Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rumah Rombe - BAB 2

Rumah Rombe - BAB 2
Dok. Storial

-Bu Rombe-

KETUKAN DI SIANG BOLONG

***

~Tok tok tok tok, ada yang mengetuk jendela tapi tidak kelihatan wujudnya~

 

Penghuni baru rumah itu melakukan tur keliling mandiri, melihat-lihat sudut-sudut rumah. Rumah besar yang berhasil dibeli dengan harga miring. Bu Rombe, adalah kepala keluarganya. Perempuan tangguh yang sanggup membesarkan tiga anak tanpa campur tangan laki-laki. Bu Rombe sudah cukup lama menjanda. Suaminya meninggal ketika anak ketiganya berumur lima tahun, dalam sebuah kecelakaan tragis yang melibatkan alat berat, tanah basah dan hujan lebat.

Saat ini, anak pertamanya, Roni, sudah memiliki usahanya sendiri. Sikap kemandirian itu ditularkan oleh Bu Rombe. Roni seorang fotografer alam. Karyanya terpampang di sampul majalah-majalah ternama. Namun, semenjak dia menginjakkan kaki di Desa Wingit, sama sekali belum ada dorongan untuk memotret lingkungan rumahnya. Biasanya dia gatal kalau tidak menjepret alam hijau. Dia berjalan di belakang Bu Rombe, mengamati perabotan serta lukisan cat minyak bertemakan sawah berdebu. Sebelum menggeluti dunia fotografer, dia terlebih dahulu belajar melukis. Lukisan yang dilihatnya tadi, sempat mengundang déjà vu. Dia pernah lihat lukisan itu di suatu tempat.  Banyak barang di rumah ini mengirimkan sensasi yang sama. Seperti membawa Roni ke suatu masa. Roni lalu menggandeng tangan ibunya.

Anak kedua, Rachel, berumur lima belas. Minggu lalu, dia didaftarkan di sekolah Katolik dekat desa ini, bersamaan dengan adiknya, Tomi. Rachel yang paling antusias dengan rumah ini. Dalam tur mandiri ini, Rachel yang memimpin. Dia berjalan lompat-lompat saking senangnya. “Rumah ini bagus. Besar. Seperti di film-film,” katanya berkali-kali. “Kita beruntung, Ma!” Rachel mengagumi barang-barang tua yang bertebaran di rumah ini. Yang paling lama dia amati adalah lukisan yang menyerupai Nyi Roro Kidul dan foto orang Belanda bersama seorang Nyai.

Kakaknya memberi tahu, “Dia pemilik asli rumah ini.”

“Kakak tahu dari mana?”

Roni mengedikkan bahu. Dia suka bermain misteri bersama Rachel. Dia menyebut suatu fakta, lalu Rachel akan menebak bagaimana kakaknya menyimpulkan hal itu.

“Ayo, Rachel, kamu pasti tahu.” Bu Rombe menyemangati. Senyumnya hangat.

Tanpa menunggu lama, Rachel langsung menjentikkan jari. “Ya tentu saja. Rumah ini bergaya Belanda. Pria itu bermuka Belanda. Dan fotonya ada beberapa di rumah ini. Tentu saja dia pemilik asli rumah ini.”

Roni tersenyum lebar, dia mengacak-acak rambut adiknya.

“Ya siapa tahu dia bukan siapa-siapa.” Sahut anak ketiga. Dibalas dengan decak kesal Rachel.

Anak ketiga, Tomi, umur sebelas. Sedari tadi dia hanya diam saja. Dia cenderung malas-malasan mengikuti tur ini. Dia sudah pengin berada di kamar, tetapi kamarnya belum sepenuhnya siap. Bu Rombe, mendekati Tomi, “Bagaimana, Tom? Suka sama rumah ini?”

Tomi mengedikkan bahu.

Mereka  menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Di sana, ada tiga kamar. Rachel sudah minta akan berkamar di salah satunya. Bu Rombe bilang, tiga kamar itu untuk mereka bertiga. Bu Rombe sendiri akan berkamar di lantai bawah. “Capek kalau harus naik turun.”

Kamar di lantai dua belum sepenuhnya siap. “Bu Ningsih hari ini akan datang untuk membereskan kamar kalian,” kata Bu Rombe.

Rachel sampai lebih dahulu di lantai dua. Langsung memilih kamarnya. Dia membuka pintu dan mendapati rangka ranjang menyedihkan. “Oh,” katanya sedikit kecewa, tetapi berubah senang karena jendela kamarnya langsung menghadap kebun samping.

“Nanti, Bu Ningsih akan datang bawa tukang kayu juga tukang kasur. Tenang saja. Malam ini, kalian sudah bisa beristirahat di kamar masing-masing.”

“Syukurlah, Roni tidak betah dengan dengkuran Tomi.”

Tomi menendang kaki Roni. Tadi malam mereka tidur di kamar utama, kamar Bu Rombe yang memang besar.

Lalu terdengar suara ketukan. Sekali dua kali. Perlahan dan kencang. Tomi entah kenapa, kaget. Rachel yang menawarkan diri untuk turun dan membukakan pintu.

Tak berapa lama kemudian, Rachel berseru, “Ma, ada Bu Ningsih dan ... Mas Panji.”

Bu Rombe mengajak Roni dan Tomi turun. Dia memperkenalkan Bu Ningsih dan anaknya.

“Saya bawa nasi pecel, mari sarapan dulu,” ajak Bu Ningsih, langsung menuju dapur dan menyiapkan meja makan. Anaknya, Panji, membantu menyiapkan piring.

Bu Ningsih dan anaknya tidak ikut makan. Mereka mengaku sudah sarapan dari rumah. Mereka memilih untuk membersihkan kamar-kamar. Bu Rombe tadinya memaksa, setidaknya kalau tidak ikut makan, ikutlah minum teh bersama. “Biar lebih cepat selesai dan anak-anak Bu Rombe dapat segera beristirahat,” kata Bu Ningsih.

Tomi menepuk tangan sekali. Roni melempar tatapan tidak setuju.

“Nanti saya ikut bantu ya Bu!” Rachel mengajukan diri.

Selesai sarapan, keluarga Bu Rombe menyusul ke lantai dua. Namun, Bu Rombe dan Tomi tiba-tiba pusing kepalanya. Bu Rombe minta dipandu oleh Roni turun ke kamar utama. Sementara Tomi memutuskan untuk duduk selonjoran menyandar terali balkon.

Bu Rombe mendudukkan diri di tempat tidurnya. Kepalanya sakit sebelah. Padahal sudah lama dia tidak terserang migrain. Ini tiba-tiba saja. Dia dibuat kaget oleh pintu yang mengayun secara mendadak. Lalu seperti ada dorongan energi tidak kasatmata, mengirim Bu Rombe tersungkur di tempat tidur. Dia berusaha berpikir rasional. Ini hanya migrain yang mendadak saja. Dan pintu mengayun karena angin. Bu Rombe memijat kepalanya, seperti yang sudah dia pelajari melalui buku panduan akupresur. Sepuluh menit dia memijat titik yang dia hafal, lumayan membaik. Bu Rombe memanggil Roni untuk mengambilkan air minum. Ketika seperti ini, minum adalah salah satu penyembuh. Roni melanjutkan akupresur pada kepala dan beberapa titik di telapak kaki dan telapak tangan. Bu Rombe yang mengajarinya.

“Ma, Roni dapat kerjaan. Besok, Roni harus berangkat ke Surabaya. Ada proyek.”

“Ealah, baru saja kita pindah, kamu sudah dapat rezeki, Nak.”

“Iya, Ma, rezeki rumah baru. Puji Tuhan.”

“Sebetulnya Mama masih butuh kamu di rumah ini. Buat jaga adik-adikmu. Tapi tidak apa-apa. Kamu pergilah. Kejar mimpimu.”

“Terima kasih, Ma.” Roni memijat sambil mencium tangan Bu Rombe. Lambat laun Bu Rombe terbawa kantuk.

Bu Rombe terbangun saat hari sudah sore,  Bu Rombe mendapati Bu Ningsih dan anaknya, Panji, sedang bercengkerama dengan Rachel dan Roni. Mereka minum es jeruk. Dia melihat kamar lantai dua sudah rapi dan bersih. Ranjang kayu sudah dibetulkan.

“Ngunjuk, Bu Rombe.” Bu Ningsih menawarkan es jeruk.

Roni langsung berdiri dan menggandeng ibunya, “Sudah lebih baik, Ma?”

“Ibu mau teh manis hangat, Ron.”

“Siap, Ma.”

“Kena migrain ya, Bu Rombe?” tanya Bu Ningsih, menyambut Bu Rombe untuk ikut duduk bersama yang lain di ruang tamu. Rachel ikut mendekati Bu Rombe, langsung menuju titik di telapak tangan. Rachel diajari oleh Roni.

“Iya, Bu, tadi siang, tiba-tiba saja. Padahal sudah lama saya tidak kena migrain. Makan juga sudah saya jaga.”

“Tomi juga pusing katanya, Ma. Dari tadi nggak mau bantu. Maunya selonjoran saja di balkon.” Rachel mengeluh. Bu Rombe melihat Panji melempar tatapan kepada Bu Ningsih.

Roni sudah kembali dengan teh hangat manis. Bu Rombe langsung menyesapnya. Badannya langsung terasa hangat dan tekanan di kepala berangsur lenyap. Mereka pindah ke teras. Menikmati angin sejuk senja. Roni berdiri di kebun dan melihat sekeliling. Baru beberapa menit, dia sudah kembali sambil bergidik dan menggelengkan kepala. Bu Rombe melihat lagi Panji melempar pandangan ke Bu Ningsih.

Sudah mulai gelap, Bu Ningsih dan Panji pamit pulang setelah membereskan gelas. Bu Rombe memanggil semua anaknya untuk berkumpul di ruang keluarga, sebelah ruang tamu. Ruang keluarga terdiri dari karpet besar, sofa klasik kulit, meja kaca dan sebuah televisi tabung yang kelewatan jadul. Tomi tertarik dengan teve tabung itu. Dia mengamati cukup lama, mengabaikan perbincangan Bu Rombe dengan Rachel dan Roni. Tomi mengetuk kaca televisi tabung itu. Tok tok tok. Dia hanya melihat mukanya terpantul cembung dari televisi tabung itu.

Bu Rombe menyukai rumah ini. Namun, ada hal-hal yang membuatnya senantiasa bergidik. Bulu kuduk berdiri ketika malam turun. Dia berusaha menyingkirkan perasaan ini sedari malam pertama kemarin. Namun, semakin dia mencoba mengabaikan, semakin kuat perasaan ini. Bilamana perasaan ini mengetuk, Bu Rombe membuat tanda salib di dada. Dia mencium kalung salibnya. “Bapa lindungi kami semua.”

Bu Rombe tahu desas-desus seputar rumah ini. Namun, dia tidak mengambil pusing. Prinsipnya, selama dia tidak melihat dengan mata sendiri, berarti itu hanyalah desas-desus semata. Isapan jempol belaka.

Pagi menjelang siang esoknya, setelah mengantarkan Rachel dan Tomi ke sekolah baru dan Roni sudah berangkat ke Surabaya, Bu Rombe membuka buku besarnya di kamar. Dia mulai mengecek kembali catatan keuangan usahanya. Bu Rombe membelakangi jendela yang menghadap langsung kebun. Pagi itu, Bu Ningsih datang untuk bantu beres-beres sedikit. Setelah membukakan pintu buat Bu Ningsih, Bu Rombe kembali menekuni buku besarnya.

Tok tok tok.

Bu Rombe menoleh. Dia yakin ketukan itu datang dari jendela. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin suara Bu Ningsih di luar.

Tok tok.

Rasa-rasanya Bu Rombe pernah mendengar suara ketukan yang sama persis. Entah di mana dan kapan. Di jendela masih tidak ada siapa-siapa.

Tok.

Bu Rombe beranjak dari tempatnya, menutup buku besar, lalu berjalan menuju jendela. Dia bergerak perlahan. Tatapannya lekat pada jendela, berharap melihat cecak atau ada hewan apa pun yang dapat mengetuk. Namun, tidak ada. Begitu pula ketika dia sudah dekat jendela, Bu Rombe menengok ke kanan kiri atas bawah. Di luar jendela hanyalah kebun kosong dengan pohon mangga besar dengan sedikit daun. karena merasa jengah, Bu Rombe keluar kamar. Dia melihat Bu Ningsih yang sedang mengelap guci tua. “Maaf, Bu Ningsih, boleh ketuk guci itu?”

Bu Ningsih mengernyit, tetapi tetap melakukannya. Tok tok tok. Suaranya berbeda. Bukan guci. Bu Rombe menghela napas, menyingkirkan pikiran buruk melintas. Bu Rombe melewati ruang keluarga, melewati televisi tabung. Dia tidak tahu ada wajah yang terpantul di kaca tabungnya, memandang tajam.

**

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

  • www.storial.co
  • Facebook: Storial
  • Instagram: storialco
  • Twitter: StorialCo
  • Youtube: Storial co
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Di Seberang Kedai Es Krim

07 Apr 2026, 13:07 WIBFiction
[PUISI] Asal Bapak Senang

[PUISI] Asal Bapak Senang

06 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rindu Rumah

[PUISI] Rindu Rumah

05 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Setipis Alasan

[PUISI] Setipis Alasan

04 Apr 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Semanis Madu

[PUISI] Semanis Madu

03 Apr 2026, 22:08 WIBFiction
[PUISI] Cerita Akhir Maret

[PUISI] Cerita Akhir Maret

03 Apr 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Jedalah Sejenak

[PUISI] Jedalah Sejenak

03 Apr 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Rumah Ternyaman

[PUISI] Rumah Ternyaman

03 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Sebongkah Es

[PUISI] Sebongkah Es

03 Apr 2026, 05:04 WIBFiction