Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Seorang Anak Istimewa yang Menyimpan Cahaya

[CERPEN] Seorang Anak Istimewa yang Menyimpan Cahaya
ilustrasi anak SD (Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid)
Intinya Sih

  • Adi diolok-olok karena berbeda, dianggap bodoh oleh teman sekelas

  • Pak Arman melihat keistimewaan Adi, mengajari dengan cara yang sesuai dengannya

  • Dengan bantuan Pak Arman, Adi berhasil menunjukkan kecerdasannya dan meraih peringkat satu di kelas

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Adi selalu duduk di bangku paling belakang kelas. Tatapannya kosong, ekspresinya datar, seolah apa pun yang terjadi di sekitarnya tidak pernah benar-benar masuk ke kepalanya. Di sekolah itu, semua orang mengenalnya sebagai anak paling bodoh.

“Eh, Adi! Itu papan tulis, bukan jendela! Ngapain diliatin?” teriak Raka sambil tertawa keras.

Satu kelas ikut tertawa. Ada yang menepuk meja, ada yang menirukan wajah kosong Adi. Guru hanya menghela napas dan melanjutkan pelajaran, seakan semua itu biasa.

Adi tidak menjawab.
“Kenapa mereka selalu tertawa?”
“Aku cuma tidak mengerti cara mereka berpikir.”

Saat jam istirahat, ejekan tidak berhenti. Tas Adi disembunyikan, bukunya dicoret, bahkan ada yang mendorongnya sampai jatuh.

“Sekolah ini bukan tempat buat anak gagal kayak lo,” kata Dimas sambil menendang sepatu Adi.
“Bodoh, aneh, nggak guna,” sahut yang lain.

Adi bangkit pelan, membersihkan debu di seragamnya. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Wajahnya tetap datar.
“Sakit… tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Aku ingin berhenti ada di sini.”

Ia memang berbeda. Adi memiliki keistimewaan: pikirannya bisa menyerap pola dan logika dengan sangat cepat, tapi ia tidak bisa mengekspresikannya seperti orang lain. Kata-kata terasa kacau di kepalanya. Emosi tidak pernah muncul di wajahnya. Karena itulah, semua orang mengira ia bodoh.

Suatu sore, Adi duduk sendirian di perpustakaan sekolah. Di sanalah ia bertemu Pak Arman, guru baru yang memperhatikannya sejak lama.

“Kamu suka angka, ya?” tanya Pak Arman pelan.

Adi mengangguk.

“Boleh Bapak lihat caramu mengerjakan soal ini?”

Adi menulis. Tangannya ragu, tapi jawabannya tepat. Bahkan lebih cepat dari siswa mana pun.

Pak Arman tersenyum. “Adi, kamu bukan bodoh. Kamu hanya berbeda.”

“Berbeda?”
“Apa itu berarti aku tidak rusak?”

Sejak hari itu, Pak Arman mengajari Adi dengan caranya sendiri. Tanpa tekanan, tanpa teriakan. Ia mengajarkan Adi bagaimana memahami dirinya sendiri, bagaimana menata pikirannya, dan bagaimana menggunakan keistimewaannya.

Perlahan, nilai Adi naik. Ulangan demi ulangan ia lalui dengan sempurna. Hingga suatu hari, wali kelas mengumumkan peringkat.

“Peringkat satu… Adi.”

Kelas mendadak sunyi.

“Itu bercanda, kan?” bisik seseorang.
“Anak bodoh itu?” kata yang lain tidak percaya.

Adi berdiri. Wajahnya masih datar, tapi dadanya terasa hangat.
“Aku bisa.”
“Aku ternyata bisa.”

Sejak saat itu, ejekan berubah menjadi tatapan kagum. Orang-orang mulai menyapanya, bahkan meminta bantuan. Mereka yang dulu menertawakan Adi, kini tersenyum canggung padanya.

Adi tetap sama. Tenang. Datar. Namun kini ia tahu satu hal: kebodohan yang mereka lihat hanyalah topeng dari sebuah cahaya yang selama ini tersembunyi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More
[PUISI] Bunga Surga

[PUISI] Bunga Surga

29 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Abu Pekat

[PUISI] Abu Pekat

29 Mar 2026, 21:04 WIBFiction
[PUISI] Mencari Damai

[PUISI] Mencari Damai

29 Mar 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kalian Bisa Apa?

[PUISI] Kalian Bisa Apa?

28 Mar 2026, 21:44 WIBFiction
[PUISI] Merekam Sumbang

[PUISI] Merekam Sumbang

28 Mar 2026, 20:52 WIBFiction
[PUISI] Kelam

[PUISI] Kelam

28 Mar 2026, 13:07 WIBFiction
[PUISI] Subuh yang Beku

[PUISI] Subuh yang Beku

28 Mar 2026, 05:25 WIBFiction