Comscore Tracker

[CERBUNG] Malaikat Berpayung Biru (Part 2)

Andai kutahu itu adalah kau...

Bahkan hujan tak pernah sepilu ini.

Koridor rumah sakit begitu lengang. Hari masih sore tapi sudah terasa seperti malam. Langit belum bosan-bosannya menumpahkan tetes-tetes air yang sepintas terlihat seperti agak kelabu, dari awan berwarna serupa di atas sana.

Revan menggigil, mengetatkan jaketnya. Suara tut-tut-tut dari layar monitor di dalam ruangan di belakangnya, yang terhubung dengan tubuh ibunya melalui berbagai selang, serasa berdengung-dengung di dalam kepalanya setiap saat, menghantuinya ke mana pun ia melangkah.

Suara itu bagaikan alarm dari sebuah lorong gelap di alam bawah sadarnya, mengingatkan dan menakutinya akan bayangan-bayangan peristiwa buruk, membisikinya dengan kecemasan dan pesimisme bahwa apa yang ia lihat di hadapannya hanyalah penundaan semata. Cepat atau lambat, sesuatu yang buruk itu akan tetap menghampirinya juga.

Ia sudah berusaha meronta sebisanya, menyangkal dan meyakinkan diri bahwa hal itu tak akan terjadi. Pun tak habis-habisnya ia mencoba berbaik sangka pada Tuhan setiap kali ia memandangi sosok yang begitu disayanginya itu dengan berjuta harap. Namun belum ada yang kunjung berubah dari kondisi ibunya. Masih sama sejak hari pertama mereka ada di sini, perempuan berwajah lembut itu tetap terbujur diam dengan mata terpejam rapat.

Satu bulan telah berlalu. Ayah Revan sudah harus kembali ke pekerjaannya di luar kota demi kelangsungan finansial mereka. Teman dan kerabat pun demikian, yang tadinya datang silih berganti dengan rupa-rupa bantuan dan support, satu demi satu harus kembali ke kehidupan mereka masing-masing.

Kini hanya tinggal Revan dan kakak perempuannya saja, yang selain harus menunggui ibu mereka di rumah sakit juga masih mempunyai kewajiban lain yang tak bisa ditinggalkan berlama-lama. Revan harus tetap ke sekolah, sedangkan kakaknya memiliki anak-anak kecil yang harus diurus. Karena itulah, mereka harus mengatur giliran sebisa mungkin.

Mungkin hanya yang pernah mengalaminya saja yang tahu, bahwa di rumah sakit, bagi pasien dan keluarganya, waktu seolah merayap lebih lambat 7 kali lipat dari kecepatan biasanya. Dan malangnya, dikarenakan giliran berjaga yang hanya punya dua orang partisipan itu, Revan terpaksa harus selalu berada di sini tanpa teman, bergulat seorang diri dengan rasa jenuh, kesepian, kecemasan, juga ketakutan-ketakutan itu.

Sungguh hari-hari yang tak mudah. Dengan cepat, ia kehilangan berat badan. Teman-temannya di sekolah mengatakan, ia sudah hampir seperti mayat hidup. Tapi ia sudah tak ada keinginan lagi untuk memusingkan kondisinya sendiri. Ia sudah sampai pada titik di mana ia begitu enggan menatap hari esok. Yang ia tahu, ia telah semakin jauh dari hari-hari normal penuh warna seperti yang dimiliki teman-temannya, dan tak yakin kapan akan dapat merasakannya lagi. Pun ia sudah hampir lupa bagaimana rasanya.

Bahkan untuk sekadar berharap pun rasanya terlalu letih. Tak ada yang menjamin bahwa esok pagi ia tak akan kecewa lagi seperti yang sudah-sudah, setiap kali hari berganti dan ia dapati segala sesuatu di hadapannya tetap tak menunjukkan tanda-tanda akan adanya secercah harapan. Seolah masa mudanya yang berharga akan semakin banyak tersita di tempat yang muram ini, dan yang menantinya di depan sana hanyalah kegelapan sepi tak berujung.

Revan mendesah, seperti biasa mencoba menipu diri bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tenang saja, kau akan segera terbangun, bisiknya pada diri sendiri.

