9-0528-449d-9e15-3088f6d86a48.jpg)
![[PUISI] Antara Cukup dan Serakah](https://image.idntimes.com/post/20260327/vivienne-klein-yzx1qhkjho0-unsplash_b71fef59-61e2-4731-91d8-2b06a0a22a92.jpg)
![[PUISI] Bunga Surga](https://image.idntimes.com/post/20260313/photorealistic-style-clouds-stairs_2e14e46b-bc8a-4ee7-a1d1-ddea9985a473.jpg)
![[PUISI] Abu Pekat](https://image.idntimes.com/post/20231116/pexels-kindel-media-7149043-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-fca78da9fd034cca7fc62c8d82e647ac.jpg)
![[PUISI] Tanggal Tua Ini Mengambang di Udara](https://image.idntimes.com/post/20241112/pexels-thngocbich-636246-29fd1daa7c5d7380758732d1c45f7838-388423aac2f47e4f875a6748c4fff405.jpg)
![[PUISI] Upacara Menghapus Diri](https://image.idntimes.com/post/20260303/pexels-brunocervera-11655062_b50fe537-7346-4a7a-b3cc-c4dd8bc6b662.jpg)
![[PUISI] Mencari Damai](https://image.idntimes.com/post/20260203/beautiful-japanese-forest-scene-min_fc1ce3e1-b788-4cd9-836e-2a9606855809.jpg)
![[PUISI] Antara Janji Mereka dan Sisa Kita](https://image.idntimes.com/post/20260326/fotografo-samuel-cruz-fpgq9v5x7gu-unsplash_b7ce0682-a8ae-4ac4-b05b-e63879e0b162.jpg)
![[PUISI] Kalian Bisa Apa?](https://image.idntimes.com/post/20260328/pexels-olly-3779489_4e4ff612-1511-46e6-873b-c91a37da0100.jpg)
![[PUISI] Merekam Sumbang](https://image.idntimes.com/post/20260328/1000468093_857b4dd3-0b5b-4192-8e81-98c18de1a1fe.jpg)
![[PUISI] Kelam](https://image.idntimes.com/post/20260320/pexels-guillermo-berlin-1524368912-34857606_16ee3962-3f2a-45d1-ab8c-73fc0fdb5be0.jpg)
![[PUISI] Subuh yang Beku](https://image.idntimes.com/post/20260301/pexels-chris-f-38966-9113137_16bd5ce4-d61a-4e9f-befc-b3e48b0e2f1f.jpg)