Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ikan bandeng
ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Bernard Spragg. NZ)

Dalam perayaan Imlek, makanan Imlek bukan sekadar pelengkap meja, tetapi bagian dari cara keluarga menyusun harapan sepanjang tahun. Dari sekian banyak jenis ikan, bandeng sering hadir sebagai menu utama, terutama di keluarga Tionghoa Indonesia dan hampir selalu disajikan utuh dari kepala hingga ekor.

Kebiasaan ini bukan hanya soal simbol, tetapi juga berkaitan dengan cara orang menikmati, menyajikan, dan membagi hidangan bersama. Bandeng utuh memberi makna sekaligus pengalaman makan yang berbeda dibanding ikan yang sudah dipotong sejak awal. Berikut beberapa alasannya.

1. Penyajian bandeng utuh menjaga makna kelimpahan dalam hidangan

ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Naela ulul)

Dalam budaya Tionghoa, ikan identik dengan harapan rezeki berlebih karena pelafalannya mirip dengan kata “surplus” atau “kelebihan” (ikan dalam bahasa Mandarin disebut yú). Bandeng yang disajikan utuh melambangkan rezeki yang datang lengkap, tidak terpotong, dan tidak berkurang. Karena itulah, memotong ikan sebelum disajikan dianggap mengurangi makna  kelebihan rezeki tersebut.

Di meja makan, tampilan bandeng utuh memberi kesan hidangan utama yang utuh dan siap dibagi bersama. Ikan baru dipotong setelah disajikan, biasanya oleh orang yang dituakan atau tuan rumah. Proses ini menjadi bagian dari ritual makan saat Imlek itu sendiri.

2. Bandeng utuh lebih sesuai dengan cara olah makanan khas Imlek

ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Judgefloro)

Bandeng yang disajikan saat Imlek biasanya dimasak dengan cara direbus, dikukus, atau dipindang bersama bumbu sederhana seperti bawang, jahe, dan rempah aromatik. Cara masak ini memang lebih cocok untuk ikan utuh karena panas dan bumbu menyebar merata dari luar ke dalam tanpa membuat daging ikan mudah terlepas. Jika bandeng dipotong sejak awal, bagian perut dan punggung cenderung pecah, terutama karena bandeng memiliki daging yang terbilang sangat lembut.

Tak hanya itu, bandeng utuh juga lebih mudah diangkat dan dipindahkan ke piring saji besar tanpa membuat bentuknya berantakan. Penyajian utuh memungkinkan kuah atau saus disiram merata di atas ikan sehingga tampilannya tetap cantik dan menggugah selera. Untuk jamuan keluarga besar saat Imlek, cara ini jelas dianggap lebih efisien dan pantas karena ikan bisa dipotong langsung di meja sesuai kebutuhan.

3. Tradisi pemotongan ikan harus dilakukan di atas meja

ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Midori)

Dalam jamuan Imlek, bandeng sengaja dibawa ke meja dalam kondisi utuh karena pemotongan ikan dianggap sebagai bagian dari proses makan. Ikan biasanya baru dipotong ketika semua orang sudah duduk, sehingga pembagiannya bisa disesuaikan dengan jumlah orang dan selera masing-masing. Cara ini juga memudahkan tuan rumah memastikan setiap orang mendapat bagian yang seimbang, terutama potongan daging tebal di bagian tengah.

Posisi kepala ikan biasanya diarahkan ke orang yang lebih tua, lalu potongan pertama diambil dari bagian badan. Setelah itu, potongan berikutnya menyusul secara bergantian. Jika bandeng sudah dipotong sejak dari dapur, urutan ini jadi tidak terpakai, dan ikan berubah seperti lauk biasa yang langsung diambil sehingga kehilangan maknanya.

4. Ikan tidak dihabiskan sebagai bagian dari tradisi makan

ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Louiesemendez)

Dalam banyak keluarga, bandeng Imlek memang tidak langsung dihabiskan saat hari perayaan. Sebagian ikan sengaja disisakan untuk disantap keesokan hari sebagai simbol rezeki yang berlanjut. Karena itu, ikan cenderung dibiarkan utuh selama mungkin, termasuk sejak pertama kali disajikan di meja. Penyajian utuh membantu menjaga bentuk ikan tetap rapi meski tidak langsung dihabiskan.

Jika bandeng sudah dipotong sejak awal, makna “tersisa” tersebut menjadi kurang terasa. Potongan kecil lebih mudah habis dan sulit disimpan tanpa mengubah tampilannya. Bandeng utuh justru lebih praktis untuk disimpan kembali dan dihangatkan tanpa kehilangan bentuk maupun rasa. Cara ini sudah menjadi kebiasaan makan dalam perayaan Imlek.

5. Akulturasi membuat bandeng jadi pilihan khas Imlek di Indonesia

ikan bandeng (commons.wikimedia.org/Wiki Farazi)

Di Indonesia, bandeng dipilih saat Imlek karena memang sudah lama jadi salah satu jenis ikan yang akrab di dapur orang Indonesia, terutama di lingkungan Tionghoa Betawi. Bandeng mudah didapat, ukurannya besar, dan harganya relatif masuk akal untuk disajikan ke banyak orang. Karena itu, ikan ini pelan-pelan menggantikan jenis ikan lain yang lebih sulit ditemukan di Indonesia.

Olahan yang paling sering muncul adalah pindang bandeng, yang dari awal memang dimasak utuh. Bandeng baru dipotong setelah matang supaya dagingnya tidak hancur dan kuah tetap bening. Cara masak ini lalu memengaruhi cara penyajiannya yang memang dibiarkan tetap utuh.

Bandeng yang disajikan utuh saat Imlek menunjukkan bahwa cara makan juga punya peran penting dalam membentuk makna sebuah hidangan, bukan cuma soal rasa atau teknik masak. Penyajian tanpa dipotong membuat bandeng tetap tampil sebagai hidangan utama yang layak dibagi bersama dan dinikmati perlahan sesuai tradisi keluarga. Semoga penjelasan tadi bisa menjawab rasa penasaran kamu akan hal satu ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team