Comscore Tracker

[CERPEN] Perempuan Kucing

“Akan kurawat sampai kau benar-benar siap untuk pergi.”

 

Perempuan itu berhenti melangkah saat mendapati seekor kucing kampung yang betapa kotor dan buluk melintas di dekatnya. Kucing berbulu putih dan bertutul cokelat kayu itu tampak lusuh lagi kotor oleh tanah dan air comberan.

Beberapa bulu di bagian belakang cuping dan punggungnya tampak terjumput hingga menyisakan garis panjang memerah. Satu kaki depannya selalu menekuk seolah enggan menapaki tanah—membuat jalannya berjingkat-jingkat.

“Kau seperti kucing yang habis keluar dari wilayah Gaza atau Suriah. Benar-benar berantakan,” kata Ranti yang tanpa canggung memangku kucing buluk itu. “Akan kurawat kau sampai benar-benar sehat lagi,” sambungnya sambil tersenyum hangat. Matanya betapa berbinar saat mengatakan demikian, seolah ia tahu akan ada ilham yang diterimanya kelak.

“Akan kurawat sampai kau benar-benar siap untuk pergi.”

**

Perempuan itu hidup hanya bersama kucing-kucing kampung peliharaannya. Ia tak memiliki jenis kucing selain kucing kampung sebab kucing-kucing itu didapatinya hampir dalam kondisi serupa—terlantar dan terluka di jalanan.

Ranti tinggal di sebuah kontrakan tanpa kamar tidur yang telah kosong hampir tiga tahun lamanya. Tak ada yang pernah benar-benar tahu dari mana Ranti berasal sebab ia hanya akan tersenyum tipis sambil berlalu setiap kali ada yang bertanya perihal asal usulnya. Dan selama dua tahun tinggal di sana ia tak pernah mendapati satu pun tamu kecuali tetangga yang memberikan nasi kotak hajatan atau anggota sensus.

Namun Ranti pernah mengatakan sebuah alasan mengapa ia begitu menyukai kucing kepada tetangganya yang masih bocah. “Kucing memiliki cinta yang lebih tulus daripada manusia. Kau harus tahu itu,” katanya sambil melepas senyum.

“Dan kau tahu,” katanya lagi, “Hanya kucing yang paling mengerti perasaanku. Karena mereka makhluk yang peka.”

Bocah itu mengangguk sambil sesekali menyesap ingusnya yang sesekali menjuntai keluar dari lubang hidungnya. Bocah itu lantas bertanya, “Apa itu berarti kau ingin kawin dengan kucing?”

Ranti menjawab dengan anggukan kepalanya sambil berkata bahwa itulah yang diinginkannya.

Dan seolah bocah itu pernah mengamini tanpa sadar atau barangkali semesta sendiri yang mengamini ucapan Ranti pagi itu, maka kelak ia pun benar-benar hampir kawin dengan seekor kucing yang ditemukannya betapa berantakan bagai habis keluar dari wilayah Gaza.

**

Sebelum Ranti hampir kawin dengan seekor kucing, dulu sekali ada seorang lelaki di lingkungan tempat tinggal Ranti saat ini yang hilang tanpa jejak. Rumornya lelaki itu hilang setelah mampu menguasai ilmu penjelmaan.

Lelaki itu bernama Darman dan ia betapa memiliki banyak binatang peliharaan. Namun seorang tukang kebun pernah bersaksi bahwa lelaki itu tak memperlakukan binatang-binatang itu semestinya. Di sekali petang ia pernah mendapati Darman tengah menghajar anjing ras Belgian Malinois peliharaannya dengan sebuah balok sampai sekarat.

Lalu di petang yang lain ia pernah mendapati Darman melemparkan burung kakatua yang sayapnya sengaja diikat karet gelang ke kolam renang. Ia juga pernah mendapati Darman menyetubuhi seekor kuda betina di kandangnya. Lalu di petang yang lain ia memergoki Darman menguliti kucing kampung peliharaannya di taman belakang.

Lelaki itu betapa berlaku layaknya bukan manusia ketika tengah melakukan semua itu, kata tukang kebun itu dua hari setelah Darman tiba-tiba saja hilang entah ke mana. Darman, menurutnya, bertindak bagai tak bernurani dan tak berperasaan. Bahkan masih hangat di ingatannya bagaimana Darman menunjukkan kepadanya kucing yang baru saja dikuliti sambil berkata:

“Kucing ini telah berani kencing di sofaku. Padahal ia telah kuberi makan dan tempat tinggal. Benar-benar bangsat, kan?!”

Dan si tukang kebun yang tubuhnya kurus itu hanya bisa menelan ludah sambil mengangguk resah.

Darman hilang tanpa meninggalkan jasad atau jejak apa pun di suatu pagi yang dingin. Si tukang kebun itu tak mendapati siapa pun kecuali rumah yang telah kosong dan berantakan setibanya di sana. Beberapa tetangga yang sempat melintas saat akan menuju ke pasar bersaksi bahwa rumah itu bagai kebun binatang yang ditinggal penjaga di pagi buta. Seluruh binatang keluar dari dalam sana dan berlari ke seluruh penjuru mata angin.

“Hanya binatang dan tak ada satu pun sosok manusia yang terlihat,” kata salah seorang tetangga bersaksi. Dari situlah lantas banyak yang percaya bahwa Darman telah menjelma jadi seekor binatang entah apa dan ia menghilang bersama binatang peliharaannya yang sengaja dilepas.

“Darman pasti menjelma menjadi babi! Babi ngepet!”

**

Kucing kampung itu menjelma menjadi seorang lelaki di suatu malam yang larut dan Ranti tak terperanjat mendapati hal itu. Ia bagai tahu sejak awal bila kucing itu akan menjelma menjadi manusia. Sebab itu matanya begitu berbinar tatkala ia menatap mata kucing itu saat kali pertama menemukannya.

Semenjak kedatangan kucing itu Ranti tak ingin berbagi tempat tidurnya lagi dengan kucing-kucing lainnya. Hanya kucing itu yang akan selalu berada di atas perutnya setiap malam. Hingga tibalah di suatu malam yang senyap, kucing itu pun serta-merta menjelma menjadi seorang lelaki yang tampan lagi gagah.

Bulu-bulunya yang putih dan bertutul cokelat kayu itu perlahan luruh. Ekornya memendek hingga lesap entah ke mana. Cakarnya sirna berganti jari dan kuku. Taringnya rontok bagai ranting yang patah dan berganti gigi.

Ranti mengerang menahan sesak begitu menyadari sesuatu yang berat sekonyong-konyong menindih tubuhnya. Namun bagai seorang putri yang menanti pangerannya, Ranti justru tersenyum saat menatap mata lelaki itu.

Dan bagai menahan berahi sejak lama, lelaki itu pun melumat bibir Ranti penuh napsu. Perempuan itu tak dapat bergerak sebab tubuh lelaki itu kadung menelikungnya. Tangan lelaki itu bahkan mampu menanggalkan pakaian Ranti tanpa perlu membukanya—ia merobeknya. Demikian pula dengan celana dan pakaian dalamnya hingga tak ada di antara keduanya yang berbalut kain.

Namun ketika lelaki itu hendak menghunjamkan kemaluannya ke lubang vital Ranti, sesuatu yang tajam sekonyong-konyong mengoyak punggungnya. Lelaki itu mengerang hingga urat lehernya menyembul nyata. Sebentar kemudian darah pun melembak dari punggungnya hingga mengular jatuh ke tubuh Ranti. Lelaki itu tak menyadari bahwa yang mencabiknya adalah kuku-kuku Ranti yang telah menjelma jadi cakar seekor kucing. Di waktu bersamaan gigi-giginya pun berubah menjadi taring.

Ranti bagai siluman kucing. Ia mengeong dan mengerang, lalu tanpa peringatan ia pun menerkam lelaki itu tepat di titik nadi lehernya. Mencabil-cabik lehernya hingga darah kental pun membanjiri mulutnya. Lelaki itu tak dapat melawan. Ia lengah dan hanya bisa mengerang panjang. Namun itu adalah erangan terakhirnya. Tubuhnya menggelinjang sebentar di atas tubuh Ranti sebelum napas terakhirnya berembus.

Kucing-kucing lain yang terbangun kala itu hanya tercenung. Sementara perempuan itu kemudian menyingkirkan tubuh si lelaki yang tak lagi berdaya dari tubuhnya. Ia kemudian bergerak turun dari tempat tidurnya sambil berjalan dengan bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.

Sebentar kemudian tubuh perempuan itu kian menyusut bersamaan dengan tumbuhnya bulu-bulu yang menyelimuti setiap inci kulitnya. Ekor pun tumbuh menjuntai di bokongnya. Matanya burubah bulat dan ia mengeong betapa manis. Perempuan itu menjelma menjadi kucing betina berbulu hitam legap.

Perempuan itu telah kembali ke wujud asalnya; seekor kucing yang menaruh dendam pada seorang manusia yang pernah memelihara dirinya dan kekasihnya dan binatang-binatang lainnya. Seekor kucing yang menyaksikan bagaimana manusia itu menguliti tubuh kekasihnya sebab tak sengaja kencing di sofanya. Sejak hari itu dendam menyelubungi jiwanya.

Selepas lelaki itu berhasil mengubah dirinya menjadi seekor kucing dan binatang-binatang lainnya, tanpa diketahui siapa pun kucing betina itu mempelajari ilmu penjelmaan demi bisa menuntaskan dendamnya. Ia belajar dari buku yang dipelajari Darman—yang ditinggalkan begitu saja—hingga ia pun berhasil menguasainya.

Ia berhasil menjelma menjadi manusia hingga pencariannya pun tertuntaskan saat tanpa sengaja mendapati lelaki itu tengah terluka dalam wujud kucing yang berantakan seperti baru keluar dari Gaza. ***

Rahardian Shandy Photo Community Writer Rahardian Shandy

Rutin menulis sejak 2011. Beberapa cerpennya telah dibukukan dan dimuat di media online. Ia juga sudah menulis 4 buah buku non-fiksi bertema bisnis. Sementara buku fiksi pertamanya terbit pada 2016 lalu berjudul Mariana (Indie Book Corner).

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You