“Dik, itu ada titipan lagi,” seorang wanita muda berseragam putih-putih memberitahu sambil lalu ketika langkahnya melewati bangku yang tengah Revan duduki.

Revan mendongak, memandang perawat itu sejenak.

“Di ruang perawat, seperti biasa,” yang dipandang buru-buru menjelaskan.

Dengan tanpa energi, Revan mengangguk. Lima detik berselang ia bangkit dengan malas dari duduknya, berjalan gontai menyusuri koridor yang suram menuju meja perawat di ruangan paling ujung.

Sebuah buku tebal diterimanya dari sana dengan perasaan datar saja. Ia sudah tak bertanya lagi. Ia tahu pengirim buku tersebut adalah orang yang sama dengan yang selama ini sering menitipkan roti dan susu kotak untuknya dengan cara serupa. Ia bahkan tak begitu ingin tahu apa judul buku itu. Bacaan, huh? Yang benar saja. Bagaimana ia bisa fokus membaca dalam situasi seperti ini?

Sesampainya ia di bangku semula lagi, dibuka-bukanya saja buku itu dengan pikiran mengambang. Pengelihatannya pun tidak benar-benar ia fokuskan untuk mencermati huruf-huruf yang tercetak di atas lembaran demi lembaran di hadapannya. Sekilas dari judulnya yang tak sengaja ia lihat tadi, yang oleh anak kecil pasti akan disalah-persepsikan sebagai buku resep masakan atau serba-serbi sayur sop, ini adalah buku motivasi.

Tapi persetanlah dengan segala kalimat yang terdengar hebat itu. Ia punya kecenderungan berpikir bahwa motivasi yang dikomersilkan adalah sesuatu hanya indah secara teori. Saat dipraktekkan, yang ada justru kerap merasa seperti terolok-olok oleh teori itu sendiri.

Pada halaman yang ke sekian, beberapa objek menarik perhatiannya. Si pemilik buku memberi highlight pada kata-kata tertentu menggunakan stabilo warna biru. Yang ditandai itu bukan keseluruhan quote, melainkan sejumlah kata yang masing-masing berdiri sendiri.

Malah ada sebagian yang hanya huruf-huruf tunggal saja—pasti karena orang itu tak berhasil menemukan kata yang diinginkannya. Semua itu tersebar acak di seluruh halaman buku, hingga ke halaman-halaman berikutnya. Kata pertama yang ditandai di situ adalah Tuhan, berikutnya adalah mempunyai, lalu cara, ...

Revan menyipitkan matanya. Ia mulai mengerti, si pemilik buku berusaha mengatakan sesuatu kepadanya. Dicobanya untuk merangkai semua kata dan huruf yang diberi highlight itu dari awal. Bunyinya menjadi seperti ini:

Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk memberi perhatian khusus pada hamba-hamba-Nya, yang tak akan mudah kita mengerti. Tapi mau bagaimana lagi? Derita, kesulitan, kesedihan, adalah bagian dari lika-liku kehidupan.

Agak terlalu egois jika kita membenci Tuhan hanya karena Dia memberi kita nol koma sekian persen medan yang sedikit berat dari keseluruhan jalan kita, setelah terlalu banyak kemudahan kita nikmati dengan berlagak polos, tanpa pernah kita ungkit dalam doa-doa kita.

Ini adalah proses. Kau pun tak harus selalu tegar. Cukup jalani saja dengan selalu menyertakan-Nya di setiap urusan.

Dan jangan malas makan. Menjaga kesehatan adalah langkah nomor satu untuk merealisasikan baktimu pada ibumu, jika kau benar-benar sayang padanya.

Revan terpana.

Selama beberapa saat, ia terlarut merenungi ucapan si pemilik buku di dalam pesan itu. Perlahan, kabut tebal yang belakangan ini rapat melingkupi pikirannya mulai menyingkir, memberinya akses menuju sebuah cara pandang baru yang lebih terang. Tanpa sadar, bibirnya membentuk seulas senyum. Senyum yang pertama semenjak ia menerima kabar bahwa ibunya tak sadarkan diri setelah terserempet mobil sepulang dari berbelanja.

 

***

 

Sejak dari luar pagar halaman, perhatian Revan sudah tersita oleh keberadaan sosok itu. Seorang gadis berperawakan kurus, berambut sebahu, mengenakan kaos panjang berwarna biru dan celana training abu-abu tua. Ia duduk di sudut beranda dengan kedua kaki dinaikkan ke kursi. Kepalanya tertunduk, memandangi sebuah benda di pangkuannya sepenuh konsentrasi, seolah jiwanya telah tersedot ke dalam dunia lain yang ada di dalam benda itu, hingga ia tak akan terusik lagi oleh situasi apa pun di sekelilingnya.

Sekali lagi, tak akan terusik. Walau di halaman rumah itu mendarat sebuah pesawat aneh berbentuk seperti belimbing, lalu dari dalamnya keluar para alien berlendir hijau sekalipun, pikir Revan sinis.

Dan ya, benda apa lagi yang sanggup membuat gadis itu bersikap seolah-olah di dunia ini ia hidup seorang diri, jika bukan sebuah buku.

 “Ehm!” Revan terpaksa harus berdehem agak keras untuk menyadarkan gadis itu tentang kehadirannya, sebab hingga langkahnya sampai di bibir teras pun gadis itu tetap tak ada pertanda akan mengangkat kepala. “Sekar ada?”

Orang yang Revan tanyai, yang tak lain adalah Hana, mendongak sebentar dengan ekspresi yang benar-benar datar, kemudian menyahut singkat, “Nggak ada.”

“Pergi ke mana?”

Ia mengangkat bahu.

“Emang waktu pamit dia nggak bilang mau ke mana?”

“Nggak.”

Dan sejenak kemudian, ia sudah kembali tenggelam menekuri buku di pangkuannya lagi.

Revan berdecak jengkel. Memang selalu begitu kelakuan Hana sehari-harinya. Buku telah ia salahgunakan fungsinya sebagai alasan untuk melarikan diri dari keharusan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sebuah perangai apatis yang disamarkan dalam balutan kesan intelek.

Dasar kutu buku gadungan!

Kalau saja yang ada di depannya itu adalah teman dekatnya, Revan pasti sudah merebut buku itu dan memukulkannya ke kepala si empunya. Untunglah mereka tak cukup akrab untuk mengekspresikan kejengkelan secara frontal macam itu.

Karena tak mungkin hanya berdiri saja seperti orang bodoh, terpaksa Revan duduk di kursi lain yang masih kosong, yang dengan kursi tempat Hana duduk dipisahkan oleh sebuah meja.

Beberapa menit berlalu, Revan menyabarkan diri menunggu. Ketika kemudian ia menengok arlojinya dan sadar bahwa sudah 10 menit ia diabaikan, ia mulai kesal.

“Aku nanyain Sekar sama kamu karena handphone-nya nggak aktif. Kamu tahu, kan, dia emang suka matiin handphone kalau lagi ngisi baterei?” Revan berusaha menekan intonasinya supaya tidak terang-terangan terdengar kesal. Sebab ia yakin gadis ini akan semakin sulit diajak bicara jika mereka sampai bertengkar.

Tak ada sahutan.

“Yang aku mau tahu, dia itu sebenernya perginya jauh atau deket? Kalau sekadar belanja ke minimarket depan, aku bisa tunggu.”

Hana tetap tak bereaksi.

“Permisi!” Revan mulai kehabisan kesabaran. “Emangnya kamu bener-bener bisa konsen baca dalam situasi kayak gini ya? Nggak akankah kamu melakukan, atau setidaknya mengatakan sesuatu, buat ngasih aku semacam kepastian? Biar gimana pun, aku ini tamu lho di sini!”

Hana menelengkan kepalanya, menatap Revan dengan mata menyipit yang seolah ingin menyatakan bahwa ia merasa terganggu, sebelum akhirnya menjawab dengan nada menyebalkan yang sok tanpa merasa berdosa, “Aku juga di sini cuma ngekos. Bukan aku tuan rumahnya.”

Astaga!

Revan tak habis pikir, berasal dari planet mana sih sebenarnya makhluk di hadapannya itu? Benar-benar orang paling aneh yang pernah ia jumpai di dunia.

Namun belum juga Revan berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas kelakuan menyebalkannya, gadis itu buru-buru bangkit dari duduknya dan melenggang ke arah pintu.

