Comscore Tracker

[CERPEN] Suara-suara yang Lenyap

Bayangkan ketika kau tak bisa menyuarakan pemikiranmu lagi

Seorang lelaki berkepala plontos baru saja masuk ke ruang interogasi untuk pertama kalinya dengan wajah yang murung. Pandangan matanya selalu turun. Langkahnya malas—kakinya selalu menyeret. Mulutnya mengatup rapat. Di sebelahnya seorang perempuan berkerudung senantiasa mengiringi langkahnya sambil terus menggamit tangannya. Wajah perempuan itu memang tak semurung lelaki di sebelahnya, tetapi keresahan beserta dendam dan amarah tampak melebur di matanya.

“Jadi, sudah berapa lama suami Anda mulai kehilangan suaranya?” tanya seorang polisi yang sudah duduk di depan sebuah komputer begitu pasangan itu duduk.

“Dari seminggu yang lalu,” jawab si perempuan.

“Apa sudah diperiksakan ke dokter?”

“Sudah, Pak.”

“Lalu?”

“Kata dokter semuanya baik-baik saja. Gak ada masalah dengan pita suara suami saya.”

“Apa otaknya juga sudah diperiksa?”

“Maksud sampeyan suami saya sedeng, begitu?” Suara perempuan itu serta-merta meninggi.

Si polisi mesem-mesem. “Bukan begitu, Bu. Maksud saya, mungkin suami ibu terjatuh dan terbentur di kepala sehingga menyebabkan trauma yang membuatnya tak bisa bicara.”

“Suami saya bukannya gak bisa bicara, Pak. Tapi gak bisa bersuara!”

Suaminya mengangguk.

“Lho, ya sama saja, kan, Bu?”

“Terdengar sama tapi sebenarnya berbeda, Pak!”

Polisi itu mengernyit. Ia diam sebentar demi menelaah ucapan perempuan berhidung bangir itu. Tapi polisi itu tak dapat meresap apa-apa di kepalanya.

Memangnya sejak kapan orang bisa bicara tanpa bersuara?

“Suara suami saya ada yang mencurinya, Pak. Ada yang mencurinya!”

Kasus lenyapnya suara lelaki berkepala plontos itu menjadi kasus langka nan rumit yang dihadapi polisi di republik ini selama berpuluh-puluh tahun mengusut berbagai tindak kejahatan pencurian. Sebab selama ini yang umum hilang dan dilaporkan tak lebih dari keberadaan benda hidup maupun benda mati yang nyata bentuknya. Sementara suara bukan tergolong benda nyata yang bisa disentuh apalagi dicuri.

Saat kali pertama mengadu perempuan itu mengatakan bila suara suaminya telah dicuri oleh sekelompok orang bertopeng di suatu malam yang larut. Ia mengetahui hal itu setelah tergopoh-gopoh berlari ke luar rumah tatkala mendengar jeritan suaminya yang baru saja tiba membuka pagar rumah. Tapi perempuan itu terlambat sebab setibanya di muka pintu ia hanya mendapati suaminya telah tersungkur dengan mulut menganga, sedang sekelompok orang berpakaian serba putih berlalu dengan mobil hitam tanpa pelat nomor.

“Salah satu dari mereka membawa sebuah kantung berwarna putih. Seperti kantung bekas tepung kanji. Saya yakin kantung itu berisikan suara suami saya yang mereka curi, Pak,” terang perempuan itu kepada polisi esok paginya.

“Memangnya untuk apa mereka mencuri suara suami Ibu?”

“Lah, ya mana saya tahu. Bisa saja suara suami saya digunakan sebagai suara tambahan untuk pemilu tahun depan, ‘kan?”

“Ah, ujung-ujungnya disambung ke urusan politik,” gumam polisi itu sambil menarik napas panjang. Tapi, polisi itu lantas berpikir, andaikan apa yang diucap itu benar berarti urusan ini akan menjadi urusan yang runyam lagi berat. Sebab selama ini tiada lagi urusan yang paling berat diusut polisi selain yang bersangkutan dengan para elit politik.

“Suamiku bukan hanya tak bisa bicara, tapi juga sudah tak bisa bersuara.” Perempuan itu benar-benar menyadari bila suaminya tak dapat lagi bicara sebab di malam pencurian itu suaminya benar-benar tak bisa memberikan kesaksian sekalipun lewat tulisan.

“Jadi mereka bukan hanya mencuri suaramu, tapi otakmu juga, Mas?” sergah perempuan itu jengkel begitu mendapati tulisan-tulisan suaminya serupa huruf sansekerta di atas kertas.

“Au-a ... Aa-auu ... Uu-aa-u ...”

Lelaki itu berusaha bicara tapi tetap saja percuma. Tak ada makna apa pun yang keluar dari mulutnya.

