Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi biji kopi
ilustrasi biji kopi (freepik.com/jcomp)

Kopi Gayo merupakan varietas kopi arabika yang berasal dari dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Luwes. Kopi Gayo terkenal dengan cita rasa yang tidak terlalu pahit, ada hint manis, serta memiliki tingkat keasaman rendah. Kopi ini tumbuh subur di ketinggian 1.000–1.700 mdpl.

Fyi, kopi Gayo menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari Indonesia, lho. Bahkan, kopi ini masuk dalam daftar kopi terbaik di dunia. Yuk, temukan fakta menarik tentang kopi Gayo lainnya dalam artikel berikut ini!

1. Sejarah singkat kopi Gayo

ilustrasi kopi (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Sejarah kopi Gayo dimulai pada abad ke-19. Pemerintah Belanda mulai memperkenalkan kopi arabika ke dataran tinggi Gayo pada tahun 1924. Untuk pertama kali, kopi ini ditanam di Desa Paya Tumpi dan menyebar ke wilayah lain seperti Rediness, Blang Gele, hingga Bandar Lampahan. 

Pada tahun 1942, perkebunan kopi di Gayo sempat terbengkalai. Meski Jepang berhasil ditaklukkan dan Indonesia merai kemerdekaan, kebun kopi ini masih terlantar hingga 30 tahun lamanya. Setelah peristiwa G30S PKI dan periswita DI/TII, perkebunan kopi ini mulai bangkit kembali dan membawa harapan baru bagi petani.

2. Tumbuh subur di ketinggian 1.000–1.700 mdpl

ilustrasi tanaman kopi (freepik.com/jcomp)

Kopi arabika paling cocok ditanam di ketinggian 1.000–1.700 meter di atas permukaan laut. Suhu idealnya 15-25 derajat Celcius. Ketinggian ini sangat berpengaruh pada kualitas rasa dan aroma kopi.

Nah, sentra perkebunan kopi di Aceh terletak di dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Di sana, pohon-pohon kopi ditanam hampir sepanjang jalan dan di sekeliling bukit. Area perkebunannya sangat luas, mencapai 103.148 hektar.

3. Jenis-jenis kopi Gayo

ilustrasi biji kopi (freepik.com/freepik)

  • Bergendal

Kopi bergendal merupakan varietas kopi arabika premium. Kopi ini tumbuh di ketinggian 1.200 sampai 1.500 mdpl, tepatnya di perkebunan Bener Meriah. Kopi bergendal memiliki cita rasa seperti manis madu dengan aroma buah-buahan dan biskuit panggang.

  •  Rambung

 Kopi rambung dikenal memiliki biji paling besar diantara kopi arabika Gayo lainnya. Rasa kopinya lembut dengan sentuhan aroma coklat dan karamel.

  • Lini Ethiopia

 Kopi ini merupakan varietas kopi arabika asal Ethiopia yang pertama kali masuk ke Indonesia pada 1928 lalu. Memiliki karakteristik rasa buah-buahan yang kuat, kopi ini menjadi salah satu varietas unggulan di wilayah Gayo.

  •  Tim-Tim Arabusta

Kopi ini merupakan hasil persilangan alami antara kopi arabika dan robusta. Memiliki daun lebar dan buah yang besar, kopi ini dikenal tahan terhadap hama dan penyakit.

4. Masuk dalam daftar kopi terbaik di dunia

ilustrasi kopi (freepik.com/stockking)

Kopi Gayo terkenal dengan cita rasa yang tidak terlalu pahit, ada hint manis, serta memiliki tingkat keasaman rendah. Dengan rasa yang seimbang, kopi ini bisa diolah dengan berbagai metode penyeduhan.

Mendapatkan sertifikat resmi dari Organisasi Internasional Fair Trade tahun 2010 lalu, kualitas kopi Gayo ini sudah diakui dunia. Bahkan, kopi Gayo masuk dalam peringkat 10 besar daftar biji kopi di dunia versi Taste Altas. Sangat membanggakan, bukan?

5. Festival Panen Kopi Gayo

ilustrasi perkebunan kopi (freepik.com/freepik)

Festival Panen Kopi Gayo merupakan ajang tahunan yang diadakan oleh masyarakat Aceh untuk merayakan musim panen. Umumnya, festival ini berlangsung antara bulan Juli hingga Desember, tepatnya saat musim panen. Dimulai sejak tahun 2017, festival panen kopi diadakan secara bergilir setiap akhir pekan di berbagai desa di Kabupaten Aceh Tengah.

Tak hanya perayaan hasil pertanian, festival ini juga menyuguhkan berbagai kegiatan menarik, lho. Kegiatan tersebut diantaranya atraksi budaya, ritual tradisi, workshop kopi, hingga pasar kuliner. 

Itu dia sejumlah fakta menarik tentang kopi arabika Gayo khas Aceh. Dari kopi Gayo kita belajar bahwa warisan budaya bisa bertransformasi menjadi komoditas kuliner unggulan yang membanggakan bangsa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team