Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Pada 4 Juni 2026, kurs dolar AS bahkan berada di kisaran Rp18.045. Kondisi ini membuat berbagai produk impor menjadi lebih mahal, mulai dari elektronik hingga bahan pangan. Dampaknya pun perlahan mulai terasa di dapur rumah tangga maupun di pelaku usaha kuliner.
Selama ini, banyak makanan populer di Indonesia ternyata masih bergantung pada impor. Gandum untuk roti dan mi, kedelai untuk tahu dan tempe, hingga bawang putih masih didatangkan dari luar negeri. Ketika dolar naik, biaya impor ikut melonjak sehingga harga makanan berbahan impor berpotensi meningkat di pasaran. Namun, di tengah situasi tersebut, makanan lokal tradisional justru dinilai memiliki peluang untuk lebih diuntungkan karena lebih banyak menggunakan bahan baku dalam negeri. Lantas, apakah makanan lokal tradisional justru bisa menjadi pemenang saat dolar terus menguat?
