-Panji-
PENGHUNI BARU
**
~Celakalah yang akan menghuni rumah itu.~
Dua tahun rumah itu tidak berpenghuni. Ia masih megah walaupun diselimuti tumbuhan liar menjalar. Cat temboknya sudah banyak terkelupas. Wujudnya sudah pasti akan membuat siapa pun yang melihat berjengit dan memutuskan untuk kabur, tidak peduli terang, rumah itu selalu berkabut, atau berasap di sekelilingnya. Sering kali bentuk asapnya menyerupai cakar. Cakar yang mencengkeram erat. Seolah-olah alam telah mengklaim rumah itu sebagai bagian dari dirinya.
Warga Desa Wingit selalu merinding bila melewati rumah besar dua lantai bergaya Belanda itu. Rumah paling mencolok di antara bangunan yang ada di desa. Seperti siapa pun tahu, hal-hal yang berbau Belanda memiliki mistiknya sendiri. Ingatan historis yang memilukan. Ditambah lagi sudah menjadi cerita turun-temurun bahwa tanah tempat rumah itu dibangun adalah tanah terlarang. Tanah wingit.
Panji, pemuda yang mendapat tugas untuk membantu ibunya membersihkan rumah itu, berdiri menyandar pohon dekat pagar rumah. Dia tengah mengumpulkan niat dan keberanian. Dia belum bergerak sama sekali sejak tiba di sana sekitar dua jam lalu. Dia memang disuruh datang lebih dahulu sebab ibunya perlu ke pasar untuk menitip daun pisang. Panji melihat rumah itu dan pikirannya terseret ke masa lalu. Sebuah ingatan yang tersusun dari riwayat-riwayat yang terlontar dari mulut banyak orang. Ingatan itu bukan miliknya, tetapi begitu jelas terbayang di benak. Wujud megah rumah yang bikin jengah itu menambah jelas ingatan.
Panji memukul-mukulkan arit ke batang pohon. Bunyinya menggiring ingatannya semakin nyata pula. Puluhan tahun silam, Desa Wingit masih sebuah wilayah dengan sedikit penghuni. Jarak antarrumah cukup jauh. Suatu waktu, seorang keturunan Belanda yang baru dapat jabatan tinggi di suatu pabrik gula ingin membangun rumah di tanah terlarang. Warga desa sudah mewanti-wanti orang Belanda itu. Panggil dia Meneer. Bisa pamali kalau berani bikin bangunan di atas tanah itu. Meneer itu kaya, dan siapa pun tahu, kekayaan adalah salah satu kekuatan super yang bisa memukul mundur orang terkuat pun. Warga desa tidak bisa berbuat banyak sementara bahan-bahan bangunan memasuki desa dan terjadilah proses pembangunan rumah itu. Warga menyaksikan pembuatan rumah itu dengan bergidik. Rumor beredar dalam kebisuan, bahwasanya Meneer itu melakukan semacam tumbal. Tidak terelakkan, rumah itu akhirnya berdiri kokoh.
Semasa pembangunan rumah itu, banyak warga yang mengaku melihat adanya penampakan. Seolah-olah penghuni lahan itu mulai menunjukkan eksistensi mereka. Bisik-bisik antarwarga, mereka harap-harap cemas ada pekerja yang celaka. Namun, itu tidak terkabulkan sampai pembangunan rumah selesai.
Tidak lama setelah rumah itu selesai, sang Meneer membawa serta istrinya yang cantik luar biasa. Meneer menyebut istrinya dengan nama Putri. Sosok wanita anggun yang tampak ramah dan bersahaja. Beredar desas-desus kalau Putri sudah menikah tiga belas kali. Meneer adalah suami keempat belas dan yang terakhir.
Kehidupan di dalam rumah itu tampak normal-normal saja. Warga yang awalnya takut, seolah-olah teryakinkan oleh sosok Putri. Keanggunan Putri mengusir hal-hal seram yang menyelimuti pekarangan rumah itu. Lama-kelamaan desa itu berkembang dan penduduknya bertambah. Putri mempekerjakan orang-orang desa untuk membantu Meneer di pabrik gula serta di kebun belakang rumah. Beberapa orang juga membantu membersihkan rumah.
Semua tampak baik-baik saja. Hanya satu yang tidak. Pasangan Meneer dan Putri tidak kunjung dikaruniai anak. Dari apa yang dilihat warga, mereka tidak kelihatan terganggu sama sekali. Semua tampak baik-baik saja. Sampai akhirnya Meneer meninggal tanpa alasan yang jelas. Tidak ada angin tidak ada badai. Meninggal begitu saja di suatu hari yang seharusnya menjadi hari baik bagi siapa pun. Meneer meninggal di hari Raya Kurban.
Semenjak itu, semakin sedikit orang yang dipekerjakan Putri. Perlahan-lahan Putri mengisolasi dirinya di dalam rumah. Bertahun-tahun berlalu sampai Putri menjadi tua dan warga menyebutnya dengan Mbah Putri. Rumah itu jarang sekali diurus. Bisa jadi hanya sekali dalam setahun rumput dan tumbuhan liar dipangkas oleh tukang kebun. Meskipun begitu, Mbah Putri masih sering terlihat di jendela, menyapa warga dengan senyumnya yang menawan.
Lama-kelamaan, senyum yang ditampakkan Mbah Putri terasa ganjil. Di saat tidak terduga, salah satu warga lewat depan rumah dan kaget bukan main melihat Mbah Putri yang memakai gaun putih pernikahan, berdiri dekat dan hampir menempel di jendela. Pulasan wajahnya terlalu putih dan celak matanya terlalu hitam. Siapa pun akan lari tunggang-langgang menyaksikan itu di siang bolong sekalipun.
Rumor berkembang dan banyak warga menganggap apa yang pernah terlihat di jendela bukanlah Mbah Putri, melainkan sesuatu yang lain. Ada demit yang menjelma.
“Penghuni sebenarnya tengah menampakkan diri,” kata satu orang.
“Masa berlaku tumbalnya mungkin sudah habis, makanya sudah mulai bermunculan hal-hal yang lain,” kata yang lain.
Itu benar, setelah senyum ganjil tampak di jendela, beberapa warga lain mengaku melihat penampakan-penampakan sosok-sosok tinggi berwarna abu-abu. Apa yang tampak oleh mata mereka tidak selalu sama.
“Betul, kan. Tanah itu keramat. Harusnya dari dulu tidak boleh didirikan bangunan.”
“Meneer pemilik rumah ini tidak tahu adat kita, jadinya semena-mena. Dia tidak tahu ada alam lain. Ada penghuni yang bukan manusia. tidak boleh diganggu.”
“Apa mungkin, sebetulnya Mbah Putri sudah meninggal?”
Pertanyaan itu mendorong Pak RT untuk mengecek kondisi Mbah Putri. Beliau masih hidup walau tampak menyedihkan. Warga beranggapan kalau Mbah Putri masih berkabung atas meninggalnya Meneer meskipun belasan tahun sudah berlalu. Pak RT akhirnya meminta ibu-ibu untuk menemani hari-hari Mbah Putri. Tiga bulan kemudian, Mbah Putri mengembuskan napas terakhir.
Itu dua tahun lalu. Dan kira-kira seperti itu kisahnya.
Dan selama dua tahun, pertanyaan-pertanyaan muncul. Siapa yang akan menempati rumah itu? Apakah Mbah Putri punya ahli waris? Siapa yang sedang menghuni rumah itu sekarang? Ketika Panji mendapat tugas membersihkan tumbuhan liar, dia menerka, rumah ini pasti akan mendapatkan penghuni baru. Barangkali mereka menemukan sang ahli waris. Atau pembeli untung-untungan? Panji dengar rumah itu dijual dengan harga sangat murah.
“Iya, sebentar lagi rumah itu akan ada penghuninya. Tiga hari lagi orangnya datang untuk melihat-lihat. Makanya sampean bantu Ibu bersihin rumah itu ya, Le,” kata ibu Panji, mengonfirmasi. “Lumayan, Le. Ibu dapat duit. Ibu juga bakal ajak ibu-ibu lain untuk bantu bersihin dalamnya.”
“Aku boleh ajak teman juga, Bu?” tanya Panji, tiga jam lalu.
“Ya coba saja. Ada yang mau nggak?” Ibunya tertawa.
Dan tentu saja tidak ada yang mau walaupun diberi persenan. Tadinya ada teman Panji yang hampir mau, tetapi baru sampai depan pagar, dia sudah balik kanan. Lalu Panji menghabiskan waktu dua jam merenung, terhanyut masa lalu yang tersusun oleh isu-isu.
Akhirnya, setengah jam lebih lama, ada yang menawarkan bantuan. Yaitu Mbah Suro. Tetua desa yang paham betul mengenai klenik dan kejawen. “Sekalian mantau, Le.” Mbah Suro mengeluarkan aritnya yang mengilat. Panji tahu, Mbah Suro rajin mengasah senjatanya. Biasanya diasah di malam-malam tertentu, malam satu suro misalnya. Menggunakan air kembang setaman dan bacaan-bacaan khusus.
Panji yang sebenarnya kurang nyaman dengan sosok Mbah Suro, bisa bersyukur sedikit karena bebannya berkurang. Namun, hal lain akan menimpa. Kakek nyentrik yang suka melinting rokok kelobot itu bisa melihat alam gaib. Fakta atau mitos itu sudah membuat Panji waswas. Akan sangat menyebalkan kalau Mbah Suro tahu-tahu menunjuk suatu sudut dan menjelaskan ada apa di sana. Seolah-olah membaca pikiran Panji, Mbah Suro berkata, “Tenang, nggak usah takut. Mbah nggak akan macam-macam.”
Panji cuma membalas dengan cengiran. Biar tidak berlama-lama berduaan saja dengan Mbah Suro, Panji mulai membabat rumput liar. Kalau saja tidak ada Mbah Suro, Panji mungkin baru akan mulai sekitar dua jam lagi kalau ibunya sudah datang. Mungkin di situasi itu Panji akan santai tanpa memikirkan yang aneh-aneh. Saat ini, setiap kali dia mengayunkan arit, bulu kuduknya merinding. Dia coba mengabaikan itu, tetapi malah membuat tangannya lemas. Panji mengibaskan tangannya. Sembari itu dia mengawasi Mbah Suro. “Lho, ke mana Mbah Suro?” Panji mengedarkan pandangan. “Pasti lagi cari gara-gara.”
Panji benar-benar menggigil dan merinding sekarang. Dia melihat Mbah Suro menunjuk sesuatu di sisi kiri rumah dekat dengan pohon tinggi. Mbah Suro seperti sedang berkomunikasi dengan entah apa itu.
“Aduuuh.” Panji meringis. Tanpa menunggu lama, dia putar balik dan memutuskan pulang.
Di tengah jalan, dia bertemu ibunya. “Lho, Le, memang sudah selesai?”
Panji tidak enak menjawabnya, “Anu, ada Mbah Suro, Bu.”
Ibu Panji, geleng kepala dan tampak kesal. “Wong iku jan tenan. Sudah, Ibu yang minta dia pergi nanti. Sekarang ikut Ibu, bantu Ibu.”
Panji menengok ke sekeliling. “Bu, teman Ibu ada yang mau bantu?”
“Halah, ternyata pada batal semua, Le. Pada takut. Sampean gak takut tho?”
Panji menggelengkan kepala, menyeringai. “Kenapa takut, Bu? Kan mereka nggak kelihatan.”
“Kalau kelihatan?”
Panji garuk-garuk kepala. Mereka berjalan kembali ke rumah Belanda itu lagi. Mbah Suro sudah tidak ada. Panji dan ibunya mulai membabat rumput dan tanaman liar selama seharian penuh. Hari esoknya, Panji membantu ibunya lagi beres-beres dalam rumah. Di dalam rupanya lebih membuat merinding. Perabotan rumah seperti sofa, lemari, meja, ditutupi plastik yang sudah penuh debu. Banyak sarang laba-laba, kotoran tikus, bangkai kecoak, bau tengik. Semua itu menambah kesan mistis dalam rumah. Apalagi di dalam rumah itu ada lukisan Nyai Roro Kidul. Selain itu, potret-potret Meneer dan Mbah Putri waktu menikah kesannya seperti potret jadul yang identik dengan raut datar dan kesan mencekam. Panji tidak henti-henti mengusap lengan dan tengkuk. Paling mencekam lagi ketika dia harus turun ke ruang bawah tanah. Di situ, ada sumur dan kamar mandi, serta berpintu-pintu kamar tidak berpenghuni. Derit samar pintunya benar-benar bikin keder. Panji ngotot minta ditemani ibunya. Dia kena keplak di kepala karena itu. Aroma ruang bawah tanah itu begitu anyir, membuat Panji pengin muntah. Panji heran, kenapa ibunya sama sekali tidak terganggu.
Tiga hari Panji dan ibunya setidaknya berhasil membuat rumah Belanda itu kelihatan lebih manusiawi. Tidak lagi dicengkeram alam lain, semoga. Pada hari yang dijanjikan, Panji dan ibunya menunggu kedatangan penghuni baru. Menurut info dari ibunya, penghuni baru ini orang Sumatra. Namanya Bu Rombe. Beliau datang tengah hari bersama tiga anaknya. Ibu Panji segera menyambut Bu Rombe dan mengajaknya melihat ke dalam. Panji tidak ikut, dia penasaran karena Mbah Suro muncul lagi. Dia melihat kakek itu melambai kepadanya, memintanya mendekat.
“Itu orangnya?” tanya Mbah Suro.
“Nggih, Mbah. Bu Rombe namanya. Yang akan tinggal di sini.”
“Oh, semoga betah. Semoga yang menempati rumah ini waktu kosong berkenan menerima kehadirannya.”
Pernyataan itu membuat Panji bergidik. Dia menoleh ke rumah Belanda yang sudah agak bersih dengan tatapan cemas. Tatapan Panji bertemu dengan wajah anak perempuan Bu Rombe. Di jendela tempat Mbah Putri pernah mengedarkan senyum ganjilnya.
**
Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!
- www.storial.co
- Facebook: Storial
- Instagram: storialco
- Twitter: StorialCo
- Youtube: Storial co
