Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Imbas Perang Iran vs AS, Harga Plastik Naik 50-100 Persen

Imbas Perang Iran vs AS, Harga Plastik Naik 50-100 Persen
Ilustrasi kantong plastik (Inin nastain/IDN Times)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Harga berbagai jenis plastik di Indonesia melonjak 50–100 persen akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah karena konflik Iran dan Amerika Serikat.
  • IKAPPI menilai kenaikan harga ini menunjukkan ketergantungan tinggi pada impor bahan baku plastik dan mendorong pemerintah mencari pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah.
  • Kenaikan harga juga dianggap sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik, dengan mendorong penggunaan tas belanja anyaman serta optimalisasi daur ulang limbah plastik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Harga berbagai jenis produk plastik tengah mengalami kenaikan imbas impor bahan baku yang terganggu akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengatakan, kenaikan harga plastik sejatinya telah terjadi sejak pekan kedua bulan puasa.

"Setiap pekannya sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak dan melihat situasi hari ini memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50 persen, bahkan ada yang 100 persen," kata Reynaldi kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).

1. Ketergantungan impor bahan baku

Imbas Perang Iran vs AS, Harga Plastik Naik 50-100 Persen
Biji plastik impor (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Reynaldi mengatakan, kenaikan harga plastik kresek terjadi dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Lalu, plastik jenis lainnya naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.

Kenaikan terjadi lantaran industri plastik Indonesia masih sangat bergantung dengan bahan baku yang impor dari negara lain.

Oleh karena itu, Reynaldi mendesak pemerintah agar tidak membiarkan kondisi tersebut terjadi secara berkepanjangan. Caranya adalah dengan mulai mengganti pasokan bahan baku dari luar Timur Tengah.

"Perlu mengganti pasokan di luar dari Timur Tengah, pasokan-pasokan importasinya karena kita masih ketergantungan impor bahan baku plastik. Tentu ini akan berpengaruh sekali dan bahkan bisa multiplier effect-nya luar biasa tidak hanya terjadi di komunitas pangan saja, kosmetik, otomotif ini juga akan berpengaruh," kata dia.

2. Momentum pengurangan penggunaan plastik

Imbas Perang Iran vs AS, Harga Plastik Naik 50-100 Persen
Ilustrasi kantong plastik (Inin nastain/IDN Times)

Di sisi lain, IKAPPI melihat kenaikan harga plastik ini bisa jadi momentum untuk mengurangi penggunaan plastik di dalam negeri, baik dari sisi pembeli maupun penjual.

"Kalau di pasar tradisional kami sudah lama mengkampanyekan untuk menggunakan tas belanjaan anyaman agar mengurangi penggunaan plastik dan bahkan perusahaan-perusahaan plastik untuk daur ulang limbahnya juga harus dioptimalkan," kata Reynaldi.

3. Kenaikan harga plastik diakui Mendag

Wagub dampingi Mendag sidak pasar (4).jpg.jpeg
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso melakukan peninjauan di Pasar Gambir Kecamatan Tebingtinggi, Kota Tebingtinggi, Jumat (27/2/2026).

Sebelumya, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan, naiknya harga plastik di Indonesia akibat dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Salah satu bahan baku pembuatan plastik berasal dari Timur Tengah.

"Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi di kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Budi menyampaikan, pemerintah sedang mencari alternatif negara produsen nafta sehingga Indonesia tidak hanya impor dari Timur Tengah.

"Apa yang demikian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya Afrika, India dan Amerika," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in Business

See More