Comscore Tracker

[CERPEN] Santoso dan Bapak

Semua orangtua tidak ingin kelak anaknya menyesali masa mudanya

Karena anak juga ingin hidup bebas

Hari ini hari Senin, Santoso melakukan rutinitas seperti hari-hari lain pada umumnya. Mulai dari bangun pagi, sholat subuh, bermain ponsel sambil menunggu sarapan siap, sarapan, mandi dan persiapan untuk ke sekolah, berangkat ke sekolah hingga saat ini waktu telah menunjukkan pukul 14.30.

Bel tanda pulang telah berbunyi. Guru pengajar pun telah menyiapkan siswanya untuk berdoa bersama dan persiapan untuk pulang, begitu pula dengan Santoso. Santoso merupakan salah seorang murid kelas 12 di Madrasah Aliyah (MA) atau setara dengan kelas 3 SMA, kelasnya sudah bubar 11 menit yang lalu. Keadaan kelas sudah sepi, hanya tinggal empat orang yang tersisa. Itu pun karena saat ini mereka mendapat tugas untuk piket, membersihkan ruang kelas.

“Gue pulang duluan ya,” ujar Santoso seraya menggendong tas ranselnya.

“Yoo,” jawab Rini dan Bambang hampir bersamaan.

Santoso berjalan keluar dari ruang kelas, dengan kunci motor di genggaman. Berjalan lurus melewati teras beberapa kelas dengan sesekali menoleh ke kiri, memperhatikan keadaan kelas-kelas lain. Toh, keadaanya sama saja seperti kelasnya yang sudah sepi tak berpenghuni, sebagian sudah pulang ke rumah atau pun nongkrong entah dimana.

Sesampainya di parkiran ia mengenakan helm kemudian memasukkan mata kunci ke lubang kunci, lantas memutarnya ke arah kanan, menekan tombol stater dan alhasil sepeda motor Yamaha milik Santoso pun menyala.

Ia mengendarainya dengan berhati-hati, mengeluarkannya dari deretan motor lain yang masih bersemayam tidak beraturan di parkiran sekolah. Memutar gas dengan perlahan, keluar dari gedung sekolah. Mengendarainya hingga ke tempat les di mana ia akan belajar lagi di tempat tersebut.

Sejak memasuki kelas 12, orangtua Santoso mendaftarkanya ke tempat bimbingan belajar yang cukup bergengsi di daerah tempat tinggalnya. Tidak semua siswa dapat les di tempat tersebut, karena memang bimbel tersebut menerapkan sistem belajar yang cukup ketat untuk ukuran tempat les. Selain itu, biayanya pun cukup menguras isi dompet.

Jadwal les Santoso hari ini yaitu Matematika, dengan tutor Bu Sita. Bu Sita masih muda dan belum menikah, baru saja menyandang gelar Sarjana Pendidikan di jurusan Matematika. Parasnya yang cantik membuat para murid laki-laki di tempat les ini menjadi bersemangat mengikuti pelajaran di ruang kelas. Pikirannya yang cerdas dan selalu memiliki cara mudah dalam menjawab tiap soal-soal sulit yang dihadapi para siswa membuatnya nampak begitu menarik.

Meskipun begitu, Santoso tetap tidak tertarik kepadanya. Terlebih lagi pada pelajaran yang saat ini Bu Sita sajikan, ia hanya memperhatikan ke papan tulis dengan pandangan kosong dengan tangan kiri menopang dagu.

Satu setengah jam berlalu, musik klasik mulai diputar di tiap ruang kelas untuk memecah kebosanan para siswa. Ini pun menandakan waktunya istirahat bagi kami. Santoso mengubah posisi duduknya, sekarang ia duduk bersandar dengan kedua kaki diluruskan. Durasi musik ini sekitar 4 menit, kemudian pelajaran Bu Sita pun berlanjut.

**

Hari ini hari Selasa, Santoso melakukan rutinitas seperti hari-hari lain pada umumnya. Mulai dari bangun pagi, sholat subuh, bermain ponsel sambil menunggu sarapan siap, sarapan, mandi dan persiapan untuk ke sekolah, berangkat ke sekolah hingga saat ini waktu telah menunjukkan pukul 14.35 dan kelas sudah berakhir sekitar 5 menit yang lalu.

Guru pengajar di jam terakhir pun sudah meninggalkan kelas dan mempersilahkan para murid untuk pulang. Namun Santoso bersama dengan Bambang masih berdiam diri di ruang kelas, memainkan ponsel masing-masing. 

Hari ini ada jadwal latihan basket, ekstrakulikuler yang Santoso dan Bambang ikuti. Waktu latihan dimulai setelah sholat ashar, entah pukul berapa, yang pasti setelah para pemain kumpul di lapangan basket depan masjid. Karena itulah, Santoso dan Bambang tetap berada di kelas meskipun teman-teman satu kelasnya yang lain sudah pulang sejak tadi. Santoso tiduran diatas meja yang terletak di barisan paling depan, sedangkan Bambang duduk bersandar di bangku tepat didepan Santoso tiduran. Sudah sekitar 12 menit mereka saling diam, sibuk dengan urusan ponsel masing-masing.

Pukul 15.05 suara azan berkumandang dari masjid sekolah, Bambang memasukkan ponselnya kedalam saku kemudian memakai sepatu yang sejak tadi memang sengaja ia lepas. “San, cabut!” ujar Bambang seraya berdiri dan mengangkat ranselnya dari lantai. Santoso duduk di meja, tapi Bambang sudah mulai berjalan meninggalkan Santoso.

“Tungguin, woi!” Teriak Santoso sambil bergegas menyusul Bambang yang sudah berjalan menuju ke masjid.

Santoso dan Bambang menunaikan ibadah sholat Ashar berjamaan terlebih dahulu bersama dengan teman-teman yang lain, sebelum latihan basket.

**

“Pulang dari les?” Tanya Bapak menyambut Santoso yang baru sampai di rumah. Santoso sampai di rumah pukul 19.20, belum terlalu larut memang untuk ukuran anak muda seperti Santoso. Namun bagi Bapak, Santoso sudah melakukan kesalahan yang fatal.

“Tadi latian basket,” jawab Santoso. “Besok minggu tanding,” tambahnya seraya duduk di sofa sambil melepas sepatu.

Bapak melipat tangan di dada, memperhatikan Santoso lamat-lamat. “Kamu itu udah kelas 3 sebentar lagi ujian, nggak usah ikut-ikutan tanding atau apalah itu namanya. Fokus belajar, biar bisa kuliah di Undip!”

Santoso mulai menunduk seraya menjawab “besok tanding terakhir kok”.

“Terakhir-terakhir, minggu lalu bilang terakhir, bulan lalu ngomong terakhir. Kamu kalo nggak mau dengerin Bapak nggak usah minta uang saku lagi!”

Santoso diam membisu, dan Bapak mulai memarahi Santoso habis-habisan.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

Ini bukanlah pertama kalinya Bapak memarahi Santoso, sejak Santoso duduk di bangku kelas 12 Bapak sering mengomel. Bapak tidak senang Santoso ikut basket, takut kalau mengganggu belajarnya. Namun sejak kelas 10 Santoso selalu masuk dalam peringkat 5 besar di kelas, sehingga peringkat tersebut pun dapat menjadi bukti bahwa basket tidak berpengaruh terhadap nilai sekolah Santoso.

Tapi, rapor kenaikan kelas lalu peringkat Santoso anjlok. Ia berada di urutan 9 di kelas, merosot jauh dari perkiraannya. Meskipun rata-rata nilai Santoso naik, namun Bapak hanya memperhatikan peringkatnya semata.

Tidak peduli berapa pun nilainya kalau peringkatnya merosot tetap saja jelek. Karena hal itulah, di kelas 12 ini Bapak begitu keras terhadap Santoso. Bahkan mengikutkan Santoso ke bimbingan belajar terbaik di daerahnya, serta selalu mengawasi Santoso tiap malam ketika belajar.

Santoso merasa begitu di kekang, Bapak ingin Santoso dapat kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) di jurusan Teknik Mesin, agar kelak dapat melanjutkan bengkel milik Bapak yang sudah cukup besar ini. Di tempat Santoso, Undip merupakan universitas terbaik di daerahnya.

Banyak tetangganya yang mendaftar di kampus tersebut, melalui beberapa macam seleksi masuk. Namun, hanya beberapa anak saja yang dapat lolos dan menjadi mahasiswa disana. Sejauh ini, baru dua orang dari tetangganya yang telah menjadi mahasiswa disana. Anak Bu Lastri di jurusan Biologi dan anak pak RT di jurusan Hukum. Persaingan yang begitu ketat membuat Bapak bersikap begitu keras pada Santoso.

**

Hari ini hari Kamis, ada sedikit perubahan pada rutinitas sehari-hari Santoso. Ia tidak lagi melakukan persiapan untuk berangkat sekolah, karena Ujian Nasional telah usai dan secara otomatis seluruh siswa kelas 12 sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar lagi di sekolah.

Meskipun begitu, Santoso saat ini tengah memiliki rutinitas baru. Pasca ia dinyatakan ditolak melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, biar lebih pendek sebut saja SNMPTN. SNMPTN itu seleksi PTN yang menggunakan nilai raport.

Mengetahui hasil tersebut Bapak tidak marah, mungkin hanya kecewa. Hal itu berdampak pada waktu belajar Santoso. Santoso tidak diizinkan untuk main bersama teman-temannya atau sekedar nongkrong sampai ujian tulis di PTN Berlangsung, ujian itu biasa disebut SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sekitar satu bulan lebih 3 minggu, Santoso dipaksa untuk fokus belajar materi SBMPTN. Jadwal les Santoso pun semakin padat, mulai pukul 09.00 hingga pukul 17.00.

Sama halnya dengan sang Bapak, Santoso pun ingin dirinya dapat lolos SBMPTN. Mengetahui hasil SNMPTN lalu membuat Santoso menjadi putus asa. Nyatanya nilai yang selama ini Santoso capai tidak dapat mengantarkannya menuju ke kampus yang ia inginkan. Di hari pasca melihat hasil pengumuman itu Santoso mengunci dirinya di kamar, menangis seharian. Santoso merasa telah gagal dan membuat Bapak dan Ibu kecewa. Bapak hanya diam tidak berkomentar, begitu pula dengan Ibu. Keesokan harinya Bapak mengajak Santoso bicara saat makan di waktu pagi.

“Sebenarnya Bapak kecewa, kamu sudah melewatkan kesempatan besar,” ujar Bapak memulai percakapan di meja makan. Perkataan itu berhasil membuat hati santoso bagai tercabik, Santoso menunduk tidak berani melihat kearah Bapak yang akan mulai berbicara panjang lebar.

“Tapi kamu jangan sampai patah semangat seperti ini Santoso,” tambah Bapak.

Santoso hanya diam, memainkan sendok makannya.

“Seharusnya kamu gunakan itu sebagai motivasi, biar kamu tidak gagal lagi ke depan. Bapak yakin kamu bukan satu-satunya murid yang tidak lolos seleksi. Ratusan ribu anak lain juga bernasib sama sepertimu, dan bisa jadi saat ini mereka tengah mempersiapkan diri dengan baik untuk seleksi ujian tulis nanti,” kata Bapak menasihati. Santoso masih tetap menunduk, dengan sendok di tangan kanannya. “Santoso, lihat Bapak kalau lagi ngomong!” Suara Bapak meninggi. Ibu yang duduk tepat di sebelah kanan Bapak menjadi kaget.

Santoso meletakkan sendok yang ia mainkan di atas piring yang telah berisi makanan, kemudian secara perlahan mengangkat kepala, mulai menatap mata Bapak.

“Kamu tidak harus kuliah di Teknik Mesin, kamu juga tidak harus kuliah di Undip. Itu hanya saran Bapak saja, Bapak rasa itu pilihan yang baik buat kamu San. Kamu mau ambil jurusan basket pun Bapak izinkan,” Bapak mengangkat gelas dan menenggak air putih.

“Bapak meminta kamu untuk belajar, melarang ikut ekstrakulikuler, melarang kamu untuk main saat ini bukan tanpa alasan. Bapak tidak ingin kelak kamu menyesal, dulu juga Bapak pernah muda, pernah jadi anak bandel yang nggak bisa nurut kayak kamu ini.” Bapak menghentikan kalimatnya. Hati Santoso mulai tersentuh oleh kalimat yang Bapak lontarkan.

“Dengerin Bapak ya San, saat ini bukan saat yang tepat buat kamu untuk menjadi egois. Sampingkan dulu keinginanmu yang ingin berhura-hura, main sama teman-teman kamu. Sampingkan pula perasaan kecewamu ini. Bapak tahu kamu kecewa karena tidak lolos, tapi kamu jangan patah semangat seperti ini. Bapak keluarin uang untuk kamu les, gunakan itu sebaik-baiknya.

Kelak kalau kamu berhasil, kamu juga yang akan merasa bangga. Bapak dan Ibu hanya bisa membantu kamu dengan materi dan doa seperti ini saja. Kamu sendirilah yang menentukan. Kalau mau lolos ujian tulis ya belajar, dengerin kata Bapak”.

“Habiskan makananmu!” kata Bapak sambil menyuapkan sesendok makanan penuh untuk dirinya sendiri. Santoso melirik kearah Ibu, Ibu melemparkan senyumannya kemudian mengangguk satu kali. Santoso mengambil sendoknya dan mulai menghabiskan makanan dihadapannya itu.

Usai makan Santoso tiduran di ranjang, ia mimikirkan nasehat Bapak barusan. Memang benar kata Bapak, sekarang bukan saat yang tepat untuk bersikap egois. Tiap Santoso meminta uang, Bapak selalu sedia dan tanpa banyak bertanya selalu memberikan. Meskipun terkadang Santoso suka melebihkan uang yang ia minta, tidak sesuai dengan nominal asli yang ia bayarkan. Bapak juga tidak mempermasalahkan uang itu meskipun dulu pernah tertangkap basah melebihkan biaya untuk membayar buku LKS.

Benar kata Bapak, sekarang bukan saat yang tepat untuk menjadi egois. Santoso memang tidak lolos SNMPTN, ratusan ribu siswa kelas 12 yang mendaftar juga bernasib sama sepertinya. Toh, kedepan masih ada SBMPTN. Seharusnya ia tidak membuang-buang waktu. Ratusan ribu murid lain pasti memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan Santoso saat ini, sedih, kecewa, putus asa.

Kalau saja Santoso bisa memanfaatkan hal ini menjadi peluang, dengan mulai belajar untuk persiapan SBMPTN tentunya ia akan berada selangkah lebih maju dibanding yang lain. Toh nantinya mereka pula yang akan menjadi saingan Santoso di SBMPTN.

Benar kata Bapak, sekarang bukan saat yang tepat untuk menjadi egois. Tidak ada jurusan kuliah yang jelek, mahasiswanyalah yang menentukan baik atau buruknya suatu jurusaan, semua tergantung pribadi masing-masing mahasiswa. Terlepas dari itu perkataan Bapak juga benar, Bapak ingin santoso kuliah di Teknik Mesin bukan tanpa alasan.

Selama Bapak membuka bengkel, hingga saat ini bengkel Bapak sudah berdiri kokoh di pinggir jalan besar dengan 7 karyawan, selama itu pula Santoso tidak pernah menyetuh mesin di bengkel milik Bapaknya sendiri. Pengetahuannya tentang mesin sangat payah, dan semakin lama Bapak semakin menua, tidak seaktif dulu lagi. Lantas siapa nantinya yang akan melanjutkan usaha bengkel ini, salah satu dari 7 karyawan itu?

Santoso merenung, ia mengubah posisi tidurnya, tengkurap dengan posisi wajah yang dibenamkan ke bantal.***

Nikhlatul Maula Photo Community Writer Nikhlatul Maula

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You