Revan sudah hendak membiarkan saja gadis aneh itu berlalu. Toh tak ada fungsinya juga keberadaannya di sini. Namun hanya sekitar tiga detik berselang, ekor mata Revan menangkap suatu objek di atas meja. Sebuah novel lawas terjemahan, yang—ia pernah membacanya sekilas—menceritakan tentang misteri pembunuhan di atas kereta.

Ia tahu persis siapa yang sangat menggemari jenis bacaan macam itu. Lagipula pasti sudah jarang orang mengoleksinya. Hanya orang-orang tertentu saja, yang seleranya agak sedikit ‘unik’. Sejujurnya ia sendiri agak bosan ketika mencoba membacanya, dan memutuskan untuk berhenti sebelum sampai di pertengahan cerita.

“Itu buku Sekar, kan?” Revan mencoba memastikan.

Hana menghentikan langkah, ditatapnya Revan dengan alis sedikit mengernyit.

Revan menunjuk buku di atas meja dengan isyarat matanya. “Aku tahu buku-buku macem itu. Dulu Sekar  sering pinjemin aku, di suatu tempat. Dia bilang, itu koleksi milik omnya yang udah dihibahkan ke dia.”

Hana memandangi Revan dengan tatap menyelidik yang sulit dipahami. Cukup lama. Sebelum akhirnya, dengan suara pelan yang ganjil, ia bertanya, “Kamu bilang, Sekar sering pinjemin kamu buku? Di suatu tempat?”

“Ya. Di rumah sakit,” jawab Revan apa adanya. “Dulu waktu ibuku dirawat di sana, dia juga ada keluarganya lagi dirawat di ruang sebelah. Dia merhatiin aku dari jauh, sering minjemin aku barang-barang, tapi nggak mau menampakkan diri. Barangnya dititipin lewat orang lain.”

Ada sorot yang mendadak aneh dari sepasang mata Hana. Menajam beberapa saat, berkilat-kilat, lalu meredup. Dan sesaat kemudian, hampa.

Revan tercekat, merasa terperangkap di dalam lorong-lorong labirin imajiner misterius di alam bawah sadarnya. Entah mengapa, ia merasa tatap itu seperti menyiratkan sesuatu. Seolah ada perasaan tertentu yang menyerang Hana dengan sekonyong-konyong, yang gadis itu sendiri pun belum memperkirakan sebelumnya.

Tersinggung atas suatu hal? Tapi apa? Revan sudah mencoba meninjau ulang semua kalimatnya barusan, tapi ia tak menemukan sesuatu yang salah dari apa yang telah ia ucapkan.

Selagi Revan dibuat sibuk menerka-nerka, Hana mengambil buku dari atas meja dengan gerak yang Revan sadari sudah tidak semantap tadi. Kini terlihat agak kurang berenergi, dan... sedikit gemetar?

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

“Are you okay?" Tanya Revan cemas. 

Gadis itu menghindari tatapan Revan. Matanya dikerjap-kerjapkan berulang kali. Setelah memastikan tak ada lagi barangnya yang tertinggal, ia bergegas masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apa-apa lagi, meninggalkan Revan termangu seorang diri dalam ketidakmengertian aneh yang tak bisa ia terjemahkan untuk dirinya sendiri.

 

***

 

Langit hanya tersaput awan tipis-tipis, birunya terlihat lebih syahdu dari biasanya, begitu serasi saat berpadu dengan sapuan keemasan sinar matahari sore pada pucuk-pucuk pepohonan, serasa membisikkan melodi damai melalui angin sepoi yang membelai lembut daun-daun dan menggoyangkan tangkai-tangkai bunga.

Sayangnya, orang yang sedang bersama Revan saat ini bukanlah orang yang akan membuatnya merasa lengkap untuk menikmati keindahan senja itu. Keberadaannya tak menambah kesan apa pun selain mempertegas kekosongan hatinya atas sesuatu. Bahkan paras cantik itu sudah tak mampu lagi membuatnya terkagum-kagum. Semudah itulah ia berubah. Dan semendadak itulah ia menyadari dirinya telah berubah.

Entah. Rasanya saat ini ia sudah tak tertarik lagi untuk mengetahui apa yang perempuan itu pikirkan tentangnya. Sama tak tertariknya saat ia terpaksa harus berbasa-basi menanyakan kabar, pekerjaan, kesibukan sehari-hari, juga pembahasan klise lainnya yang biasa terjadi antara dua orang kenalan lama yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Dan dapat dipastikan ia tak mau menyentuh area yang lebih personal—yang biasanya masih membuat orang penasaran dari seorang mantan. Ia benar-benar tak ingin tahu, dan baginya semua itu sudah tak penting.

 “Aku nggak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, bahwa suatu saat di hari esokku, aku akan menempuh jarak sejauh ini buat ketemu kamu, tapi tujuan utamaku justru orang lain,” kata Revan dalam senyum gelinya yang hambar.

Di sebelahnya, duduk di ujung salah satu bangku taman, Sekar tertunduk, tak kunjung berhenti memain-mainkan ujung blusnya. Itu adalah gestur khasnya saat berusaha mengatasi perasaan gugup. “Maaf,” sejak tadi hanya kata itu yang terus diulang-ulangnya.

Hal berikutnya yang lebih aneh lagi, Revan tak merasakan sesuatu yang meledak-ledak di dalam hatinya tentang kebohongan Sekar. Harusnya, begitu ia sadar telah menjalani sebuah hubungan yang penuh kepalsuan dan dibiarkan tetap tak tahu apa-apa selama bertahun-tahun—padahal kisah itu sendiri sudah lama berakhir, hal yang setidaknya ia rasakan adalah marah, atau tak percaya.

Dan jika ternyata ia tak bisa merasakan salah satunya, mestinya ia membenci dirinya sendiri. Tapi semua itu tak ada. Begitu poin utamanya terekspos, ia sudah tak ingin memedulikan lagi hal-hal lainnya.

Satu-satunya yang kini begitu dominan menguasai dirinya hanyalah rindu. Rindu pada malaikat misterius pemilik payung biru yang dulu ia kenal di rumah sakit itu, juga rindu pada perempuan membosankan yang setiap malam mengabaikan dan membuatnya jengkel di kedai mie ayam dekat kantornya. Ya, Hana baginya hanyalah Hana saja sekarang, tak peduli apakah itu yang versi malaikat, ataupun yang teramat sangat menjengkelkan dengan sikap tak pedulinya itu. Perempuan itulah satu-satunya yang kini ia inginkan.

“Kenapa kamu bilang itu payungmu?” Tanya Revan tercenung, terkenang kembali sore itu di trotoar depan kampus saat pertama kali ia dan Sekar bertemu.

Dulu, sebelum Sekar hadir di hidupnya—praktis ia belum diperkenalkan pada Hana juga, nama insial HA yang tertulis pada payung dan buku-buku itu tak memberi petunjuk apa-apa padanya, bahkan sudah terlupakan. Saat Sekar mengiyakan saja bahwa payung itu benar miliknya, dan bahwa orang yang sewaktu di rumah sakit dulu telah memberi Revan banyak bantuan sekaligus penghiburan hati tanpa meninggalkan identitas itu memanglah dirinya, Revan juga belum memiliki alasan untuk meragukannya. Ia memercayainya begitu saja, bersyukur, dan sekaligus bahagia bahwa malaikat itu ternyata begitu cantik. Lalu, dengan mudahnya, ia jatuh cinta.

Tapi kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri untuk menampakkan diri, meskipun kadang sangat terlambat. Dan Revan begitu terhenyak saat akhirnya menyadari bahwa inilah jawaban dari sikap aneh Hana sore itu. Ah, bukan sikap aneh sebenarnya, tapi ekspresi terluka. Terluka karena sahabat dekatnya telah merebut dengan curang sesuatu yang seharusnya miliknya, dengan lagak seolah tak merasa berdosa.

Lalu kini, penjelasan Sekar hanyalah sebuah alasan yang tak bermutu. Bahkan sepertinya ia tak yakin dengan jawabannya sendiri. “Entahlah, mungkin... karena... mmm, kamu ganteng dan keren.”

Revan mendengus masygul, “Sedangkal itu saja alasan kamu untuk berbohong? Dan mengambil alih peran yang harusnya milik orang lain?”

“Saat itu aku belum mikir terlalu jauh,” sahut Sekar murung. “Aku cuma melihat ada peluang bagus untuk deket sama cowok sekeren kamu. You know, di lingkungan pergaulanku, bisa dapetin cowok selevel kamu itu sebuah kebanggaan besar. Jadi ya... demi kebanggaan itu, aku iya-iyain aja semua yang kamu bahas waktu itu, walaupun sebenernya aku nggak ngerti.”

Sekarang Revan ingat bagaimana dulu Sekar selalu menghindar setiap kali ia membahas hal-hal yang berhubungan dengan masa-masa ia menunggui ibunya di rumah sakit. Pernah ia bertanya di mana Sekar dulu membeli roti itu, sebab ia terkadang rindu ingin bernostalgia dengan cita rasa yang pernah memberinya kehangatan hati dan semacam asupan energi untuk tetap optimis menghadapi kesulitan, tapi jawaban Sekar tak pernah pasti, atau terkadang secara asal-asalan merekomendasikan sebuah merk lain sebagai gantinya dan menyuruhnya melupakan saja roti tak penting itu.

 “Padahal kamu pasti udah bisa baca situasinya sejak awal, bahwa sesuatu antara aku dan Hana itu bukan sekadar hubungan yang dangkal, meskipun saat itu aku belum tahu siapa namanya dan seperti apa orangnya,” kata Revan benar-benar menyayangkan sikap Sekar yang menggampangkan sebuah keputusan hanya untuk hal yang tidak terlalu prinsip.

“Ya,” Sekar menjawab lirih, belum berani menatap mata Revan. “Kamu berulang kali ngomongin hal itu. Tentang bagaimana kamu bisa menjalani hari-harimu dengan lebih mudah berkat kehadirannya, walau hanya berupa titipan barang-barang, atau pesan-pesan di dalam buku.”

Revan mengangguk. Kehadiran Hana, dengan cara apa pun ia hadir, meski Revan tak pernah bertemu langsung dengan orangnya, baginya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa tentram. Setidaknya ia tahu ia tak sendirian. Ada seseorang yang istimewa di dekatnya, memerhatikannya, peduli padanya.

Ia bahkan masih ingat rasa dari gelora yang saat itu berdesir di dalam darahnya setiap kali teman misteriusnya itu mewakilkan hadirnya melalui suatu benda. Entah persisnya sejak menerima titipan yang ke berapa, yang jelas tak butuh waktu lama baginya untuk merasakan sebuah keasyikan baru bernama menunggu. Dan melalui cara si teman misterius itu merangkai kata, ia dapat melihat sebuah perspektif yang tak biasa tentang hidup. Ia terpesona, merasa tersejukkan oleh kata-kata ajaib di dalam pulasan highlight berwarna biru itu, teraliri banyak sekali energi positif, dan menginginkan lebih.

Jika hampir seminggu ia tak menerima titipan apa pun, ia mulai resah. Ada semacam tuntutan dari dalam dirinya, atau mungkin kebutuhan, untuk mendapatkan suntikan semangat yang baru. Dan tanpa malu-malu lagi ia kerap menanyakan pada perawat yang bertugas, tak ada lagikah titipan buku—atau apa pun—dari orang itu untuknya.

Seiring kedekatan emosionalnya dengan teman misteriusnya, dengan sendirinya ruang imajinasinya mulai mencoba mereka-reka, seperti apa kira-kira rupa fisik sang teman. Ia yakin itu seorang perempuan, ia bisa merasakannya. Dan dari cara berpikirnya yang unik, mungkin perempuan itu bukanlah seseorang dengan penampilan yang mainstream, apalagi korban trend fashion. Bisa jadi ia agak terlihat cupu, atau berkacamata tebal, dan potongan rambutnya tidak berkiblat pada style mana pun alias lurus saja tanpa model. Selain itu, melihat kepiawaiannya menyusun kalimat dan juga kesehariannya yang akrab dengan buku, sepertinya ia sangat nyastra, atau mungkin punya cita-cita di bidang yang tak jauh-jauh dari literasi.

Kini ia gamang sendiri menyadari bahwa hampir semua tebakannya itu benar, sementara di sisi lain ia juga mengenal seseorang yang memiliki kriteria yang mirip dengan yang telah ditebaknya, namun kedua faktor itu tak pernah bertemu untuk ia cocokkan, karena ada Sekar di tengah-tengahnya sebagai pemblokade.

“Padahal dari sikap Hana yang aneh, harusnya aku udah curiga,” gumam Revan menyesalkan ketidak-pekaannya sendiri.

“Jadi, saat akhirnya kamu tahu bahwa orang yang kamu cari itu ternyata adalah Hana, apakah hatimu langsung bisa nerima dia?” Tanya Sekar masih terdengar kaku. “I mean, sebelumnya di pikiran kamu udah terlanjur tercetak bahwa secara fisik Hana itu aku. Setelah kamu terkejut dan sebagainya dengan fakta baru bahwa kamu salah orang, apa ada satu sisi diri kamu yang ingin menyangkal?”

Revan menggeleng. “Sulit dijelaskan, tapi hatiku mungkin udah lebih dulu mengenali dia sebelum kebenaran ini terungkap. Kamu juga tahu sendiri, dia orangnya bener-bener sulit dihadapi. Tapi sejak dulu, tiap kali ketemu dia, aku merasa kayak nggak bisa melewatkan dia begitu aja. Walaupun pada akhirnya aku memutuskan untuk nggak memusingkan kehadirannya lagi—setelah berulang kali aku dicuekin, sebenernya diam-diam aku masih selalu  merhatiin dia. Yeah, walaupun hanya untuk berpikir bahwa temenmu itu aneh.”

“Dan kamu diberikan lagi kesempatan kedua,” kata Sekar terdengar seperti ingin menghibur, yang sebenarnya sangat ironis. “Apa di kesempatan kedua itu, sikapnya masih aneh kayak dulu?”

“Masih. Tapi aku bahkan semakin sabar deketin dia, di saat aku juga bingung sama diriku sendiri kenapa aku harus repot-repot lakuin itu.”

“Mungkin seperti itulah, bagaimana hati nggak bisa ditipu,” komentar Sekar, mulai memberanikan diri menatap Revan, meski gerak bola matanya masih menyiratkan gelisah.

Revan mengangguk setuju.

“Sebenernya dia bukan cewek aneh dan sulit dihadapi seperti yang kamu pikir kok," Sekar menjelaskan. "Di luar sana dia normal. Agak pendiam, iya. Tapi kalau judes, enggak. Dia bersikap kayak gitu cuma sama kita berdua, semenjak dia tahu bahwa aku merampas karakternya untuk kuperankan sendiri, tanpa setidaknya menjelaskan belakangan, atau minta pengertiannya karena udah terlanjur terjadi demikian. Kamu inget saat aku bawa kamu ke kos-kosan dan kuperkenalkan kamu ke dia sebagai pacarku? Dia cuma kelihatan kaget, tapi waktu itu belum mulai berubah sikap. Karena dia masih mengira kita jadian secara alami, bukan dengan aku berbuat curang.”

Tentu saja, Revan masih ingat dengan baik hari itu. Tatap Hana begitu tertegun, lama sekali, sampai Revan harus menanyainya, “Ada masalah?”

Hana memang gugup sejenak ketika menggeleng, tapi hari itu ia masih tersenyum, bahkan sempat menawari ia dan Sekar untuk dibuatkan minuman.

Ya, Hana belum menyadari apa-apa saat itu, walau sangat terlihat dari sorot matanya bahwa ada sesuatu yang ia tekan dan sembunyikan di dalam hatinya. Sejenis kekecewaan, yang menurut Revan agak aneh sebab ia pikir mereka baru pertama kali bertemu.

“Harusnya dia bilang aja terus terang, kan? Dengan sikapnya yang memendam semuanya sendirian kayak gitu, masalah jadi memanjang sampai sejauh ini.”

“Sebenernya... dulu dia pernah mencoba menyampaikan sesuatu ke kamu,” ucap Sekar kembali gugup, murung, sekaligus ragu, ekspresi dari sepotong hati yang dipenuhi rasa bersalah.

“Apa itu?”

“Ada satu buku milikmu yang dia pinjam diam-diam dari meja kamarku tanpa pernah kutahu. Udah cukup lama buku itu ada sama dia. Lalu suatu hari—waktu itu kamu udah lulus, dia tiba-tiba berpamitan, katanya dia terpaksa berhenti kuliah karena suatu alasan. Buku itu dia titipin sama aku untuk dikembalikan ke kamu.”

“Buku yang mana?”

“The Alchemist.”

Revan mengernyitkan dahi, berpikir. Benar, buku itu memang sudah lama tak terlihat. Tapi itu milik kakaknya, jadi ia tak pernah sadar bahwa buku sudah tak ada lagi di rak buku rumah mereka.

“Dia tahu kalau aku masih nyimpen nomor teleponmu. Jadi walau kita udah nggak berhubungan, kita masih bisa menghubungi satu sama lain, kalau kita mau. Tapi aku justru memutuskan untuk nggak hubungin kamu saat aku tahu bahwa di dalam buku itu terselip sebuah pesan. Padahal, aku yakin dia juga sadar kalau pesan itu akan ketahuan olehku.

Dan justru dia membiarkan aku tahu karena dia percaya aku akan menyampaikan amanatnya itu. Kurasa, dia sedang memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku.

Tapi, yeah, aku nggak melakukannya. Bukan karena aku nggak ingin kalian meluruskan salah paham lalu get together seperti yang seharusnya, tapi karena aku nggak punya kepercayaan diri untuk mengakui dosa-dosaku di depanmu.”

"Ya?" Revan menyahut pelan dalam ketertegunan, hampir tak memercayai pendengarannya sendiri, berharap Sekar akan mengulanginya sekali lagi.

Untuk yang ke sekian kalinya, Sekar menunduk, memain-mainkan ujung bajunya. "Satu hal yang kamu nggak tahu, aku ninggalin kamu bukan karena aku udah nggak suka padamu. Aku ninggalin kamu justru karena aku terlalu suka padamu, bahkan makin suka dari hari ke hari. Tapi gimana aku bisa bertahan, sedangkan aku tahu kalau yang kamu sukai itu sesungguhnya bukan aku? Setiap harinya, aku harus terus bergulat dengan berbagai macam ketakutan, kecemburuan terhadap Hana, juga rasa bersalah.

Makanya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah mundur. Tapi maaf, aku masih belum bisa jujur saat itu. Dan ternyata aku tetap nggak punya keberanian untuk jujur, sampai kamu menemukan sendiri fakta tentang Hana beberapa waktu yang lalu."

Revan memandangi Sekar lekat-lekat, masih berusaha mencerna apa yang gadis itu ceritakan. “Apa isi pesan di buku yang dia titipin ke kamu itu?”

Sekar tidak menjawab, tapi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku bersampul oranye, The Alchemist. Diulurkannya buku itu ke hadapan Revan.

Revan menerima benda yang Sekar sodorkan masih tetap dengan dahi mengernyit, membuka-bukanya selama beberapa saat, lalu menemukan sepotong kecil kertas terselip di sela-selanya. Sederet kalimat dalam goresan tinta biru yang tidak begitu rapi tertulis begitu lugas di kertas itu.

Aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya jika kita terhubung lagi dengan cara seperti dulu, namun kali ini kaulah yang akan menamparku dari kekhilafan pesimisme akut—yang entah mengapa bisa semudah itu memerosokkanku—dengan kata-kata penghiburan apa pun yang bisa kau tuliskan.

Jika memungkinkan, aku sungguh berharap akan menemukan kalimat-kalimat ajaibmu di kotak masuk surel ini: Hana1Aprilia@gmail.com.

Revan semakin tertegun.

Satu menit, dua menit, tiga menit... tak pulih-pulih. Ada yang terasa menyesak di dalam rongga dadanya. Sangat sesak. Cerita antara ia dan Hana, ternyata lebih complicated dari yang telah ia duga sebelumnya.

Tiba-tiba, ia mendapati dirinya begitu marah. Marah pada situasi, marah pada Sekar, juga marah pada dirinya sendiri.

 

***

Bersambung.

Baca Juga: [CERBUNG] Malaikat Berpayung Biru (Part 1)

Mangivera Indica Photo Community Writer Mangivera Indica

Rain lover

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You