Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Pangan Dunia Naik Imbas Perang Timur Tengah
Pedagang bumbu dapur di Pasar Sayur Magetan (IDN Times/Riyanto)

Harga pangan dunia kembali mengalami kenaikan pada Maret 2026. Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan lonjakan ini dipicu meningkatnya biaya energi akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Indeks Harga Pangan FAO tercatat mencapai 128,5 poin atau naik 2,4 persen dibandingkan Februari dan satu persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga energi, terutama, karena terganggunya distribusi dari kawasan Timur Tengah, turut mendorong meningkatnya biaya produksi dan distribusi pangan secara global.

1. Dampak konflik bikin biaya pangan ikut melonjak

Kondisi geopolitik global kembali menunjukkan pengaruh besar terhadap sektor pangan. Dilansir dari situs resmi FAO, Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menjelaskan sejauh ini kenaikan harga masih tergolong moderat, karena ditopang pasokan global yang relatif stabil. Namun, risiko jangka panjang tetap mengintai. Jika konflik berlangsung lebih dari 40 hari ke depan, petani di berbagai negara bisa menghadapi tekanan serius, mulai dari mahalnya pupuk hingga margin keuntungan yang semakin tipis.

Dalam situasi tersebut, petani kemungkinan harus mengambil keputusan sulit, seperti mengurangi penggunaan input, menanam dalam skala lebih kecil, atau beralih ke komoditas yang lebih hemat biaya. Pilihan-pilihan ini berpotensi menurunkan produktivitas dan pada akhirnya memengaruhi ketersediaan pangan, serta harga di masa mendatang.

2. Minyak nabati dan gula jadi penyumbang kenaikan tertinggi

Potret gula pasir (pixabay.com/SweetSolo)

Kenaikan harga pangan global juga terlihat pada sejumlah komoditas, terutama minyak nabati. Indeks Harga Minyak Nabati FAO tercatat naik 5,1 persen dibandingkan Februari. Kenaikannya melonjak 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi pada hampir semua jenis minyak, mulai dari kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, hingga rapeseed, yang terdorong lonjakan harga minyak mentah global dan meningkatnya permintaan biofuel.

Tak kalah signifikan, harga gula global melonjak hingga 7,2 persen pada Maret. Hal ini berkaitan dengan potensi pengalihan produksi tebu di Brasil untuk etanol, seiring mahalnya harga energi global.

Selain itu, harga daging dunia ikut mengalami kenaikan sebesar 1,0 persen secara bulanan. Peningkatan ini terutama dipicu lonjakan harga daging babi di Uni Eropa menjelang naiknya permintaan musiman, serta kenaikan harga daging sapi global, khususnya dari Brasil yang mengalami keterbatasan pasokan ekspor. Sementara itu, harga daging domba dan unggas justru mengalami penurunan akibat kendala distribusi ke kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, harga produk susu juga naik sebesar 1,2 persen, didorong kenaikan harga susu bubuk seiring terbatasnya pasokan di Oseania. Di sisi lain, harga keju di Uni Eropa justru turun akibat produksi yang meningkat dan melemahnya permintaan ekspor, berbeda dengan tren di Oseania yang mengalami kenaikan. Selanjutnya, harga sereal naik 1,5 persen, terutama akibat kenaikan harga gandum dunia yang terdampak kekeringan di Amerika Serikat, serta tingginya biaya pupuk di Australia.

Kenaikan ini turut merembet ke harga kedelai di dalam negeri. Saat ini, harga kedelai telah menyentuh Rp10.900 per kilogram, naik dari kisaran sebelumnya sekitar Rp10.000. Lonjakan ini cukup membebani pelaku usaha, sehingga banyak pengrajin tahu dan tempe harus memutar strategi, agar tetap bertahan, mulai dari mengurangi jumlah pekerja, memperkecil ukuran produk, hingga menekan kapasitas produksi harian.

Berbeda dengan komoditas lain, harga beras justru mengalami penurunan sekitar 3 persen. Hal ini terjadi karena faktor musim panen, melemahnya permintaan impor, dan fluktuasi nilai tukar di sejumlah negara.

3. Pasokan global masih aman, tapi tetap perlu waspada

FAO menilai kondisi pasokan pangan global saat ini masih relatif aman, meskipun beberapa harga pangan mulai merangkak naik. Produksi sereal dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 3.036 juta ton, meningkat 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, stok sereal global juga diproyeksikan naik 9,2 persen menjadi 951,5 juta ton, dengan rasio stok terhadap penggunaan mencapai 32,2 persen. Angka tersebut menunjukkan ketersediaan pangan masih cukup longgar.

Konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor ketidakpastian yang perlu diwaspadai. Gangguan rantai pasok, kenaikan biaya transportasi, hingga mahalnya pupuk bisa berdampak pada produksi pangan ke depan. Jika tekanan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga pangan global akan semakin meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Secara keseluruhan, kondisi saat ini memang masih terkendali, tetapi belum sepenuhnya stabil. Kenaikan harga energi dan dinamika geopolitik global menjadi pengingat bahwa sistem pangan dunia sangat rentan terhadap berbagai faktor eksternal. Oleh karena itu, pemantauan dan antisipasi tetap diperlukan, supaya dampaknya tidak semakin meluas, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor pangan.

Editorial Team