Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Penjara di Balik Aroma Roti

Pria dalam pusaran waktu
Aris, pria yang terjebak dalam pusaran waktu misterius (pexels.com/rescriptt rescriptt)
Intinya sih...
  • Aris terjebak dalam rutinitas yang tak berujung di penjara waktu, tanpa bisa mengubah apapun.
  • Pria misterius memberikan petunjuk bahwa Aris harus memberikan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan oleh waktu untuk keluar dari situasi tersebut.
  • Dengan kejujuran dan cinta sejati kepada orang tuanya, Aris berhasil keluar dari lingkaran waktu yang mengikatnya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Suara alarm itu bukan lagi sekadar pengingat untuk bangun; bagi Aris, itu adalah vonis mati bagi kewarasannya.

Tepat pukul 07.15, melodi digital yang melengking itu menembus keheningan kamar, memaksa kelopak matanya terbuka untuk melihat pemandangan yang sama selama tiga tahun terakhir.

Ia tidak lagi melihat ke arah ponsel. Ia tahu layarnya menampilkan angka Selasa, 14 Mei. Di luar jendela, burung gereja yang sama akan hinggap di dahan pohon mangga, berkicau tiga kali, lalu terbang ke arah timur.

Aris menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga. Benar saja. Burung itu pergi, meninggalkan Aris dalam sebuah rutinitas yang melampaui batas logika manusia.

Aris turun ke lantai bawah dengan langkah yang berat. Ia bisa memejamkan mata dan tetap tahu di mana setiap letak perabotan, bahkan menghindari decitan lantai kayu yang longgar di anak tangga ketujuh.

"Pagi, Aris! Tumben wajahmu lesu sekali," sapa ibunya.

Aris menatap ibunya dengan rasa sakit yang menusuk. Wanita itu terlihat segar, penuh semangat, dan benar-benar tidak menyadari bahwa ia telah mengucapkan kalimat yang sama sebanyak 1.095 kali.

Di meja makan, Ayah sedang melipat koran—halaman depan selalu memuat berita tentang kenaikan harga bahan bakar dan hasil pertandingan bola yang sudah Aris hafal skornya luar kepala.

"Hanya kurang tidur, Bu," jawab Aris. Ia mengambil selembar roti tawar. Ia tahu rasanya: sedikit gosong di pinggir kanan karena pemanggang roti mereka sudah tua.

Selama tahun pertama, Aris mencoba segalanya. Ia mencoba menjadi pahlawan dengan menyelamatkan anak kecil yang terserempet sepeda motor di depan sekolah.

Ia mencoba menjadi jenius dengan menghafal seluruh isi perpustakaan. Ia bahkan pernah mencoba menjadi "penjahat" dengan berteriak di tengah upacara bendera hanya untuk melihat apa yang terjadi.

Namun, setiap pukul 00.00, semesta akan melakukan hard reset. Semua luka sembuh, semua buku yang ia tulis menghilang, dan semua ingatan orang lain tentang kegilaannya terhapus. Aris adalah satu-satunya variabel yang sadar dalam sebuah persamaan yang statis.

Pada tahun kedua, keputusasaan mulai mengambil alih. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang tidak masuk akal.

Misalnya, mengapa ia tidak pernah bertambah tinggi? Mengapa rambutnya tidak pernah memanjang? Ia terjebak dalam tubuh anak usia 14 tahun, sementara jiwanya mungkin sudah berusia 40 tahun. Ia mulai merasa seperti hantu yang menghuni tubuh seorang bocah.

Pada pengulangan ke-1.102, sesuatu yang aneh terjadi. Saat Aris berjalan menuju sekolah, ia melihat seorang pria tua duduk di bangku taman. Pria itu tidak ada di sana pada 1.101 hari sebelumnya. Pria itu mengenakan mantel abu-abu panjang dan sedang asyik memberikan makan burung dara.

Aris berhenti. Jantungnya berdegup kencang—sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. "Permisi, Pak?"

Pria itu menoleh. Matanya tidak kosong seperti penduduk kota lainnya yang bergerak berdasarkan naskah waktu. Matanya tajam dan penuh pengamatan. "Kau terlambat tiga detik dari jadwal biasanya, Aris."

Dunia seolah runtuh di sekitar Aris. "Anda... Anda tahu nama saya? Anda tahu tentang hari ini?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa aroma debu dan buku tua. "Waktu bukan sebuah garis lurus, Nak. Waktu adalah sebuah kain. Kadang-kadang, kain itu terlipat. Dan kau, sayangnya, terjepit di antara lipatan tersebut."

"Bagaimana cara saya keluar?" suara Aris gemetar. "Saya sudah mencoba segalanya. Saya sudah menjadi orang baik, orang jahat, orang pintar. Tidak ada yang berhasil."

Pria itu berdiri, merapikan mantelnya. "Kau mencoba mengubah duniamu, tapi kau tidak pernah benar-benar mengubah dirimu. Kau hanya berakting. Untuk mematahkan lipatan ini, kau harus memberikan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan oleh waktu."

Aris menghabiskan sisa harinya dengan merenungkan kata-kata pria itu. Apa yang tidak bisa dikembalikan oleh waktu? Ingatan? Perasaan?

Malam itu, sebelum jam menunjukkan pukul 00.00, Aris tidak pergi ke tempat tidur. Ia duduk di ruang tamu, menatap ibunya yang sedang merajut syal biru—syal yang tidak akan pernah selesai karena waktu akan kembali ke titik nol sebelum barisan terakhir dirajut.

Ia menyadari sesuatu. Selama ribuan hari ini, ia hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Ia memperlakukan orang tuanya seperti robot, seperti latar belakang dari panggung sandiwaranya. Ia tidak benar-benar menyayangi mereka; ia hanya mengamati mereka.

Aris mendekati ibunya. Ia mengambil jarum rajut itu dan membantu ibunya. Ia mulai berbicara, bukan dengan kalimat yang biasa ia ucapkan, tapi dengan kejujuran yang tulus. Ia menceritakan rahasia-rahasianya, ketakutannya, dan betapa ia sangat mencintai aroma roti bakar yang gosong itu.

"Ibu," bisik Aris. "Jika besok aku tidak ada, ketahuilah bahwa aku bahagia menjadi anakmu."

Ibunya menatapnya bingung, namun ada kilatan kehangatan di matanya yang belum pernah Aris lihat di pengulangan sebelumnya. "Apa maksudmu, Nak? Ibu akan selalu di sini."

Tepat saat itu, jam dinding berdentang.

23:59:58 23:59:59

Aris memejamkan mata, bersiap untuk tarikan gravitasi yang akan melemparkannya kembali ke tempat tidur pukul 07.15. Namun, tarikan itu tidak datang. Alih-alih rasa mual, ia merasakan keheningan yang luar biasa panjang.

Suara alarm berbunyi.

Aris tidak segera membuka mata. Ia takut. Ia takut mencium aroma roti yang sama. Ia takut melihat retakan langit-langit yang sama. Namun, ada yang berbeda. Suara alarmnya... itu adalah suara burung yang nyata di luar jendela, bukan nada digital ponselnya.

Ia membuka mata. Cahaya matahari masuk dari sudut yang berbeda. Ia menoleh ke arah ponselnya dengan tangan gemetar.

Rabu, 15 Mei.

Air mata Aris tumpah seketika. Ia berlari ke bawah, hampir melompati seluruh anak tangga. Di dapur, ibunya tidak sedang membalik telur. Ibunya sedang duduk di meja makan, menatap sebuah syal biru yang sudah selesai dirajut sempurna.

"Ibu?" suara Aris serak.

Ibunya menoleh, tersenyum cerah. "Pagi, sayang. Lihat, Ibu akhirnya menyelesaikan syal ini tadi malam. Rasanya seperti ada dorongan energi yang aneh untuk menyelesaikannya tepat waktu."

Aris memeluk ibunya erat-erat. Ia menyadari bahwa pria di taman itu benar. Waktu tidak akan bergerak bagi mereka yang hanya menonton.

Waktu hanya akan mengalir bagi mereka yang berani terlibat dengan sepenuh hati, bahkan jika risikonya adalah kehilangan momen tersebut selamanya.

Namun, saat ia melepaskan pelukan, ia melihat ke arah jendela. Di seberang jalan, pria bermantel abu-abu itu berdiri, melambaikan tangan padanya, lalu menghilang di balik tikungan.

Aris tahu, perjalanannya baru saja dimulai. Ia bukan lagi tawanan waktu; ia adalah pemilik dari setiap detik yang kini berharga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Simpang Buram

03 Feb 2026, 06:12 WIBFiction
ilustrasi taman

[PUISI] Taman yang Salah

03 Feb 2026, 05:24 WIBFiction
dua cangkir kopi hitam

[PUISI] Sepasang Americano

02 Feb 2026, 20:27 WIBFiction
ilustrasi pintu

[PUISI] Pertentangan Liat

02 Feb 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi berdiri di atas panggung

[PUISI] Ingin Dipuja

02 Feb 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi menutup muka dengan buku

[PUISI] Sampul Buku

01 Feb 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi nerdiri di atas panggung

[PUISI] Ingin Dipuja

31 Jan 2026, 21:48 WIBFiction
ilustrasi melangkah bebas

[PUISI] Mimpi Tanpa Batas

31 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi laki-laki disabilitas di pinggir pantai

[PUISI] Berlari Tanpa Kaki

30 Jan 2026, 21:48 WIBFiction
ilustrasi pertarungan

[PUISI] Menyendiri

30 Jan 2026, 21:07 WIBFiction