Comscore Tracker

[NOVEL] Kelana, Lelaki Seribu Cerita - BAB 4

Penulis: Ary Nilandari

4. Di Sel Pun Jadi
 

Aku pernah tidur di sel tahanan kantor polisi. Waktu itu kebetulan sedang kosong. Penjara jauh lebih aman dengan penjagaan aparat 24 jam, jelas menghemat juga karena gratis, dibandingkan akomodasi ngirit—seperti B&B, hotel kapsul, atau homestay—sekalipun. 

Akan kulakukan lagi kalau memungkinkan. Mencari aman juga dari Pakde dan Bude selama mereka ada di sini.

Dijamin, beberapa harinya mereka akan mulur sampai seminggu. Pakde dan Bude tidak akan melewatkan kesempatan berakhir pekan di Bandung bersama si bungsu tercinta. Bagaimanapun, Sanka terbang meninggalkan sarang terlalu awal. Lulus SMP, anak itu memaksa untuk melanjutkan sekolah di Bandung, agar lebih mudah kuliah di ITB yang diidamkannya. Logika ABG yang menggelikan, dikiranya jarak menjadi penentu diterima atau tidaknya di PTN favorit.  

Pakde dan Bude memberi izin karena waktu itu Mas Satria masih kuliah di Bandung. Saat si sulung lulus, mereka pikir, akan ada Gyan. Nyatanya tidak. Gyan tidak mau sekota denganku. Kuanggap itu sebagai kibaran bendera putih dan permintaan maafnya. Ketika ia diterima di Teknik Sipil, Universitas Indonesia, aku mengiriminya kartu ucapan selamat anonim lewat pos.

Itu komunikasi kami terakhir.

Uuh, kenapa rangkaian pemikiranku selalu berbuntut urusan keluarga Bude Rasmi? Ya, aku pernah hidup bersama mereka sejak usia 5 sampai 16 tahun. Namun, sebelas tahun tidak ada artinya bagi mereka, itu hanya waktu tunggu, sampai hukum mewajibkan mereka mengungkap segala perhitungan bisnis di baliknya. Setelah itu, aku akan dipersilakan pergi membawa sisa warisan, atau dijadikan menantu saja sekalian biar tidak ada harta yang berkurang. 

Tali ransel yang berat sudah menyakiti bahuku. Kenapa pula aku memutuskan jalan kaki ke kantor polisi? Dua kilometer itu dekat kalau aku segar bugar dan tanpa beban. Survei ke pelosok daerah sering harus didahului jalan kaki lebih jauh dari itu. Aku mendengkus. Akhir-akhir ini, aku sering melakukan kebodohan dan tindakan impulsif tanpa pikir panjang.

Pasti gara-gara pengacara sialan itu. Bukan hanya uangku yang ditilapnya, kecerdasanku juga. Sebagai pengacaraku, ia berkoar dengan omongan tinggi membuai. Katanya, ia akan mengalahkan Ibu di pengadilan. Katanya, ia akan memaksa Ibu mengembalikan warisanku. Katanya, ia bahkan bisa memidanakan Ibu yang telah menelantarkan aku sejak balita.

Aku mempertaruhkan seluruh simpanan uang kuliah untuk membayarnya.

Proses pengadilan mulur, memasuki tahun kedua. Tapi sedikit lagi, katanya. Tanggung.

Pertaruhan dinaikkan. Aku merelakan uang cadangan yang seharusnya untuk biaya hidup dan kos setahun.

Lalu hakim ketok palu. Apa hasilnya?

Pengacara sialan yang namanya lebih memualkan ketimbang muntahan Sanka waktu dicekoki bubur campur obat puyer malah “berhasil” membebaskan Ibu dari kewajiban memberiku jatah bulanan. Advokat Ibu dengan cerdik membalikkan keadaan, bahwa usia 21 adalah batas akhir sokongan dari Ibu untukku.

Sekuat tenaga, aku menendang kaleng minuman yang tergeletak di trotoar. Napasku memburu. Kujulurkan tangan ke belakang, menggerapai botol minuman di saku ransel. Air mineral ini kubeli dengan sepotong brownies di kafe. Terlalu mahal, hanya demi tempat duduk nyaman dan WiFi gratis untuk browsing lowongan kerja.

Seruni, itu titik terendah dalam hidupmu. Kamu sudah memecat pengacara itu dengan tidak hormat, dan menemukan penggantinya yang kompeten untuk naik banding. Pelan-pelan, kamu akan naik lagi. Semangat! 

Aku tertawa, geli sendiri mendengar hati kecil membisikkan penghiburan. Yeah, right! Di mana hati kecil waktu aku perlu pertimbangannya? Sejak keluar dari rumah Bude, aku selalu sendirian dalam memutuskan sikap dan tindakanku. Sendirian pula menerima akibatnya.

Dan aku lelah. Untungnya, kantor polisi sudah di depan mata. Tepat pukul 20.00, seperti yang kujanjikan pada Briptu Ataria. Aku masuk lewat pintu belakang.

Briptu Ataria menyambutku dengan pelukan beruangnya. Aku hanya meringis. Siap mendengar omelannya karena tidak pernah kontak lagi beberapa bulan ini. Ia menggandengku ke sebuah ruangan kecil dengan bunk bed single.

“Wah, ada kosan di kantormu sekarang, Mbak?”'

Komentarku dibalas dengan gebukan di punggung. Tawanya meledak. “Kamar darurat untuk keadaan darurat. Disediakan atasanku karena terinspirasi oleh mahasiswi yang menggelandang di emperan kantor polisi tanpa alasan masuk akal.”

Ia menyindirku. Masih kesal karena tak pernah kuceritakan masalahku yang sebenarnya, kecuali kehabisan duit.

“Serius?” Aku berpura-pura bodoh.

Briptu Ataria mengedikkan bahu. “Ruangan ini biasanya digunakan keponakan atasanku. Rhea sakit-sakitan dan harus selalu dalam pengawasan Iptu Fara. Tapi belakangan sudah jarang ke sini. Aku sudah minta izin buat kamu menginap. Dikasih tiga hari.”

“Wow, itu sudah lebih dari yang kuharapkan. Terima kasih, Mbak.” Aku menurunkan ransel di lantai. Lalu memutar pinggang dan melemaskan bahu. Tulangku berkeretak. Briptu Ataria sedang memandangiku. Kuberi ia senyum polos.

“Maaf, aku enggak bisa menampungmu di rumah.” Ia mendesah.

“Hei, enggak masalah. Aku mengerti. Itu sebabnya aku ke sini, bukan ke rumahmu, Mbak.” Aku menarik kursi dan duduk di depannya. Briptu Ataria pernah menyediakan satu kamar untuk tempat tinggalku selama SMA. Kosan terjangkau sekaligus perlindungan ekstra. Namun, kemudian ia menikah, dan adik ipar perempuannya datang. Aku tidak suka berbagi kamar dengan orang lain dan memilih pindah ke dekat kampus.

“Kamu agak kurusan, Runi.”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu selama tiga hari ini?” tanyaku mengabaikan komentarnya. “Mbak Ata masih di kantor jam segini pasti sedang overload, dan dapat izin untukku pasti karena bantuanku diperlukan. Mutualisme.”

Polwan berusia 26 tahun itu tergelak. “Cerdas. Kamu harusnya jadi detektif. Aku perlu itu.”

“Aku siap. Ada kasus apa?”

Briptu Ataria memberi isyarat agar aku mengikutinya ke lantai dua. Ada beberapa orang petugas sedang lembur juga, nyaris tidak menoleh saat aku menyapa mereka. Di sebuah meja, dengan papan nama Briptu Ataria Sumardja yang roboh tergencet, ada tumpukan folder dan kertas-kertas menggunung. “Ini kasus administrasi yang sedang kutangani. Misteri kekacauan pengarsipan. Dan kamu, Seruni Nismara, kuangkat sebagai asisten detektif, dalam tugas khusus mengembalikan berkas-berkas yang hilang pada foldernya yang tepat. Waktumu 3x24 jam, dimulai sejak sekarang.”

Aku menelan ludah. Menoleh kepada Briptu Ataria yang matanya berbinar-binar seolah baru saja menemukan cincin emas dalam camilan kemasan. “Sudah berapa lama tugas ini Mbak terima dan abaikan?”

Ia menyeringai. “Sekitar sebulan, sejak petugas arsip dimutasikan ke daerah. Tapi terbengkalai juga, karena kerjaanku di lapangan enggak ada habisnya.”

Aku mengangguk seraya melepaskan jaket. “Baik. Aku mulai saja. Tolong sediakan nasi Padang dengan rendang dan telur dadar, sayur sambal lengkap. Minumnya, jus jeruk. Aku lapar.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Kelana, Lelaki Seribu Cerita - PRELUDE

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya