Potret gula pasir (pixabay.com/SweetSolo)
Kenaikan harga pangan global juga terlihat pada sejumlah komoditas, terutama minyak nabati. Indeks Harga Minyak Nabati FAO tercatat naik 5,1 persen dibandingkan Februari. Kenaikannya melonjak 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi pada hampir semua jenis minyak, mulai dari kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, hingga rapeseed, yang terdorong lonjakan harga minyak mentah global dan meningkatnya permintaan biofuel.
Tak kalah signifikan, harga gula global melonjak hingga 7,2 persen pada Maret. Hal ini berkaitan dengan potensi pengalihan produksi tebu di Brasil untuk etanol, seiring mahalnya harga energi global.
Selain itu, harga daging dunia ikut mengalami kenaikan sebesar 1,0 persen secara bulanan. Peningkatan ini terutama dipicu lonjakan harga daging babi di Uni Eropa menjelang naiknya permintaan musiman, serta kenaikan harga daging sapi global, khususnya dari Brasil yang mengalami keterbatasan pasokan ekspor. Sementara itu, harga daging domba dan unggas justru mengalami penurunan akibat kendala distribusi ke kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, harga produk susu juga naik sebesar 1,2 persen, didorong kenaikan harga susu bubuk seiring terbatasnya pasokan di Oseania. Di sisi lain, harga keju di Uni Eropa justru turun akibat produksi yang meningkat dan melemahnya permintaan ekspor, berbeda dengan tren di Oseania yang mengalami kenaikan. Selanjutnya, harga sereal naik 1,5 persen, terutama akibat kenaikan harga gandum dunia yang terdampak kekeringan di Amerika Serikat, serta tingginya biaya pupuk di Australia.
Kenaikan ini turut merembet ke harga kedelai di dalam negeri. Saat ini, harga kedelai telah menyentuh Rp10.900 per kilogram, naik dari kisaran sebelumnya sekitar Rp10.000. Lonjakan ini cukup membebani pelaku usaha, sehingga banyak pengrajin tahu dan tempe harus memutar strategi, agar tetap bertahan, mulai dari mengurangi jumlah pekerja, memperkecil ukuran produk, hingga menekan kapasitas produksi harian.
Berbeda dengan komoditas lain, harga beras justru mengalami penurunan sekitar 3 persen. Hal ini terjadi karena faktor musim panen, melemahnya permintaan impor, dan fluktuasi nilai tukar di sejumlah negara.