Comscore Tracker

[NOVEL] Miss Sanguine-BAB 2

Penulis: Pikadita

Sengketa Hati

 

"Jadi gimana ini, Bu Kabag Survei?" sindir Pak Riki. Dengan telunjuk, Pak Riki mendorong kacamatanya yang tergelincir hingga menyentuh ujung hidung. Lelaki itu melirik Sasa dari balik kacamatanya. 

Di hadapan Pak Riki, Sasa menunduk sambil merutuki Windu yang kurang lihai menyampaikan sinyal bahaya kepadanya.

"Apa yang membuatmu berpikir kalau blok C di distrik 9 bisa kita tanam tahun 2019?" Pria gempal itu mengelus kumis lebatnya. Setelah itu, ia kembali membolak-balik proposal rencana produksi kayu yang dibuat Sasa.

"Karena secara hukum kita punya izin melakukan kegiatan tanam di sana, Pak," jawab Sasa. Ia meremas tangannya di balik meja. Sasa hanya meneruskan misi Pak Tony. Semenjak Pak Tony pergi, pria di hadapannya ini cenderung berbuat sesuka hati. Sering berubah pikiran tiba-tiba. Bahkan lelaki itu bisa melupakan kata-kata yang baru ia ucapkan beberapa detik lalu. Sasa kehilangan Pak Tony sebagai pelindungnya.

"Saya, sih, maunya mencoret distrik 9 dari rencana produksi!" lanjut Pak Riki lagi. Pria itu pun melempar proposal Sasa ke atas meja. Sejak Pak Riki menjadi kepala departemen perencanaan, blok C di distrik 9 sama sekali tidak pernah disentuh dengan alasan kemanusiaan. "Kasihan mereka harus kehilangan tanah leluhur." Setelah itu Pak Riki bersandar di kursi sambil berkata, "Sayangnya, kita harus mulai membereskan distrik yang satu itu. Direksi memang sudah merencanakannya jauh hari bareng Pak Tony. Keputusan mereka sudah bulat." Pak Riki berdeham. Kini ia menegakkan tubuhnya.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Sasa sudah tidak betah. Beberapa kali ia mencuri pandang untuk melihat keadaan di luar ruangan. Windu tampak sedang duduk di kursi kerja Sasa.

"Oh ya, soal menirukan saya tadi-"

"Saya minta maaf, Pak. Enggak akan terulang lagi."

"Bagus." Pak Riki berdiri dan berjalan mendekati Sasa. "Kamu harus kurangi hobimu yang suka bercanda itu," tuntut lelaki berumur 57 itu. Sekali lagi Pak Riki membetulkan posisi kacamatanya. "Gimana menurutmu?"

Sasa mengangguk.  

"Sekarang kamu boleh keluar," ujar sang atasan sambil mengelus kumis tebalnya lagi.

Baru saja Sasa ingin berdiri, Pak Riki menahan Sasa. "Apa ada yang kurang, Pak?"

"Buatkan saya kopi. Mumpung kamu belum naik jabatan."

Sasa mengangguk lagi dan lekas keluar dari tempat menyebalkan itu. Setelah Sasa pergi, Pak Riki langsung mengangkat gagang telepon. Lelaki itu menekan sebuah nomor, lalu mulai berbicara saat suara di seberang sana menyahut. "Kita harus ganti rencana!" ujar Pak Riki di telepon.

***

Windu, lelaki yang tadi dilihatnya duduk di kursinya bangkit dan mendorong kursi itu ke arah Sasa agar perempuan mungil itu bisa duduk. "Ada apa, Sa?" tanya Windu.

Sebelum menjawab pertanyaan Windu, Sasa memberi isyarat dengan mata ke arah ruangan Pak Riki. "Bos minta sajen!" celetuk Sasa. Windu langsung mengerti sajen yang Sasa maksud adalah kopi. Lelaki itu tertawa pelan sambil menggoda Sasa yang lagi-lagi diberi tugas penting, yaitu membuat kopi.

"Jangan dikasih racun, ya, Sa!" seru Windu sambil menepuk pelan puncak kepala gadis itu.

