TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Katanya Puasa Bisa Bikin Badan Kurus, Benar Gak Ya?

#RamadanMasaKini Perasaan kok jarum timbangan makin ke kanan

IDN Times/Putriana Cahya

Idealnya, kita makan tiga hingga empat kali sehari, belum lagi ngemil di sela jadwal makan. Tapi selama Ramadan, siklus makan bakal berubah total. Cuma dua kali sehari dengan jeda hampir 13 jam tanpa makan dan minum sama sekali.

Inilah salah satu alasan kenapa banyak orang menganggap puasa sebagai salah satu cara efektif menurunkan angka timbangan. Niat diet yang cuma sekadar wacana karena bisa sembarangan comot makanan sana-sini, akhirnya bisa direm berkat puasa.

Kali ini, tim IDN Times telah menghimpun opini sejumlah orang di lingkungan kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tentang puasa bisa bikin kurus. Kira-kira benar gak sih puasa bikin kurus?

1. Benarkah puasa merupakan langkah diet efektif?

YouTube.com/IDN Times

Mereka bercerita soal pengalaman pribadi masing-masing selama menjalani puasa sebulan penuh. Hasilnya, sebagian orang memang berhasil turun berat badan antara dua hingga tiga kilogram.

Ayu Fitri salah satunya. Ia mengaku bisa turun hingga dua kilogram selama berpuasa. "Menurutku fakta. Ya karena lebih ngurangin nafsu (makan) aja sih," ujarnya di kampus UNESA.

Serupa dengan Ayu, ada juga Amara Ridha yang kurusan hingga tiga kilo akibat berpuasa, walaupun setelahnya, angka timbangan kembali di angka semula.

Baca Juga: 11 Makanan Berlemak yang Baik untuk Tubuh Kamu, Gak Bikin Gemuk Kok!

2. Menurut pakar, semua itu cuma mitos

YouTube.com/IDN Times

Meski demikian, pakar nutrisi dari University of Alabama, Amerika Serikat, Matthew Lantz Blaylock menegaskan puasa bikin berat badan turun hanyalah mitos. Mayoritas orang berpikiran bahwa puasa akan membuat kita gak makan dan minum, sehingga tubuh akan kehilangan kalori.

Faktanya, setelah buka, sebagian orang justru memasukkan kalori dalam jumlah lebih banyak. "Kalau orang puasa 13 jam sehari, tapi sisa waktu enam jam setelah buka mereka makan banyak dan tak terkontrol, itu malah bisa menyebabkan kegemukan," kata Matthew.

Pernyataan Matthew sejalan dengan pengakuan mayoritas peserta yang justru mengalami penambahan berat badan rata-rata 2-3 kilogram usai Ramadan. Salah satunya Luluk Hikmawati yang biasanya naik dua kilogram setelah puasa.

3. Gizi seimbang adalah kunci pola makan sehat selama puasa

Unsplash.com/Elijah O'Donell

Asupan nutrisi yang baik mengandung unsur empat sehat lima sempurna, terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta, dan kalsium. Gizi seimbang akan memicu metabolisme yang seimbang pula, sehingga kebutuhan tubuh tetap terpenuhi, tapi tak berlebihan.

"Kalau mengikuti pola makan seperti itu dengan porsi yang tidak berlebihan, maka bisa menjaga berat badan atau menurunkannya," tutur Matthew.

Ia menambahkan perhitungan yang tepat adalah berdasarkan besar asupan kalori, bukan kuantitas berapa kali kita makan dalam sehari. Artinya tak masalah kalau makan sehari dua kali seperti saat puasa atau 3-4 kali seperti saat hari-hari normal, asalkan jumlah kalorinya tak berlebihan.

Rupanya kasus kenaikan berat badan yang dialami Luluk Hikmawati jadi masuk akal. Dara berusia 20 tahun itu mengaku pola makan yang selama ini dianut belum sepenuhnya sehat.

"Kalau di rumah tuh makannya banyak, pasti disediain sama orang tua," ucap Luluk. "Kalau di kost makannya pasti mie, kalau gak, ya gitu-gitu aja."

Baca Juga: [LINIMASA] Fakta dan Data Arus Mudik Lebaran 2019

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya