Comscore Tracker

[NOVEL] Kupu-Kupu dalam Perut-BAB 1

Penulis: Resawidi

Bunga Ketiga

 

Dengkusan halusku sudah berganti menjadi decakan. Bibirku memberengut begitu orang tua dan kedua kakakku beserta dua bocah kecil keluar rumah seperti rombongan sirkus mau ke pasar malam. Sementara itu, dengan malas-malasan, aku sengaja jalan paling belakang di sebelah Pilar yang terlalu menyebalkan kalau sudah mulai punya perasaan sungkan.

"Ya udah, minggu depan kan bisa," katanya.

"Minggu kemarin juga bilangnya begitu." Aku tidak peduli siapa yang salah. Bapak yang mendadak mengajak kami makan malam di luar ketika Pilar baru saja tiba atau Pilar yang terlalu sopan itu malah memberi ide untuk malam mingguan bersama di tempat makan milik keluarganya.

Bukannya aku tidak suka, tapi kan malam Minggu kemarin kami gagal main Timezone juga gara-gara sikap tidak enakan Pilar. Siapa yang membuatnya tidak enak? Tentu saja Pak Wisnu, bosnya di kantor, yang tiba-tiba menghubungi dan meminta Pilar untuk segera datang ke rumah karena anaknya mengunci diri di kamar. Aneh sekali.

Begitu pintu terbuka, aku menghambur masuk ke dalam mobil Pilar, duduk di sebelah pengemudi, dan tidak mau peduli pada keluargaku yang berbondong memasuki mobil Bapak. 

Setengah jam berikutnya, kami sampai di depan Kafe Bercerita. Bekasi pada malam minggu memang ramai, tapi tidak sepadat Jakarta. Deretan toko sekitar Galaxy rata-rata terlihat lengang, hanya toko-toko lama dengan pelanggan tetap dan toko berdesain instagramable saja yang seluruh kursinya penuh oleh pengunjung. Sisanya, hanya meriah oleh rentetan lampu yang mereka pasang untuk menarik pengunjung.

Aku merasa tidak biasa dengan Kafe Bercerita malam ini. Desainnya yang berwarna cokelat meneduhkan berubah lebih cerah karena bunga matahari tersebar di beberapa sisi. Di halaman, di meja-meja, dan di sekitar area band pengiring. 

"Tumben. Ganti desain?" tanyaku.

Pilar menggeleng. Sambil tersenyum, ia menjawab, "Kan mau menyambut kamu sama keluarga kamu."

Tidak cukup menghibur. Sejak dalam perjalanan menuju ke sini, Pilar terus-terusan mengibarkan bendera putih karena sudah menggagalkan acara malam Minggu kami. Mulai dari mengajakku membahas aksi demo mahasiswa, beralih jadi film Parasite yang sedang digandrungi orang-orang, melancarkan lelucon-lelucon receh di Twitter, sampai mempersilakanku untuk menyetel lagu Sheila on 7 sepuasnya karena aku tetap bergeming.

Hanggini, adik pertama Pilar yang kebagian jaga kafe bulan ini, menyambut rombongan kami. Dengan ramah, ia memboyong kami ke meja nomor dua puluh enam, tepat di tengah ruangan dan satu-satunya yang kosong. Senyumanku tidak kunjung terbentuk ketika Hanggini menanyakan pesananku sambil menaik-turunkan alisnya.

Di antara kedua adiknya Pilar, Hanggini paling sering ikutan jalan bareng kami. Jadi, aku yakin, gerakan alis barusan adalah kode solidaritasnya kepadaku. Hanggini ini sejalan denganku, kalau sudah mendapati Pilar dengan sifat tidak enakannya, akan dengan gencar bersungut-sungut dan memasang wajah kusut.

"Mami, aku juga mau es cokelat ya." Anak kedua Mbak Gendis, kakak pertamaku, mulai rusuh begitu melihat gambar-gambar di buku menu.