Apa ini? Konsentrasi Sasa terpecah karena tindakan Windu barusan. Walaupun sudah terbilang sering, tapi selalu saja membuat percikan kembang api di dada setiap Windu melakukannya. Mengagetkan saja, batin Sasa.

Sekembalinya Sasa dari membuat kopi, Windu mendekati gadis itu lagi. "Pak Riki bilang apa tadi di dalam? Ngomongin gue nggak?" Windu masih penasaran. Lelaki itu benar-benar menunjukkan ambisinya ingin jadi bos survei.

"Iya."

"Apa katanya?" tanya Windu lagi. Kali ini lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sasa. Temperatur udara yang sejak tadi Sasa rasakan sangat dingin berangsur-angsur terasa hangat. Wangi bergamot bercampur apel yang menguar setiap kali Windu bergerak menambah hangat suasana hati Sasa.

"Katanya, distrik 9 tahun depan masuk rencana produksi."

"Serius? Akhirnya Pak Riki luluh juga." Windu menghela napas panjang. Pandangannya kini lurus ke depan. "Lo ngerasa aneh enggak, sih, Sa? Kenapa Pak Riki selalu menghindar kalau ada yang mau nyentuh distrik 9?"

"Trauma kali. Dulu pernah ada kerusuhan di sana, kan. Sampai karyawan kita jadi korban. Mungkin Pak Riki enggak mau hal kayak gitu terulang. Ingat, alasan kemanusiaan," papar Sasa menurut pemikirannya terhadap Pak Riki. "Kalau menurut gue sih, ya, harus selesai. Daripada berlarut-larut. Orang dibiarin juga masih sering bentrok, kan? Harusnya memang dari dulu diselesaikan, biar gak turun-temurun dendamnya."

"Gue setuju banget sama lo." Windu membalik badan dan langsung duduk membelakangi Sasa di kursi kerjanya.

Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan tanpa terasa jam yang menempel di dinding hampir menunjukkan pukul lima. Windu mematikan laptop dan merapikan meja kerja. Lelaki itu meraih jaket yang ia sampirkan di sandaran kursi. Sebelum mengenakan jaket, Windu menatap punggung Sasa. Gadis itu masih sibuk mengerjakan sesuatu. Sementara Windu sudah gatal ingin menarik kuciran rambut Sasa.

"Awww!" Sasa langsung menatap cermin yang ia tempel di sebelah komputernya. Ia pun merapikan ikatan rambutnya sambil ngomel-ngomel.

"Pulang, yuk," ajak Windu tanpa rasa bersalah. "Gue anterin."

"Sampai Bogor?"

Windu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm-"

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Nggak usah, deh, kalau gitu. Percuma aja."

"Kalau Rumah Kopi gimana?"

Sasa terlihat mempertimbangkan ajakan Windu. Rumah Kopi adalah tempat favorit mereka berdua. Di hari pertama Sasa masuk kantor, tanpa sengaja keduanya bertemu di sana setelah pulang kerja. Sejak itulah keduanya langsung cocok dan banyak bicara.

"Lo yang traktir, ya!" tembak Sasa tanpa persetujuan Windu. Ia pun buru-buru membereskan barang-barang dan langsung keluar ruangan. Windu mengekor di belakang. Keduanya berjalan menuju tempat nongkrong favorit mereka. Letaknya tak jauh dari stasiun Sudirman sehingga Sasa bisa langsung naik kereta dari situ.

"Coffee latte sama singkong goreng kayak biasa, kan?" tanya Windu sesaat setelah mereka melewati ambang pintu Rumah Kopi.

Sasa mengangguk dan langsung duduk di sudut ruangan. Sudut favoritnya karena dari situ Sasa bisa mengamati semua orang. Mulai dari barista yang sedang meracik kopi, hingga pasangan berwajah murung di sudut lain. Jendela kaca yang basah terkena tetesan hujan tadi sore adalah bagian terbaiknya. "Meromantisasi kemacetan Jakarta" adalah istilah yang mereka berdua pakai untuk situasi seperti itu.

Beberapa saat kemudian, Windu kembali dengan secangkir espresso, coffee latte, dan singkong goreng keju yang masih hangat.

"Jadi ... gue mau ngomong sesuatu ke lo, Sa," kata Windu ragu-ragu.

Rumah kopi, sisa rintikan hujan, aroma kopi, dan embun yang menempel di kaca adalah sebuah momen yang sangat pas untuk mengungkapkan perasaan, itu yang ada di pikiran Sasa. Apalagi baru saja Sasa berangan-angan menjadi pacar lelaki yang kini sedang menatapnya lekat-lekat. Windu pasti mau nembak gue, deh. Aduh, gue harus jawab apa, ya? batin Sasa.    

"Sasa ... are you there?" Windu melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di wajah Sasa. Mata tajam Windu seketika menghunjam tepat mengenai jantungnya. Sialnya, tatapan itu tak mau lepas dari perhatian Sasa.

"Oh, iya, gimana tadi?"

"Sebenernya sudah lama gue-"

Suka sama gue?

"-suka sama Mira."

Sasa tersedak. Ia nyaris memuntahkan singkong goreng keju yang enak itu ke hadapan Windu. "Mira sahabat gue?" tanyanya sambil menenggak secangkir coffee latte panas dan ia pun tersedak untuk kali kedua.

Secara spontan Windu mengambil selembar tisu di meja dan memberikannya kepada Sasa.

"Iya, Mira. Di kantor kan cuma satu yang namanya Mira."

Sasa mencoba menetralkan kekacauan yang ada di kepala dan hatinya. Ia berusaha bersikap senormal mungkin. Walaupun tadi ia tiba-tiba lupa sikap normal seperti apakah yang pas untuk menanggapi seorang cowok yang dia sukai, tetapi ternyata malah menyukai sahabatnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Namun, darahnya malah berdesir semakin kencang. "Jadi lo mau minta tolong ke gue buat jadi makcomblang?" tebak Sasa. Jika didengarkan dengan teliti, ada getaran yang berbeda dari suara Sasa. Namun, jelas Windu tidak menyadari itu karena ia mungkin sedang mabuk kepayang membayangkan Mira.

"Kalau boleh jujur, iya. Tapi jangan dulu deh, Sa." Windu menyeruput espresso-nya. "Gue masih belum yakin, sih."

"Hmm, oke," balas Sasa singkat. Sesaat kemudian gadis itu menyesal karena sudah berkata oke. Rasanya seluruh isi perutnya ingin keluar mengingat beberapa hari lalu di hadapan Mira, Sasa baru saja membuat target tahun baru, yaitu jadi pacarnya Windu dalam waktu dua bulan. Terdengar konyol dan rendahan, tapi target itu memang tertulis di buku hariannya. "Ndu, kayaknya gue mau pulang dulu, ya. Takut makin penuh nanti keretanya."

Windu melirik jam tangan dan berkata, "Loh, Sa ... kita kan baru duduk. Tuh singkongnya aja baru dimakan satu. Lagian jam segini kereta lagi padat-padatnya, kan?"

"Enggak kok. Yang penting gue bisa masuk ke gerbong lebih cepat."

"Yakin nggak mau nanti aja?"

"Iya, Windu."

"Ya sudah, yuk jalan," ajak Windu.

"Eh, nggak usah, gue sendiri aja nggak apa-apa."

"Sudah, yuk lah, jalan bareng ke stasiun. Dekat juga." Windu masih bersikeras dan Sasa pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia membiarkan Windu menemaninya berjalan hingga stasiun Sudirman. 

Klakson kendaraan yang saling sahut-menyahut membuat kepala Sasa semakin pusing. Tidak ada yang namanya meromantisasi kemacetan Jakarta, walaupun trotoar masih basah oleh hujan sore tadi. Bahkan saat yang seharusnya menjadi momen terbaiknya bersama Windu saat ini menjadi masa paling suram yang pernah hatinya alami.

"Makasih ya, traktirannya. Gue pulang dulu," ucap Sasa tanpa melihat wajah Windu. Gadis itu pun menghilang di kerumunan.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Miss Sanguine-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya