Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Oolong Tea, Teh Tradisional China Favorit Para Raja
ilustrasi teh oolong (pexels.com/Hc Digital)
  • Oolong tea berasal dari China sejak era Dinasti Ming dan awalnya disajikan untuk kaisar karena bentuk serta rasanya yang unik.
  • Proses pembuatan oolong tea melibatkan oksidasi sebagian, penggulungan, dan pemanggangan ringan yang memakan waktu lama serta dilakukan secara manual.
  • Tingkat oksidasi menentukan rasa oolong tea, bisa floral hingga karamel, dan teh ini dapat diseduh berkali-kali dengan hasil rasa yang tetap kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jika kamu penggemar teh dan sudah mencoba berbagai jenis teh, maka kamu kemungkinan besar juga sudah pernah mencicipi oolong tea. Jangan-jangan, kamu justru salah satu orang yang suka banget sama jenis teh ini? Oolong tea sendiri adalah teh tradisional China yang terbuat dari tanaman Camellia sinensis. Saat ini, oolong tea mewakili sekitar 2 persen dari teh yang diproduksi dan dikonsumsi di seluruh dunia.

Menggabungkan kualitas teh hitam dan teh hijau membuat oolong tea menjadi teh yang lebih istimewa dibandingkan teh jenis lainnya. Dilansir Healthline, teh ini diklaim memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Mulai dari membantu menurunkan berat badan hingga menurunkan kadar stres dalam tubuh. Selain itu, oolong tea ini juga menyimpan beberapa fakta menarik yang gak dimiliki oleh teh jenis lainnya, lho.

1. Oolong tea awalnya disajikan untuk kaisar

ilustrasi perkebunan teh (unsplash.com/Paul-Vincent Roll)

Dibandingkan dengan matcha yang baru muncul beberapa tahun belakangan, oolong tea memiliki sejarah yang panjang. Teh ini awalnya dikenal dengan nama wūlóngchá (乌龙茶 / 烏龍茶). Dalam bahasa Mandarin, wūlóngchá memiliki arti teh naga hitam. Nama ini terinspirasi dari bentuk daun teh yang melengkung selama proses penggulungan.

Penyebutan wūlóngchá kemudian berubah menjadi oo-long dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya teh ini populer dengan nama oolong tea. Jenis ini muncul pertama kali pada era Dinasti Ming (1368-1644) di Provinsi Fujian, China. Di masa itu, teh dipadatkan dan dibentuk menjadi naga atau burung phoenix, lalu dikirim ke istana. Kaisar saat itu sangat menyukai rasa teh dari Provinsi Fujian karena bentuknya yang indah dan rasa yang halus. 

2. Oolong tea tercipta dari proses yang lebih rumit

ilustrasi oolong tea yang belum diseduh (unsplash.com/Petr Sidorov)

Salah satu perbedaan besar antara oolong tea dengan teh hijau dan teh hitam adalah proses oksidasi. Jika teh hitam dibuat dengan oksidasi maksimal dan teh hijau mengalami oksidasi minimal, maka oolong tea berada di tengah-tengah. Setelah dipetik, daun Camellia sinensis kemudian dijemur di bawah sinar matahari untuk menghilangkan kelembapan dan membuatnya layu.

Daun kemudian diguncang-guncang agar bagian tepinya memar dan diletakkan di tempat yang hangat serta lembap agar proses oksidasi dapat dimulai. Setelah dirasa cukup, daun teh yang baru setengah teroksidasi kemudian dipanaskan untuk menghentikan proses oksidasi. Terakhir, daun digulung menjadi bola-bola rapat sebelum akhirnya dipanggang ringan. Semua proses ini biasanya dilakukan dengan tenaga manusia dan membutuhkan waktu beberapa jam hingga berhari-hari.

3. Tingkat oksidasi menentukan rasa teh oolong

ilustrasi seorang nenek sedang menikmati secangkir teh (magnific.com/rawpixel.com)

Berbeda dengan teh jenis lain, oolong tea memiliki spektrum rasa lebih luas. Beberapa teh mungkin memiliki rasa yang manis, beberapa terasa segar dengan aroma floral. Perbedaan rasa pada oolong tea ini gak muncul secara alami. Lagi-lagi, proses oksidasi memainkan peran penting dalam menentukan rasa teh.

Proses ini mengubah zat katekin dalam teh menjadi senyawa kompleks yang memberikan warna dan rasa. Teh yang mengalami oksidasi antara 10—30 persen memiliki rasa floral yang ringan. Teh dengan oksidasi antara 40—60 persen menghasilkan rasa teh seperti madu dan buah yang manis. Terakhir, proses oksidasi antara 70—80 persen akan memberikan rasa karamel saat diseduh.

4. Oolong tea dapat diseduh berkali-kali

ilustrasi oolong tea yang sedang diseduh (unsplash.com/An Nguyen)

Layaknya teh pada umumnya, oolong tea paling bagus diseduh dengan air mendidih bersuhu tinggi. Suhu idealnya antara 85–96,7 derajat Celsius dengan waktu penyeduhan sekitar 3—5 menit. Dengan suhu tinggi, senyawa aromatik dapat dilepaskan dengan baik sehingga kamu bisa menikmati aroma dengan rasanya secara maksimal.

Selain itu, oolong tea juga bisa diseduh hingga berkali-kali, biasanya antara 5—10 kali seduhan. Normalnya, teh akan semakin kehilangan rasanya ketika diseduh berulang kali. Namun, pada oolong tea, daun teh baru akan benar-benar mengembang setelah seduhan pertama, sehingga rasa dan aromanya baru akan muncul pada seduhan kedua, ketiga, dan seterusnya. 

5. Oolong tea paling baik diseduh di teko tanah liat khusus

ilustrasi yixing tea pot (commons.m.wikimedia.org/Joekoz451)

Teko memang merupakan pasangan paling serasi untuk menyeduh teh. Namun, khusus untuk oolong tea, rasa terbaik hanya akan kamu dapatkan jika menyeduhnya di teko Yixing. Teko Yixing adalah teko tradisional Tiongkok yang terbuat dari tanah liat, di mana proses pembuatannya sepenuhnya menggunakan tangan.

Tanah liat yang digunakan pun merupakan endapan tanah liat ungu dan tanah liat merah yang diambil di wilayah Yixing, Jiangsu. Teko Yixing dipilih karena kemampuannya dalam menyerap aroma teh dan meningkatkan rasanya. Di negara asalnya, teko ini sering dianggap sebagai pusaka keluarga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Dibalik rasanya, oolong tea jelas bukan hanya sekadar teh biasa. Teh ini memiliki sejarah panjang dengan proses pembuatan yang juga rumit dan membutuhkan waktu lama. Gak heran kalau banyak orang menyukai teh satu ini dan menjadikannya favorit. Apakah oolong tea adalah jenis teh favoritmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team