“Sudahlah, Mas. Aku gak ngerti kamu bicara apa. Tapi ini pasti ulah para politikus-politikus itu, kan, Mas?”

“Aa-u! Auu-au!” Lelaki itu manggut-manggut sambil mengacungkan jempolnya.

Saat itulah istrinya menyadari bahwa suaminya telah benar-benar kehilangan suaranya. Itu berarti suaminya bukan hanya tak bisa bicara, tapi juga tak bisa mengutarakan pendapat bahkan kebenaran sekalipun dalam bentuk tulisan. Suaranya benar-benar telah dibuat lenyap. Suaminya benar-benar telah dibungkam.

Jauh sebelum suaranya dicuri, lelaki bermana Nanam ini adalah mantan wartawan yang beralih profesi menjadi aktivis. Ia adalah satu dari sekian orang yang paling lantang bersuara dan kritis terhadap pemerintahan dan para pemimpin yang kerap berdusta atas nama rakyat sampai-sampai mulut mereka berbusa. Tak terkecuali orang-orang yang mengaku-aku sebagai penyambung lidah rakyat tapi kenyataannya betapa sulit disentuh oleh rakyat.

Lelaki itu tak hanya aktif bersuara sebagaimana mulut berbicara, tapi juga bersuara melalui tulisan-tulisannya. Ia memiliki pengamatan yang tajam. Ia bisa menebak elit politik mana yang berkaitan dengan sebuah perkara korupsi yang sedang diusut lembaga antirasuah negara ini. Ia bisa tahu pencaturan politik seperti apa yang sedang dibentuk oleh koalisi ini dan koalisi itu. Ia bisa memetakan siapa dalang konspirasi yang mengkambinghitamkan segelintir orang maupun kelompok tertentu.

Kadang kala suara-suaranya itu disampaikan lewat cuitan sederhana di media sosial. Kadang kala dirangkai lebih serius di sebuah kolom koran harian. Kadang kala di sebuah blog. Kadang kala melalui sebuah cerita pendek. Bahkan pernah dalam bentuk sebuah buku—sekalipun kemudian dilarang beredar.

Tapi semenjak pencurian yang menimpanya pada tengah malam yang larut itu, ia tak bisa lagi bersuara. Segala hal yang ditulisnya benar-benar tak dapat lagi dipahami bahkan oleh ahli tafsir.

Kasus hilangnya suara Nanam pun menggemparkan negara ini. Presiden sampai sesama aktivis sibuk menyampaikan rasa duka atas hilangnya suara lelaki itu. Berbagai media massa pun memberitakan dengan judul yang dramatis. Para elit politik dan wakil rakyat pun mengaku merasa kehilangan suara-suara kritis lelaki malang itu—meski sebetulnya tak ada yang tahu seperti apa perasaan mereka sebenarnya.

“Tak ada kehilangan yang lebih pedih kecuali kehilangan suara-suara kita,” ujar Farhi Jamah, Wakil Ketua Dewan Pembinaan Rakyat yang dulu sering dikritik Nanam.

Lantas, lambat laun apa yang menimpa Nanam mulai menjadi agenda diskusi di mana-mana. Lelaki itu tak jarang diundang meski sama sekali sudah tak bisa bersuara. Tapi memang bukan Nanam yang kini lantang bersuara, melainkan perempuan berkerudung yang selalu setia mendampinginya.

“Kejahatan saat ini bukan dengan cara menghilangkan nyawa, tapi dengan menghilangkan suara. Ini sangat-sangat mengerikan,” kata istrinya saat membuka sebuah forum diskusi yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

“Kasus pembunuhan aktivis saja sulit diusut tuntas di negara ini sampai sekarang. Apalagi dengan kasus hilangnya suara ini,” kata seorang aktivis lain dengan memberikan tekanan pada kata ‘hilangnya suara’.

Nanam hanya bisa manggut-manggut di tempat duduknya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda dan berjarak hampir 25 kilometer jauhnya, Ketua Umum Partai Gergaji baru saja memulai berolahraga malam saat seorang ajudan mengetuk pintu kamar apartemennya terburu-buru.

“Sialan! Mengganggu saja! Kenapa ketuk-ketuk?” sergah lelaki bertubuh tambun itu sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Padahal, baru juga ia mulai terbiasa mengatur tempo push up di atas tempat tidurnya. Manusia memang selalu senang mengganggu kesenangan manusia lainnya, batinnya sebal.

“Maaf, Bos. Ada berita penting,” seru ajudannya dari balik pintu.

“Berita apa?!”

“Perempuan itu sepertinya sudah tahu kasus yang sedang diusut oleh suaminya, Bos.”

“Ah, setan!” rutuk lelaki tambun itu yang tanpa sadar menghentakkan bokongnya keras sekali sampai-sampai terdengar suara ‘plok’ yang segera disambut rintihan seorang perempuan.

“Aduh. Sakit, Bapak!” keluh seorang perempuan yang sedari tadi rebahan di bawah tubuh si ketua partai bertubuh bulat itu.

“Ah... maaf, Sayang. Ada kabar yang membuatku kesal. Kita pause dulu olahraganya, ya.”

“Tapi jangan lama-lama, ya, Pak. Hari ini aku ada kelas.”

“Halah! Ngapain kamu masih kuliah? Gak dapet duit aja kamu. Sudah tunggu dulu. Nanti aku beri duit lebih supaya kamu bisa beli tas Gucci yang kamu mau itu.”

“Ah, yang benar, Pak?”

“Iya!”

Lelaki tambun itu lantas berdiri, memakai lagi sempak, celana dan baju piyamanya, lalu beranjak menghampiri ajudannya yang menunggu di muka pintu dan mereka melangkah menuju ruang tengah.

Di ruang tengah apartemennya itu sudah ada televisi yang menyala. Pada televisi layar datar itu terlihat jelas seorang perempuan berkerudung tengah berbicara lantang membahas soal pencurian suara suaminya. Perempuan itu lagi-lagi menekankan keyakinannya bila suara suaminya hilang dicuri oleh elit politik bertopeng yang tak ingin kebusukannya terbongkar.

Perempuan itu bersaksi bahwa beberapa waktu lalu suaminya sedang menulis dugaan adanya konspirasi besar yang melibatkan para elit politik untuk mengambil alih pemerintahan dan melanggengkan kekuasaan kelompok mereka dengan banyak cara. Tapi, sayangnya, catatan itu belum sampai separuh jalan sebab suara suaminya keburu dicuri.

“Setan alas! Perempuan itu harus dibungkam!” sergah si Ketua Umum Partai Gergaji itu sampai-sampai mukanya memerah. Bagaimanapun, ia tak mau kalau sampai konspirasi itu ketahuan. Elektabilitas dirinya dan partai tak boleh turun sampai pemilihan presiden tahun depan tiba.

“Siap, Bos!” seru ajudannya sambil memberi hormat.

“Suara-suara itu jauh lebih berbahaya daripada keberadaan tubuh seseorang. Suara-suara, entah yang keluar lewat mulut maupun yang ditulis pada permukaan batu sama berbahayanya dengan mata pedang bagi para penjahat. Itulah alasan suara-suara itu berusaha dihilangkan,” ujar seorang aktivis terkemuka di sebuah acara diskusi yang kembali disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

“Kasus menghilangkan suara ini sebetulnya lebih menguntungkan dibandingkan dengan menghilangkan nyawa. Karena suara-suara yang hilang ini dapat diganti dengan suara-suara yang baru. Suara-suara yang sudah bisa diatur untuk melanggengkan kekuasaan,” sambungnya lagi.

Sementara itu, sepasang suami istri yang sama-sama kehilangan suara hanya bisa mengangguk-angguk setuju di tempat duduknya. Sesekali keduanya menyeka pipi yang ditumpahi air mata kebencian. Sesekali keduanya ikut berseru—meski hanya lenguhan panjang yang terdengar—penuh semangat.

Mereka selalu diundang di berbagai acara diskusi mengenai kebebasan bersuara dan demokrasi selama enam bulan terakhir ini. Tapi diskusi-diskusi itu tak lebih dari hujan rintik yang sekadar turun dalam lima menit di tengah-tengah panasnya gurun pasir. Sebab kasus pencurian suara tak pernah benar-benar bisa diungkap, bahkan oleh tim khusus bentukan presiden sekalipun.

Sementara setiap kali acara diskusi itu berlangsung, beberapa penonton di studio maupun di rumah hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Sesekali mereka bertepuk tangan penuh semangat sebagai tanda amat setuju pada sebuah pernyataan kritis oleh aktivis muda. Terkadang pernyataan-pernyataan kritis itu membuat mereka juga rindu untuk bersuara. Namun sayang, kebanyakan dari mereka juga telah kehilangan suara setelah sekelompok orang mencurinya. ***

Bekasi, 14 Juli 2018

Baca Juga: [CERPEN] Kakek Penjual Kembang dan Si Pemuda Kaya

Rahardian Shandy Photo Verified Writer Rahardian Shandy

Rutin menulis sejak 2011. Beberapa cerpennya telah dibukukan dan dimuat di media online. Ia juga sudah menulis 4 buah buku non-fiksi bertema bisnis. Sementara buku fiksi pertamanya terbit pada 2016 lalu berjudul Mariana (Indie Book Corner).

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You