ilustrasi proses pembuatan cold brew (pexels.com/Michael Burrows)
Seperti yang sudah disebutkan di awal, cold brew berbeda dengan es kopi biasa karena dibuat dalam satu batch berukuran besar untuk kemudian disimpan. Fakta inilah yang membuat risiko gagal dalam pembuatan cold brew tergolong lebih besar dibanding es kopi biasa.
Pasalnya, jika terjadi kesalahan pada grind size yang terlalu halus, rasio air dan kopi yang kurang tepat, atau waktu seduh yang terlalu lama, satu batch cold brew bisa gagal sekaligus. Intinya, sedikit saja kesalahan dapat membuat rasa cold brew menjadi pahit, terlalu pekat, atau justru hambar. Namun pada cold brew, kesalahan ini sering kali baru terasa setelah proses perendaman selesai berjam-jam, ketika kopi sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Selain itu, cold brew juga membutuhkan perhatian ekstra dalam hal kebersihan serta penyimpanan. Sebab, diseduh menggunakan air dingin serta disimpan dalam waktu tertentu, risiko kontaminasi atau penurunan kualitas rasa menjadi lebih tinggi jika penanganannya kurang tepat.
Pada akhirnya, coffee shop harus memastikan wadah tetap steril, suhu penyimpanan stabil, serta batas waktu konsumsi yang jelas agar kualitas tetap terjaga. Risiko inilah yang membuat produksi cold brew memerlukan perhitungan lebih matang dan akhirnya ikut memengaruhi harga jualnya.
Harga cold brew yang lebih mahal bukan tanpa alasan, melainkan cerminan dari pengalaman minum kopi yang terasa lebih halus dan berkelas. Jadi, lain kali saat melihat cold brew di menu, coba beri kesempatan dan rasakan sendiri perbedaannya.