Comscore Tracker

[CERPEN] Menjelang Magrib di Persimpangan Jalan

Di suatu kota yang riuh

Sore menjelang magrib di sebuah persimpangan jalan teramai di suatu kota yang selalu riuh. Berjalan seorang lelaki berusia tak lebih dari lima puluh tahun menyeberangi jalan dengan langkah gontai, lelaki itu bernama Aku. Begitu pelannya aku berjalan seolah meresapi tiap langkah yang kujejakkan. Tetapi sebentar kemudian aku mempercepat langkah ketika terdengar bunyi klakson bersorak membentakku dari belakang lampu merah.

Setibanya di pinggir jalan, aku duduk di salah satu bangku di halaman salah satu ruko. Aku diam, memandang lurus ke depan, dengan tatapan kosong. Dunia di sekelilingku riuh, klakson kendaraan berpacu, tapi seakan tak ada satu suara pun. Aku punya keramaian sendiri dalam kepala. Memikirkan sesuatu yang paling berat sepanjang hidup. Perkumpulan masalah yang sepertinya telah menyentuh titik puncaknya. Tidak ada pilihan lain selain memecahkan masalah itu, dengan cara paling instan. Dan tak ada cara yang paling instan selain; bunuh diri. Itulah yang sejak tadi ada di pikiranku.

Cukup lama aku duduk merenung, sampai kelihatan bulan mengintip di ujung langit di balik gedung sana, tepat di depan mataku yang kian lelah. Tidak ada tempat berbagi, sepertinya aku harus mengakhiri ini sendirian. Namun yang jelas, belum jelas bagiku bunuh diri seperti apa yang tidak akan dicurigai sebagai bunuh diri. Tidak boleh seorang pun tahu aku mati sebagai pencundang, termasuk istri dan dua anak lelakiku yang saat ini pasti khawatir menunggu kepulanganku sebab hari sudah malam.

Khawatir? Sepertinya tidak, siapa pula orang rumah yang pernah peduli dengan keadaan ayah dan suaminya. Mereka hanya tahu ada uang untuk belanja setiap hari, sudah, itu saja. Tidak penting seberapa kerasnya usahaku.

***

"Kenapa kamu, nak?" Tiba-tiba satu suara kecil membangunkanku dari lamunan panjang. Aku menoleh, seorang lelaki tua berdiri di sampingku.

"Sepertinya kamu punya banyak masalah, ada yang bisa kubantu?" Ramah sekali sikapnya. Tetapi aku bingung apakah harus menceritakan masalahku pada orang asing ini, atau lebih baik aku katakan aku baik-baik saja, seperti yang selama ini aku lakukan setiap ada yang bertanya hal seperti itu.

"Kalau ada masalah cerita saja," ia kembali bersuara, lalu duduk di sampingku.

"Hmm, iya pak, begini.." Menurutku tak ada salahnya berbagi masalahku. Mungkin dari orang ini aku bisa tahu cara apa yang terbaik untuk bunuh diri. Aku tertawa geli sendiri dalam hati.

"Saat ini saya punya banyak masalah, yang tidak satu pun dapat saya selesaikan. Kondisi keluarga saya selalu tidak harmonis. Sejak kami menikah, orang tuanya memang tidak setuju denganku, tapi toh kami tetap menikah. Namun akhir-akhir ini saya baru tahu sebenarnya istri saya pun tidak mencintai saya. Kami sering bertengkar, dan saya selalu mengalah.

Tapi sekarang saya sudah tidak tahan lagi. Apalagi anak lelaki kami suka sekali menambah masalah. Yang paling tua malas mencari pekerjaan, padahal tamat kuliahnya sudah dua tahun lalu. Habis uang saya membiayainya, sampai sekarang pun masih suka minta uang, hanya untuk kegemarannya minum-minum hingga larut malam.

Anak yang kecil pun tak ketinggalan, dia sering membuat onar di sekolah. Tiga hari lalu saya dapat surat dari sekolahnya tentang tingkah lakunya dan skor yang diberikan sudah hampir sampai pada tahap anak saya dikeluarkan."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya lelaki itu setelah aku jeda sejenak.

"Itulah yang aku tidak tahu, pak."

"Dan kau akan duduk di sini sampai tahu apa yang harus dilakukan?"

"Entahlah. Terlalu rumit. Sore tadi aku baru diberi peringatan oleh atasanku karena kelalaian dalam bekerja. Dia bilang semakin ke sini aku semakin dekat dengan pemecatan."

"Baguslah kalau begitu. Kau jadi punya lebih banyak waktu untuk keluarga, bukan?" Lelaki tua itu tersenyum.

"Dan istriku akan mencari laki-laki lain karena aku tak punya uang lagi?" Kesal aku dengan perkataannya.

"Hahaha," dia malah tertawa

"Kenapa?"

"Tidak ada. Terus apa yang mau kau lakukan sekarang? Sebentar lagi hujan turun. Kau tidak mau pulang?"

"Entahlah. Saya pikir semua harus berakhir malam ini. Saya akan bunuh diri, tapi saya masih bingung caranya."

"Hmmm." Kukira lelaki tua itu akan terkejut mendengar pernyataanku tadi. Tapi dia justru tampak sedang memikirkan sesuatu.

Hening.

"Aku punya satu cara untukmu." Akhirnya ia bersuara. "Menurutku ini cara paling elegan untuk mati." Kemudian dia merogoh tas kecil di pinggangnya. Mengeluarkan plastik bening kecil. Kulihat di dalamnya ada dua buah pil bulat berwarna hijau. "Kau pasti tahu apa ideku, kan?"

"Saya harus menelan pil itu untuk bunuh diri?"

"Tepat sekali."

"Apa istimewanya? Sudah banyak yang melakukan cara seperti itu. Polisi juga akan tahu itu bunuh diri setelah diautopsi. Saya ingin kematian saya dianggap kematian yang wajar, tidak ada yang curiga itu bunuh diri."

"Tenang dulu, kau harus melakukan perintahku dengan benar."

"Apa?"

"Pertama, kau pulang dulu sekarang. Nanti setelah istrimu tidur, baru kau makan pil ini satu. Besok malamnya, kau makan yang satunya lagi. Ingat itu, tak boleh sekaligus."

"Kenapa? Kalau saya makan langsung keduanya, kan matinya bisa lebih cepat?"

"Tak usah kau banyak tanya. Ikuti saja perintahku." Lalu lelaki tua itu pergi sebelum sempat aku bertanya lagi.

***

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat sebelas menit ketika aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil tas. Membukanya dan mengeluarkan plastik kecil pemberian lelaki tadi. Aku ambil satu pil. Bertanya dalam hati, makannya begini saja? Tidak pakai air? Dia tidak menjelaskan padaku. Tapi apa aku harus percaya kata-katanya? Pil apa ini? Aku tidak pernah lihat. Lelaki itu siapa? Aku juga tidak pernah lihat.

Banyak sekali pertanyaan muncul, sebelum sesaat kemudian aku ingat dia bilang untuk tidak banyak tanya. Kusingkirkan semua pertanyaan tadi dan langsung menelan pil itu setelah kupastikan istriku sudah benar-benar lelap.

Rasanya pahit, seperti obat biasa. Tapi aku tak mau lagi peduli. Aku kembali ke tempat tidur dan memandang wajah istriku dengan sangat hikmat. Betapa kami telah hidup bersama selama belasan tahun. Memang dia menyebalkan, tapi tidak pernah sekalipun terlintas dipikiranku menceraikannya. Sesaat aku merasa berdosa akan mengakhiri hidupku dan melimpahkan beban ini kepadanya. Sesaat kemudian aku mengantuk dan terbaring. Beberapa detik sebelum terpejam, aku bergumam kecil; besok malam semuanya berakhir, tak perlu sedih.

Di luar hujan turun.

***

Kali ini pagi terasa lebih nikmat dari biasanya dan aku bangun lebih awal. Sebelum turun dari tempat tidur, aku sempatkan mencium kening istriku. Dia tersenyum, tapi setelah itu heran sendiri, aku tahu itu dari raut mukanya. 

Aku sarapan sebelum berangkat kerja. Seingatku lebih dari setahun lalu terakhir aku makan pagi di rumah, karena memang aku selalu telat ke kantor. Istriku memandangku dengan tatapan aneh. Ia bertanya mengapa aku bangun lebih cepat dan tidak sarapan di kantor. Aku hanya tersenyum. Tatapannya semakin aneh. 

Sementara itu anak bungsuku makan dengan lahap. Aku juga tidak tahu kapan terakhir aku lihat ia mengunyah makanan. Setelah itu aku temani ia ke sekolah. Kami berjalan kaki, sekolahnya tak jauh, pun mobilku sudah lama kujual. Ini mungkin yang pertama setelah entah berapa lama aku tidak mengantarnya. Dia juga heran. Aku bertanya bagaimana dengan sekolahnya dan menasihatinya agar tidak nakal lagi. Dia hanya mengangguk. Dan aku juga tidak menjawab pertanyaannya mengapa aku bisa seperti ini.

Indah sekali pagi ini. Hanya anak tertuaku yang tak sempat kulihat sebelum berangkat kerja. Dia belum pulang sejak kemarin. Tadi sudah kutitipkan salam pada ibunya jika dia pulang, bilang bahwa aku tidak lagi marah padanya. Dan siapa tahu aku tidak lagi berjumpa dengannya. Mungkin malam ini dia juga tidak pulang. Atau mungkin dia pulang esok paginya ketika tubuhku sudah jadi jenazah di atas kasur. 

***

Pekerjaanku hari ini tiba-tiba sungguh menyenangkan. Aku sapa satpam di gerbang tadi, dia balas dengan senyuman bingung, tidak biasanya aku seperti ini. Aku salami setiap rekan kerja yang kutemui, mereka pun heran. Tidak pernah aku sesemangat ini bekerja sejak hari pertama beberapa tahun lalu. Semua tugas kujalankan dengan tepat dan selesai dengan cepat. Tidak kudengar lagi keluhan dari bos. Sampai pulang kerja pun aku masih semangat. 

Ketika lewat di persimpangan jalan tempatku bertemu orang asing kemarin, aku teringat akan pil bunuh diri yang diberikannya. Tersisa satu, yang katanya aku harus menghabiskannya malam ini. Tetapi aku jadi malu sendiri. 

Mengingat semua kehebatan yang terjadi sepanjang hari tadi dan bahagia yang tak pernah kurasa semenakjubkan ini, membuatku semakin ragu untuk menelan satu pil lagi.

Ketika malam, ketika istriku telah lelap, ketika jarum jam di dinding itu menunjukkan pukul sebelas lewat sebelas menit, ketika di luar hujan turun, ketika satu pil hijau yang tersisa itu berada di telapak tanganku, ketika itu pula sebuah keyakinan muncul. Yakin bahwa aku tidak butuh pil ini, aku tidak butuh kematian seperti ini.

Sayang sekali jika hal-hal indah hanya kurasakan satu hari ini. Kututup telapak tanganku. Kumasukkan pil itu ke dalam plastiknya. Kumasukkan plastik itu ke dalam tas. Kuletakkan tas itu di atas meja. Lalu berangkatlah aku tidur. Besok sore sepulang kerja aku akan ke sana lagi, siapa tahu dia berada di sana atau setidaknya di sekitar tempat itu, akan kukembalikan pil kematian ini. Tidak ada lagi nafsu bunuh diri di dalam diriku. Hidup ini indah. 

Di luar hujan masih turun.

***

Sore menjelang magrib di persimpangan jalan teramai di suatu kota yang selalu riuh. Duduk seorang lelaki tua di sebuah bangku di halaman salah satu ruko. Tidak salah memang tujuanku, dia pasti kutemui lagi di sini.

Dari kejauhan dapat kulihat bahwa lelaki tua itu adalah orang yang sama dengan yang memberikanku pil bunuh diri pada malam yang hampir hujan dua hari lalu. Aku bergegas, khawatir dia akan pergi. Di sisiku suara klakson kendaraan memekak, memacuku berjalan lebih cepat. 

Tetapi tiba-tiba pandanganku terhalang oleh truk yang lewat. Setelahnya, aku tidak lagi melihat ada orang duduk di bangku di seberang jalan itu. Ah, sial, ke mana dia pergi? Padahal aku hanya ingin mengembalikan pil ini dan bilang terima kasih padanya, aku tak jadi bunuh diri. 

Sesampainya di seberang, kudekati bangku itu dan memandang ke sekeliling. Berharap dapat menemuinya meskipun di ujung jalan yang akan berbelok. Dan harapanku nyata, aku mendapatkannya. Segera kukejar, kali ini lebih cepat, sambil berteriak memanggilnya, yang aku tidak tahu siapa namanya. 

Aku terus mengejarnya dan sama sekali ia tak menoleh. Semakin cepat lariku, semakin jauh jarak kami. Jalannya lebih cepat dari lariku. Tetapi tetap kukejar sampai ketika dia berhenti di salah satu rumah, yang bahkan saat ini aku tak tahu sedang di mana, di jalan apa. 

Dia mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kemudian pintu terbuka, lelaki tua itu masuk, dan pintu tertutup lagi. Aku berpikir sejenak. Apakah menyusulnya atau lebih baik aku pulang saja. Aku pun putuskan untuk mengetuk pintu rumahnya. Sudah sejauh ini, tak mungkin pulang tanpa hasil. 

Tok tok tok. Tak ada jawaban. Aku coba sekali lagi, tok tok tok. Ah, payah, masa sudah tidur saja orang itu. Yang keluar malah tetangganya, seorang wanita paruh baya. Melihatku dengan tatapan heran. 

"Ada apa, Mas?"

"Tak ada apa-apa. Saya hanya ingin bertemu kakek tadi."

"Kakek siapa? Mas tidak salah alamat? Rumah itu sudah kosong setahun yang lalu. Tidak ada penghuninya lagi."

"Ooh," aku berusaha menutupi keterkejutanku. "Tapi baru saja saya lihat sendiri dia masuk ke dalam."

"Masa sih?" Sekarang dia yang kebingungan. "Dulu memang pernah ada laki-laki renta yang tinggal di rumah itu. Tapi dia meninggal setahun lalu. Dia tinggal sendiri. Sekarang rumah itu kosong, Mas. Coba cek lagi deh, siapa tahu memang salah alamat." Kemudian wanita paruh baya itu masuk ke rumahnya. 

Tidak ada yang dapat kukatakan saat itu, bahkan kepada diriku sendiri. Apa yang kulihat kemudian membenarkan apa yang dikatakan tetangganya tadi. Dari celah kecil di jendela yang tampak tua itu aku dapat melihat ke dalam. Tak ada isinya. Hanya sarang laba-laba yang memenuhi sudut-sudut rumah dan debu-debu yang menempel pekat di meja dan empat kursi kayu di sekelilingnya.

Jam dinding di dinding masih berdetak di samping sebingkai foto yang kukenali wajahnya. Itu pasti lelaki tua tadi sewaktu mudanya. Foto itu pun sudah penuh debu. Yang jelas, tak ada tanda-tanda kehidupan dalam rumah itu. Rumput-rumput halaman setinggi lutut. Bahkan lantai semen yang kupijak ini penuh dengan lumut di pinggirnya. Yang baru kusadari, pintu itu terkunci dan digembok dari luar. Gembok yang telah berkarat. 

Oh, tidak. Aku sedang mengalami peristiwa paling aneh sepanjang hidupku. Dan bertanya entah kepada siapa tentang peristiwa yang terjadi beberapa saat lalu. Jadi siapa sebenarnya orang yang aku ikuti itu, yang memberiku pil bunuh diri, yang kulihat sendiri masuk ke dalam rumah ini. Dan siapa pula yang membukakan pintu. Seketika aku gemetar. Beberapa saat kemudian aku lepas dari kekakuan dan bergegas lari, sekencang-kencangnya. Aku tidak tahu ada di mana dan akan ke mana. 

Begitu kencangnya aku berlari di bawah pekat langit malam itu ketika sesuatu yang berat menimpa kepalaku. Aku tersungkur. Tumbang. Seketika semuanya hening. 

Hening.

Hening.

***

Lalu satu suara datang memekakkan telingaku, dan aku terjaga. Mataku terbuka. Tak ada langit di atas kepala. Hanya sebuah lampu bercahaya redup. Di depanku tergantung jam dinding pukul sebelas lewat sebelas menit. Sedangkan di samping ada istriku yang tidur lelap. Oh, aku baru saja sadar dari sebuah mimpi buruk yang paling buruk. 

Aku ambil segelas air, menenangkan diri. Tidak ingin aku menjawab bagaimana bisa aku bermimpi. Padahal menjelang magrib sepulang kerja tadi aku sungguh ada di dunia nyata, saat aku mencari keberadaan lelaki tua itu. Itu nyata, aku bisa pastikan. Tapi aku sedang tak ingin menjawab semua keanehan ini. 

***

Beberapa tahun pun berlalu. Anak pertamaku mendapat pekerjaan. Si bungsu masuk SMA favorit di provinsi sebelah. Aku tidak jadi dipecat. Kata bos, kerjaku menunjukkan peningkatan. Beberapa bulan setelah itu jabatanku naik. Kehidupan keluarga kami membaik setiap hari. Semua telah berubah sejak kejadian itu. 

Sepulang bekerja, aku semakin senang singgah di sini. Di sebuah bangku di halaman salah satu ruko di persimpangan jalan teramai di suatu kota yang selalu riuh pada sore hari menjelang magrib. Dengan klakson mobil yang bising itu aku mengenang perjalanan hidupku di mana nasib berbelok setelah pertemuan dengan seseorang dari dunia nun jauh di sana. 

Tidak ada yang tahu cerita itu. Tidak aku ceritakan pada siapa pun, tidak pula aku pikirkan terlalu dalam. Aku hanya mensyukuri, bahwa sejak saat itu, hingga cerita ini ditulis, tidak pernah lagi sekalipun aku berpikir untuk bunuh diri.***

Baca Juga: [CERPEN] Suara-suara yang Lenyap

Ekos Saputra Photo Verified Writer Ekos Saputra

Seorang yang menyukai apa yang pantas disukai

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya