Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi bianglala (https://www.pexels.com/Benjamin%20Farren)
Ilustrasi bianglala (https://www.pexels.com/Benjamin%20Farren)

Intinya sih...

  • Arga dan Winny sepakat membuat kencan mereka seburuk mungkin agar orang tua menyerah.

  • Kekonyolan Arga justru membuat Winny tertawa lepas, dan kedewasaan Winny dalam menghadapi "akting" Arga malah membuat Arga kagum.

  • Perjodohan yang tadinya dianggap sebagai penjara, kini terasa seperti tiket menuju petualangan baru yang paling menyenangkan dalam hidup mereka.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Arga dan Winny sepakat untuk membuat kencan mereka seburuk mungkin agar orang tua mereka menyerah. Arga berpura-pura menjadi pria yang sangat jorok dan konyol, sementara Winny berpura-pura menjadi wanita yang sangat menuntut. Namun, kekonyolan Arga justru membuat Winny tertawa lepas, dan kedewasaan Winny dalam menghadapi "akting" Arga malah membuat Arga kagum.

Arga mengencangkan ikat pinggangnya hingga setinggi perut. Ini gaya bapak-bapak tahun 70-an. Dia juga sengaja memakai kaus kaki dengan sandal jepit. Rencananya matang: dia akan menjadi pria paling aneh dan memalukan yang pernah ditemui Winny. Dengan begitu, Winny pasti akan melapor pada orang tuanya bahwa perjodohan ini adalah bencana nasional.

Di sisi lain, Winny sudah bersiap dengan "senjatanya". Dia memakai riasan yang sengaja terlalu tebal dan membawa daftar panjang "permintaan tidak masuk akal" yang akan dia ajukan pada Arga. Dia ingin terlihat seperti wanita high-maintenance yang sangat menyebalkan.

Mereka bertemu di sebuah kafe terbuka di hari Sabtu pagi.

"Halo, Winny? Kenalkan, aku Arga," Arga menyapa dengan suara yang sengaja dicemprengkan, lalu dia duduk dan langsung memesan tiga piring nasi goreng sekaligus, memakannya dengan suara kunyahan yang sangat keras.

Winny mengerutkan kening, mencoba menahan tawa melihat sandal jepit Arga. "Hai. Sebelum kita lanjut ke jenjang pernikahan, Arga, aku mau kamu tahu kalau aku setelah nikah nanti cuma mau makan di restoran bintang lima, dan aku butuh jatah belanja lima puluh juta sebulan. Keberatan?"

Arga tersedak nasi. "Oh, tenang! Aku bisa kasih itu, asalkan kamu mau bantu aku koleksi batu akik dan ikut aku ikut lomba burung kicau tiap Minggu subuh," jawab Arga sambil mengeluarkan sebuah batu besar dari sakunya dan mulai mengelapnya dengan khusyuk menggunakan serbet kafe.

Winny terdiam. Skenarionya mulai goyah karena Arga ternyata lebih konyol dari yang dia duga.

Kesepakatan awal mereka dengan keluarga mereka masing-masing adalah menghabiskan weekend bersama di sebuah taman hiburan. Arga, dalam upayanya menjadi konyol, malah terjebak dalam situasi romantis yang tidak sengaja. Saat mereka naik bianglala, Arga berpura-pura takut tinggi dengan cara yang berlebihan, berteriak-teriak histeris seperti anak kecil.

"Aduh, Winny! Tolong! Dunia berputar!" Arga memeluk lengan Winny dengan erat, wajahnya disembunyikan di bahu gadis itu.

Winny yang awalnya ingin marah karena malu dilihat orang, tiba-tiba merasa hangat. Dia menyadari meski Arga sedang berakting konyol, tangan Arga yang lain diam-diam memegang tiang bianglala agar keranjang mereka tidak terlalu bergoyang, melindunginya.

"Arga, berhenti teriak," bisik Winny sambil tertawa kecil. Dia mengusap kepala Arga dengan dewasa. "Akting kamu jelek banget, tapi makasih ya sudah bikin aku ketawa searian ini. Aku udah lama nggak ketawa lepas begini gara-gara stres kerjaan."

Arga tertegun. Dia mendongak, menatap mata Winny yang ternyata sangat tenang dan penuh pengertian. Kedewasaan Winny bukan tipe yang membosankan, melainkan menenangkan.

Hari kedua, Minggu, mereka memutuskan untuk jujur. Arga menjemput Winny dengan pakaian normal, kemeja santai yang membuatnya terlihat sangat tampan. Winny pun tampil natural dengan celana jins dan kaos, memperlihatkan kecantikan aslinya yang lucu dan gemar bercanda.

Mereka menghabiskan waktu di pasar loak. Arga menunjukkan sisi romantisnya dengan cara yang konyol, dia membeli sebuah kacamata plastik besar berbentuk hati dan memakaikannya ke Winny.

"Buat apa ini?" tanya Winny sambil terbahak.

"Biar kamu bisa lihat kalau di depan kamu ini ada pria yang sebenarnya lumayan keren, cuma agak kurang waras sedikit," jawab Arga tulus.

Winny tersenyum, lalu dia melakukan hal yang membuat Arga jatuh hati: dia tidak membuang kacamata itu, melainkan memakainya seharian dan bahkan mengajak Arga berfoto selfie dengan pose paling konyol di depan gerobak bakso.

Sore harinya, saat matahari mulai terbenam di taman kota, Arga menoleh ke arah Winny.

"Jadi, gimana laporan buat orang tua kita besok?" tanya Arga. "Mau bilang kalau aku jorok dan kamu matre?"

Winny menggeleng, dia melepas kacamata hatinya dan menatap Arga dengan binar jenaka. "Aku bakal bilang kalau kriteria 'calon suami' di daftar aku sudah berubah. Ternyata aku butuh seseorang yang bisa diajak koleksi batu akik."

Arga tertawa, dia menggenggam tangan Winny. "Dan aku bakal bilang kalau aku nggak butuh burung kicau, karena denger suara ketawa kamu aja sudah cukup."

Mereka berdua pulang dengan perasaan yang jauh berbeda dari dua hari lalu. Perjodohan yang tadinya dianggap sebagai penjara, kini terasa seperti tiket menuju petualangan baru yang paling menyenangkan dalam hidup mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team