Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perkedel
ilustrasi perkedel (freepik.com/kamran aydinov)

Kentang sering jadi bahan utama berbagai gorengan favorit, termasuk kroket dan perkedel yang kerap dianggap serupa. Bentuknya mirip, sama-sama digoreng, dan sering hadir di meja makan sebagai lauk atau camilan. Namun di balik kesamaan itu, kroket dan perkedel punya karakter, teknik pengolahan, serta cita rasa yang berbeda.

Perbedaan ini tidak hanya soal isian atau lapisan luar, tetapi juga berkaitan dengan sejarah dan cara memasaknya. Banyak orang baru menyadari perbedaannya setelah mencicipi tekstur dan sensasi di mulut yang tidak sama. Bagi kamu penggemar kedua makanan ini, yuk simak penjelasan di subjudul berikut untuk mengenali perbedaan kroket dan perkedel dengan lebih jelas.

1. Asal-usul kroket dan perkedel yang berbeda latar budaya

ilustrasi perkedel (freepik.com/freepik)

Kroket berasal dari kuliner Eropa, khususnya Prancis dan Belanda, yang kemudian dibawa ke Indonesia melalui pengaruh kolonial. Makanan ini awalnya dikenal sebagai hidangan bangsawan dengan isian daging dan saus kental. Seiring waktu, kroket beradaptasi dengan selera lokal dan menjadi camilan populer.

Sementara itu, perkedel merupakan hasil adaptasi masakan Barat yang dipadukan dengan cita rasa Nusantara. Perkedel kentang berkembang dari frikadel, tetapi diolah dengan bumbu khas Indonesia. Karena itu, perkedel lebih akrab sebagai lauk pendamping nasi.

2. Perbedaan bahan isian yang membentuk karakter rasa

ilustrasi isian kroket (freepik.com/freepik)

Isian kroket umumnya lebih kompleks karena memadukan kentang dengan ragout berisi daging cincang, wortel, dan susu. Kombinasi ini menghasilkan rasa gurih yang creamy dan lembut. Tekstur isian kroket cenderung halus dan menyatu.

Berbeda dengan kroket, perkedel biasanya hanya menggunakan kentang sebagai bahan utama. Tambahan seperti daging cincang atau daun seledri bersifat opsional dan tidak dominan. Rasanya lebih sederhana, tetapi kuat karena penggunaan bawang dan rempah.

3. Teknik pengolahan adonan

ilustrasi menghaluskan kentang (freepik.com/jcomp)

Adonan kroket dimasak terlebih dahulu hingga kental sebelum dibentuk. Proses ini bertujuan agar isian tetap lembut dan tidak hancur saat digoreng. Setelah itu, kroket dilapisi tepung roti agar bentuknya tetap kokoh.

Perkedel justru mengandalkan kentang yang diremas langsung hingga menyatu. Adonan ini kemudian dibentuk pipih tanpa proses pemasakan lanjutan. Teknik ini membuat perkedel lebih cepat dibuat dan praktis.

4. Lapisan luar dan tekstur saat digoreng

ilustrasi lapisan luar kroket (freepik.com/freepik)

Kroket memiliki lapisan luar dari tepung panir yang menghasilkan tekstur renyah saat digigit. Lapisan ini juga berfungsi melindungi isian agar tidak bocor saat digoreng. Sensasi kriuk di luar menjadi ciri khas kroket.

Sebaliknya, perkedel tidak menggunakan lapisan tepung roti. Tekstur luarnya cenderung lembut dengan sedikit garing di bagian pinggir. Karakter ini membuat perkedel terasa lebih ringan saat dikunyah.

5. Cara penyajian

ilustrasi perkedel (freepik.com/kamran aydinov)

Kroket sering disajikan sebagai camilan atau hidangan pembuka. Ukurannya yang kecil dan teksturnya yang renyah membuatnya cocok disantap tanpa nasi. Kroket juga kerap hadir dalam acara formal atau sajian prasmanan.

Perkedel lebih sering diposisikan sebagai lauk pendamping makanan utama. Hidangan ini hampir selalu disajikan bersama nasi dan lauk lain seperti rendang atau soto. Karena itu, perkedel identik dengan menu rumahan sehari-hari.

Kroket dan perkedel memang sama-sama berbahan dasar kentang, tetapi memiliki identitas kuliner yang berbeda. Perbedaan proses, isian, dan cara penyajian membuat keduanya tak bisa disamakan begitu saja. Dengan memahami bedanya, kita bisa lebih menghargai kekayaan adaptasi kuliner yang tumbuh di meja makan Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team