Comscore Tracker

[CERPEN] Secerah Hati Raya

Raya masih terus berharap...

Sudah sekitar satu jam lebih Raya berada di toko buku, dirinya menjadi pembicara dalam acara bedah buku yang diadakan di salah satu toko buku terbesar di kotanya. Raut wajah Raya menampakkan rona kebahagiaan karena dirinya merasa puas atas pencapaian yang telah diraihnya sebagai penulis novel.

Novelnya yang berjudul Kuraih Cintamu menjadi novel best seller. Raya tak menyangka novel yang awalnya ditulis di platform online itu banyak disukai pembaca hingga pada akhirnya dibukukan.

Raya juga mengingat betapa sulit perjalanannya menjadi seorang penulis, dari mulai diremehkan keluarganya karena merasa tidak bisa menghasilkan uang yang banyak, sampai mengalami berbagai penolakan dari penerbit dan media cetak atas karya-karyanya. Namun semua rasa sakit hati itu terbayar dengan keberhasilannya menjadi seorang penulis novel best seller kini.

Tiba di rumah, Raya merebahkan tubuh langsingnya di kasurnya yang empuk bersprei SpongeBob, tubuhnya benar-benar letih namun senyum di bibirnya seolah tak mau menghilang. Di sela-sela istirahatnya, tiba-tiba ponsel Raya berdering, satu pesan WhatsApp dari Nawang, temannya yang dulu pernah dimintai tolong oleh Raya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ayas.

Dalam pesannya itu Nawang mengundang Raya untuk datang ke acara empat bulanan di rumahnya dan Raya mengiyakan undangan Nawang yang merupakan temannya yang paling dekat.

Ingatannya kembali pada sosok Ayas, sudah tiga bulan lebih pasca Raya mengungkapkan perasaannya pada Ayas melalui Nawang, banyak hal yang terjadi pada kehidupan Raya dalam kurun waktu tiga bulan itu. Dimulai dari penolakan Raya akan lamaran Andri karena merasa tidak ada kecocokkan satu sama lain baik itu dari segi kepribadian maupun karakter, Raya tahu ada gurat kekecewaan yang mendalam dalam diri Anita maupun Andri, namun jika hal itu dipaksakan tentunya akan memberikan dampak yang lebih buruk untuk kedepannya nanti.

Hingga keputusan Raya untuk berhenti berharap pada Ayas karena menilai Ayas tidak mengindahkan maksud baik Raya. Sebenarnya hati Raya sangat berat melepas perasaannya yang sudah lama tertancap di hatinya pada sosok Ayas, apalagi di awal-awal, namun seiring berjalannya waktu perlahan-lahan Raya bisa melupakan Ayas.

Raya sadar bahwa banyak sekali hal yang harus dia lakukan selain memikirkan perasaan patah hati yang sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali. Raya berpikir mungkin Ayas merasa baik-baik saja bahkan masih bisa tertawa di saat hati Raya hancur karena patah hati.

Dalam kondisi itulah Raya menyibukkan dirinya dengan menulis dan menulis, semua itu semata-mata karena Raya ingin berhasil melupakan Ayas. Dan terbukti, dirinya sudah benar-benar lepas dari belenggu cinta sebelah tangan itu.

Sore hari yang cerah, Raya pergi ke sebuah kedai kopi favoritnya, Raya seringkali menghabiskan waktunya di kedai kopi tersebut sembari menulis novel, Apalagi melihat sore yang cerah hari ini membuat mood Raya kembali bagus untuk sekadar menikmati caramel macchiato sambil melihat orang-orang yang melintas di jalan.

Bagi Raya, dirinya paling senang memperhatikan ekspresi orang-orang yang dia temui di jalan, dirinya bisa menebak apa yang dipikirkan oleh orang lain melalui ekspresi dari orang tersebut. Sehingga hal itu bisa memudahkannya menggambarkan karakter seperti apa yang pantas untuk tokoh-tokoh dalam cerita novel barunya nanti.

Raya memperhatikan orang-orang berlalu lalang, baik itu anak-anak, orangtua, juga pasangan muda. Terbersit dalam hati terdalam Raya, dirinya berharap jika suatu hari nanti dia bisa mendapatkan pasangan hidup yang baik, yang dicintai dan mencintainya juga. Raya tersenyum kecil membayangkan kalau pasangan muda yang lewat di depannya itu dirinya.

Raya jadi teringat teman baiknya, Nawang si mak comblang, siapa tahu temannya itu memiliki kenalan atau bahkan suami Nawang memiliki teman yang belum menikah yang bisa dikenalkan pada Raya. Siapa tahu ada yang cocok dengan dirinya, sehingga impian Raya untuk segera menikah secepatnya dapat terealisasi.

Raya pun segera menghubungi Nawang dan menyampaikan maksudnya untuk mencari seseorang yang serius dan siap menikah sembari memberikan kriteria yang tidak muluk-muluk pada Nawang. Raya tersenyum ketika mendapatkan balasan dari Nawang, dan dia bersedia membantu Nawang mencarikan calon untuknya.

Raya bersyukur mendapatkan teman seperti Nawang, dirinya seolah mendapat harapan baru, meskipun nanti Raya harus kembali patah hati, namun jauh di lubuk hatinya Raya merasa senang karena dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menjemput jodohnya. Raya kembali menikmati caramel macchiatonya yang sudah hampir dingin.***

 

Tasikmalaya, 29-11-2019

Baca Juga: [CERPEN] Kisi Hati Ayas

Asih Purwanti Photo Verified Writer Asih Purwanti

Bukan Siapa-Siapa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You