Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dolar Naik, Makanan Lokal Tradisional Justru Diuntungkan?
Klepon (commons.wikimedia.org/Tim WikiPuluran - WikiBanua)
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat harga bahan impor seperti gandum dan kedelai melonjak, sehingga biaya produksi makanan berbasis impor ikut meningkat.
  • Makanan tradisional berbahan lokal seperti singkong, jagung, dan ubi dinilai lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar karena tidak bergantung pada impor.
  • Kenaikan dolar membuka peluang bagi UMKM kuliner lokal untuk memanfaatkan bahan pangan dalam negeri, menjaga stabilitas harga, dan menarik minat konsumen baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Pada 4 Juni 2026, kurs dolar AS bahkan berada di kisaran Rp18.045. Kondisi ini membuat berbagai produk impor menjadi lebih mahal, mulai dari elektronik hingga bahan pangan. Dampaknya pun perlahan mulai terasa di dapur rumah tangga maupun di pelaku usaha kuliner.

Selama ini, banyak makanan populer di Indonesia ternyata masih bergantung pada impor. Gandum untuk roti dan mi, kedelai untuk tahu dan tempe, hingga bawang putih masih didatangkan dari luar negeri. Ketika dolar naik, biaya impor ikut melonjak sehingga harga makanan berbahan impor berpotensi meningkat di pasaran. Namun, di tengah situasi tersebut, makanan lokal tradisional justru dinilai memiliki peluang untuk lebih diuntungkan karena lebih banyak menggunakan bahan baku dalam negeri. Lantas, apakah makanan lokal tradisional justru bisa menjadi pemenang saat dolar terus menguat?

1. Saat rupiah melemah, makanan berbahan impor paling terdampak

Ilustrasi tempe (vecteezy.com/p.sanyoto968635)

Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap beberapa komoditas pangan impor. Kedelai menjadi contoh paling jelas karena sebagian besar kebutuhan nasional masih berasal dari luar negeri. Akibatnya, produk seperti tahu dan tempe ikut terkena dampak ketika rupiah melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat biaya produksi pelaku usaha makanan meningkat dan harga jual di pasar ikut terdorong naik.

Mengutip IDN Times, Anggota Komisi XI DPR RI, Erik Hermawan, mencermati lonjakan nilai tukar dolar AS yang menembus level Rp17.600 pada Jumat (15/05/2026). Ia mendorong pemerintah dan otoritas moneter untuk memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi serta daya beli masyarakat. Erik menilai pelemahan rupiah dipicu oleh tekanan ganda, mulai dari eskalasi geopolitik global di Timur Tengah hingga meningkatnya persepsi risiko fiskal domestik. Menurutnya, dampak pelemahan rupiah mulai terasa hingga tingkat akar rumput, termasuk perajin tahu dan tempe yang kesulitan menghadapi lonjakan harga kedelai domestik.

2. Makanan tradisional dinilai lebih tahan gejolak dolar

ilustrasi makanan tradisional Indonesia (pexels.com/Agita Prasetyo)

Berbeda dengan makanan berbasis impor, banyak kuliner tradisional Indonesia menggunakan bahan lokal yang diproduksi di dalam negeri. Contohnya seperti tiwul dari singkong, jagung bose, gatot, papeda, cenil, hingga berbagai olahan ubi dan pisang. Karena bahan bakunya berasal dari petani lokal, makanan tradisional relatif tidak terlalu terdampak langsung oleh kenaikan dolar AS. Harga memang masih bisa bergerak naik akibat distribusi atau inflasi umum, tetapi tekanannya dinilai tidak sebesar makanan berbahan impor.

Di tengah harga roti, mi, atau makanan berbasis gandum yang berpotensi meningkat, masyarakat bisa mulai melirik makanan alternatif lokal yang lebih murah dan mudah ditemukan. Kondisi ini membuat makanan tradisional kembali memiliki daya tarik tersendiri di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Selain lebih terjangkau, kuliner lokal juga dinilai lebih dekat dengan rantai pasok domestik sehingga ketersediaannya cenderung lebih stabil. Hal ini membuka peluang bagi pangan tradisional untuk kembali mendapat perhatian dari masyarakat perkotaan.

3. UMKM kuliner lokal waktunya unjuk gigi memanfaatkan momentum

ilustrasi turun lapang ke pasar tradisional (pexels.com/Clem Onojeghuo)

Kenaikan harga bahan impor membuat banyak pelaku usaha makanan harus memutar strategi. Sebagian mulai mengurangi penggunaan bahan impor, sementara yang lainnya mencoba menciptakan menu berbasis bahan lokal agar biaya produksi lebih stabil. Langkah ini dilakukan supaya harga jual produk tetap bisa dijangkau konsumen di tengah tekanan ekonomi. Pelaku UMKM pun mulai melihat bahan pangan lokal sebagai solusi yang lebih aman untuk jangka panjang.

Fenomena ini sebenarnya bisa menjadi momentum besar bagi UMKM kuliner tradisional. Produk berbahan singkong, ubi, atau jagung dapat menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan dengan makanan berbahan impor. Selain lebih murah, bahan lokal juga lebih mudah diperoleh di pasar domestik sehingga pasokannya relatif lebih aman. Kondisi tersebut memberi peluang bagi usaha makanan tradisional untuk memperluas pasar dan menarik konsumen baru.

4. Apakah ini saatnya pangan lokal bangkit di tengah guncangan mata uang dolar?

ilustrasi pedagang kaki lima (unsplash.com/Zhen Yao)

Penguatan dolar memang memberi tekanan terhadap banyak sektor ekonomi. Di sisi lain, kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya memperkuat pangan lokal agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor. Ketika harga bahan baku luar negeri naik, produk berbasis hasil pertanian domestik justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Situasi tersebut membuat isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan.

Kuliner tradisional yang selama ini sering dianggap makanan “jadul” justru memiliki keunggulan dalam situasi seperti sekarang. Ketika bahan impor mahal, keanekaragaman pangan berbasis hasil pertanian lokal bisa menjadi pilihan yang lebih stabil dan ekonomis. Selain membantu konsumen menghemat pengeluaran, penggunaan bahan lokal juga dapat membantu perputaran ekonomi petani dan pelaku usaha domestik. Hal ini membuat makanan tradisional tidak hanya relevan dari sisi budaya, tetapi juga dari sisi ekonomi.

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin makanan lokal tradisional Indonesia kembali naik daun. Bukan semata-mata karena faktor nostalgia atau budaya, tetapi juga karena dinilai lebih relevan menghadapi kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Situasi ini dapat menjadi peluang penting bagi kebangkitan kuliner tradisional Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article