"Ih, ini aja tahu, Vin. Ada strawberry sama es krimnya." Lila, anak pertama Mbak Gendis, ikutan berisik memilih menu. Menunjuk milkshake strawberry, padahal sedetik sebelumnya baru saja memesan jus alpukat kepada Hanggini.

"Enak kan, Mami?" lanjutnya. Percayalah, kami adalah keluarga keturunan Yogya, sementara Bang Arga, suami Mbak Gendis, keturunan asli Betawi. Keduanya juga tidak pernah menggunakan bahasa Belanda sehari-hari. Namun, mereka membiasakan kedua anaknya untuk memanggil mereka papi-mami.

Sementara meja kami dipenuhi keributan adu rekomendasi menu antara Arvin dan Lila, Pilar dari arah dapur membawa peserta lain ke meja kami. 

"Eh, sudah ramai. Apa kabar Mbak?" sapa mamanya Pilar, lalu memeluk ibuku. Aku ikutan bangun, kemudian menyalami Mama, begitu aku memanggil mamanya Pilar. Adik bungsu Pilar mengekor di belakang. Menyalamiku dengan senyuman terkembang sehingga menampakkan kedua lesung pipitnya.

Dengan begitu, meja nomor dua puluh enam menjadi ramai, dipenuhi oleh keluargaku dan keluarga Pilar. Bapak, Mas Galih si kakak keduaku, dan Pilar asik membicarakan kemajuan Kafe Bercerita setahun belakangan sementara ibu-ibu seru membandingkan diskon sembako di beberapa swalayan. Aku dan si bungsu hanya sesekali menyahuti karena keduanya bukan topik yang seru. Atau memang aku saja yang masih merasa kesal gagal main Timezone dan Karin yang memang tidak suka nimbrung dalam obrolan apa pun kecuali tentang KPop.

Pilar menyenggol bahuku, berpamitan mau pergi ke toilet dan hanya aku sahuti lewat anggukan.

Lagu "Pandangan Pertama" milik Ran selesai dibawakan band pengiring kafe. Seketika, suasana menjadi sedikit lengang, tersisa sayup-sayup obrolan para pengunjung sampai kemudian sang vokalis meminta atensi dan seluruh pengunjung menjeda obrolan. Arvin dan Lila bahkan ikutan memperhatikan.

"Malam ini, ada seorang laki-laki yang mau menyampaikan hal penting kepada kekasihnya." Sang vokalis menjelaskan. Telunjuknya menunjuk dinding kosong di sebelah kiri area band.

Kemudian, seperti barisan paskibra yang baru saja diberi komando, secara serempak, para pegawai kafe menutup semua jendela dan mematikan lampu-lampu utama kafe. Hanya tersisa nyala beberapa lampu kecil menggantung bercahaya remang, tembakan cahaya dari proyektor membentuk persegi putih di dinding yang tadi ditunjuk sang vokalis.

Jantungku berdetak kencang karena iri. Siapa pun perempuan itu, ia pasti sangat beruntung mendapatkan laki-laki romantis. Mataku spontan melirik wastafel, berharap Pilar segera muncul dari balik sana.

Pilar harus melihat aksi laki-laki romantis ini. Belajar dan mencontohnya.

Aku masih kesal karena gagal main Timezone? Bukan, ini kenyataan. Enam tahun menjalin hubungan, aku baru dua kali mendapatkan bunga dari Pilar. Pertama, ketika aku diwisuda dan kali terakhir ketika kami merayakan hari jadi yang pertama hubungan kami.

Setelahnya, setiap aku memberinya kode minta dikasih bunga seperti yang sering teman-temanku dapatkan pada hari spesial, dengan santai, Pilar selalu menjawab, "Sayang ah, nanti juga layu. Mending aku beliin kamu sesuatu yang bermanfaat." Ya benar, sih. Tapi kan aku juga perempuan biasa yang kadang juga ingin dimanja dan diperlakukan manis seperti adegan-adegan di film.

Enam tahun tidak lantas membuat kami pandai berciuman seperti teman sekantorku yang selalu saja membagi kecup dengan pacarnya setiap kali bertemu, padahal mereka baru menjalin hubungan setengah tahun. Kami juga tidak jago melempar senyuman malu-malu karena adu rayu. Pilar lebih sering memberikan pendapatnya secara jujur. 

Jadi, berat untukku berharap akan dilamar dengan cara menyewa tempat makan, menyetelkan video, dan menyampaikan maksud paling serius di depan banyak orang kalau Pilar tidak melihat contoh dan efeknya terlebih dahulu. Pilar pasti tidak mau melakukannya. Mungkin ia malah merasa hal seperti itu tidak penting karena ia hanya menyukai hal-hal normal saja. Untuk permintaan-permintaanku yang kadang kelewat menye-menye, Pilar selalu bilang, "Kita udah bukan anak sekolah lagi. Udah deh". Menyebalkan.

Yah, bagaimanapun, aku rasa aku tidak bisa hidup tanpa Pilar, sih. Hidupku setelah mengenal Pilar terasa lebih baik. 

Ah, kenapa aku jadi berharap dilamar begini sih? Usiaku baru akan dua puluh enam tahun dan kami sudah sepakat untuk menikah pada usia yang lebih matang.

Karena Pilar tidak juga muncul, aku mengganti kesibukan. Lagian, harapanku memang setipis benang. 

Meja nomor delapan belas, diagonal ke kanan dari mejaku. Seorang perempuan berambut panjang itu tinggal sendirian, menikmati kentang goreng sambil memangku tangannya yang jadi menganggur karena ditinggal laki-laki bertato-mengingat kesibukan mereka sejak duduk di sana selalu adu pandang dengan tangan saling menggenggam. Aku yakin perempuan itulah si gadis beruntung.

Sampai kemudian, sebuah sapaan menepis aduan-aduan burukku barusan. "Hai, saya Pilar."

Aku kenal suara itu. Pandanganku beralih ke arah wastafel lagi. Tidak ada Pilar. Hanya ada si laki-laki bertato. Dengan sedikit canggung, ia berjalan ke mejanya, duduk santai dan mulai memperhatikan layar.

Detik berikutnya, aku baru sadar, perempuan di meja nomor delapan belas tidak seberuntung dalam pikiranku. Suara tadi berasal dari speaker kafe. Dan itu jelas suara Pilar.

Jantungku berdentum keras. Dinding di sebelah band memutar video stop motion dengan suara nge-bass Pilar sebagai narator.

"Saya akan bercerita tentang perempuan di meja nomor dua puluh enam sana."

Sekarang, aku tahu mengapa Pilar rajin menonton cara membuat video dan bisa membalas cepat pesan-pesanku di tengah malam satu setengah bulan belakangan. 

Seisi kafe menoleh ke meja kami.

"Elo nggak lagi mimpi kok, itu memang Pilar." Kalimat Mbak Gendis berhasil membuat napasku tercekat. Tangannya sama sekali tidak menciptakan kehangatan, meski ia mengelus-elus bahuku.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Beberapa pengunjung mengangkat ponsel mereka, merekam sekilas video yang dipantulkan ke dinding.

Video itu berlangsung selama dua belas menit, berkisah tentang perjalananku dengan Pilar. Tawa kaku laki-laki itu mengudara saat ia meminta maaf, untuk ketidaksempurnaannya selama ini. 

Tahu-tahu, air mataku sudah mengalir. Jatuh satu tetes kemudian disusul tetesan lainnya. Ibu dan Mama melempariku senyuman. Hatiku hangat, tapi tanganku tetap saja terasa dingin.

Terakhir, Pilar akhirnya muncul dari arah wastafel dengan mikrofon di tangan kanan. Lampu-lampu utama kafe kembali menyala.

"Hai, Rana," sapanya dengan suara bergetar. Mengumbar romantisme di hadapan banyak orang sama sekali bukan keahlian Pilar. 

Band pengiring mulai memainkan sebuah lagu yang pernah kubilang pada Pilar ingin diperdengarkan saat aku mengadakan pesta lamaran. Sudah lama sekali waktu itu, dan sejujurnya, aku tidak pernah mengingatnya lagi. "Percayakan Padaku" milik Sheila on 7 tanpa lirik.

"Pil," gumamku dan memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Detik berikutnya, kurasakan bahuku melorot dan bergetar.

"Aku mau cerita sedikit." Pilar menghampiriku. Ia membawaku maju sampai seisi kafe benar-benar tahu bahwa aku adalah si gadis beruntung. Gumaman takjub yang coba mereka redam terdengar oleh telinga. Beberapa ponsel kembali mengarah ke kami, mungkin merekamnya untuk dibagikan ke Instagram atau bagaimana. Aku tidak peduli.

Berulang kali, aku menghapus air mata, tapi percuma. 

"Dua minggu yang lalu, aku ketemu Bapak sama Ibu. Ngobrol tentang anaknya yang paling kecil, paling manja, sekaligus juga kebanggan. Mereka cerita, sejak kecil kamu selalu jadi bagian paling menggemaskan di keluarga. Kehadiran kamu bukan cuma melengkapi, lebih dari itu, kamu adalah bagian yang menyenangkan sekaligus menenangkan. 

Terus, waktu aku bilang ingin menikahi si bungsu, mereka senyum dan berpesan bahwa laki-laki harus bisa melindungi dan menjaga wanitanya. Aku akan buktiin, aku bisa menjaga dan melindungi kamu sampai akhir nanti." Bibir Pilar melengkung. Satu embusan panjang jadi tanda betapa leganya ia. 

Kepalaku menggeleng. "Kamu nggak bilang," kataku diakhiri tekapan mulut. 

Kami sudah pernah membahas soal pernikahan ketika undangan dari teman-teman mulai banyak berdatangan, menyampaikan ketakutan-ketakutan, menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas dalam kepala lewat diskusi. Kami sepakat akan menikah saat siap dan sampai di titik kesadaran bahwa kebersamaan adalah hal yang kami butuhkan untuk selamanya. Sebab pernikahan akan sangat panjang dan penuh tanggung jawab. Tidak ada yang perlu diburu-buru karena pernikahan lebih dari sekadar ucapan 'selamat menempuh hidup baru'.

"Biar romantis. Katanya mau?" Meski begitu, Pilar mengatakannya sambil mengusap tengkuk, dengan jari-jarinya yang besar dan panjang.

"Kamu." Beberapa menit lalu, aku adalah peracau ulung, memiliki lebih dari enam miliar kata dalam kepala, dan mudah sekali bagiku menumpahkannya sambil bersungut-sungut dalam hati. Sekarang, aku mirip batita yang baru belajar bicara. Norak. Mungkin inilah kenapa Pilar tidak suka bersikap romantis ketika aku ingin, ia kadang lebih tahu aku daripada diriku sendiri.

"Mana, nih, will you marry-nya, Mas?" Hanggini berseru dari mejanya sendiri di sebelah proyektor, memecah kecanggungan antara aku dan Pilar yang saling berusaha terlihat wajar. Suasana kafe menjadi meriah. Beberapa pengunjung bersorak seperti paduan suara, beberapa orang lainnya tertawa.

Sekali lagi, Pilar mengusap tengkuknya.

"Jadi, kekasih, percaya padaku. Kau nyata tercipta 'tuk di sampingku."

Seharusnya, aku terharu, tapi kalimat barusan benar-benar tidak bisa ditoleransi. Pilar belajar menggombal di mana sih? Tidak sekalian diawali dengan "tumbuhlah jadi pendampingku seiring malam yang menjemput senja" supaya lebih lengkap dan romantik? Jelas-jelas barusan itu potongan lagu Sheila on 7 yang sedang dibawakan Andio dan band-nya. 

Bagaimanapun, aku sangat menghargai itu. Dengan semua persiapan yang ia lakukan dan menjadi Pilar yang hari ini, aku tahu ia benar-benar telah berusaha, memintaku menjadi teman selamanya, bukan yang hari ini bersama-sama, tapi besok sudah selesai.

Akhirnya, aku bisa mengendalikan diri. Air mataku berhenti mengalir dan berani balas menatap Pilar penuh keteguhan.

"Kamu ngelamar aja nyontek lagu," komentarku.

Pilar nyengir. "Menikah sama aku, ya?" katanya seraya menyodorkan kotak hitam berisi cincin.

Senyuman seisi ruangan mengarah ke kami. Yang paling membuatku lega adalah tatapan bapak dan ibuku. Dari sana, aku tahu, restu mereka menyertaiku. 

"Iya." Enam tahun kebersamaan kami barangkali bukan sesuatu yang amat manis, tapi aku tahu, tanpa Pilar hidupku tidak akan setenang sekarang. Jadi, kenapa tidak?

Dadaku berdesir hebat ketika Pilar memasangkan cincin ke jari manisku. Hangat di dalam hati menjalar ke pipi. Perlahan, aku bisa merasakan bulir air mata jatuh kembali. Hari ini, aku lebih dari bahagia.

Pilar memberiku sebuket bunga matahari yang Hanggini ambilkan di meja kasir. "Bunga ketiga," katanya. Aku sempat memundurkan kepala karena terkejut. Pilar hapal jumlah bunga yang sudah ia berikan kepadaku. Maksudku, dia saja tidak suka memberiku bunga, jadi mana mungkin ia peduli dengan jumlah yang sudah ia berikan.

Kalau di film-film, seharusnya setelah menerima bunga, aku mendapat kecupan di kening atau minimal pelukan hangat yang membuat seisi kafe lebih iri lagi kepadaku. Namun, ini Pilar, tangannya yang sedingin es hanya mengacak rambutku, tinggiku yang hanya sampai di dagu Pilar memang lebih pas untuk diusap ketimbang dicium--yang pastinya akan merepotkan Pilar karena harus menunduk.

Suasana kafe menjadi riuh karena tepukan tangan para pengunjung. Penghuni meja nomor dua puluh enam menghambur ke depan, bergantian mengucapkan selamat. 

"Terima kasih, Rana." Mama memelukku cukup lama.

"Ajari aku jadi menantu idaman ya, Ma," sahutku sambil balas menepuk-nepuk bahunya yang bergetar.

Dua jam berikutnya, kami habiskan untuk menikmati pesanan sambil mengobrol. Hanggini berulang kali mengajak kami melongok jendela. "Takut hujan, soalnya habis ada yang tiba-tiba jadi romantis," katanya menggoda.

Sementara itu, aku sibuk membagikan momen spesial ini ke akun media sosial.

"Dih, buka Facebook. Memang masih zaman, Mbak?" komentar Hanggini di sebelahku.

Aku nyengir. "Cuma mau ganti status aku sama Pilar."

Hanggini melongok layar ponselku. Ia tersenyum ketika mendapati pengingat di beranda, "11 tahun yang lalu, lihat kenangan Anda". Di sana terdapat fotoku bersama seorang teman laki-laki. "Mau pamer sama Regan, ya?"

"Ha?" Di antara banyak kemungkinan, kenapa Hanggini harus punya tebakan seperti itu? Hubunganku dengan laki-laki yang tadi disebut Hanggini sudah selesai selama dua kali ganti presiden. Jangankan punya tujuan seperti itu, namanya saja sudah tidak pernah terlintas di dalam kepalaku.

"Awas, kenangan nggak pernah tahu jalan pulang. Jadi, jangan coba-coba ngundang." Tiba-tiba, Pilar yang sejak tadi hanya bisa menyahut "Apaan, sih" terhadap godaan-godaan Hanggini, punya kalimat baru. 

Meskipun Pilar mengucapkan kalimat tadi sambil tersenyum, aku bisa melihat sesuatu berubah cepat di wajahnya. Ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan selama enam tahun kebersamaan kami.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya