Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Pakkat, Kuliner Legendaris Ramadan dari Mandailing
Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)
  • Pakkat adalah pucuk muda rotan yang dimasak menjadi kuliner khas Mandailing, muncul terutama saat Ramadan dan dikenal dengan rasa pahit yang menyegarkan setelah berpuasa.
  • Tradisi konsumsi pakkat bukan hanya bernilai budaya, tapi juga memiliki manfaat fisiologis karena kandungan air dan senyawa alami seperti vitamin C, flavonoid, serta tanin.
  • Pemanfaatan rotan muda untuk pakkat membantu ekonomi lokal sekaligus menjaga keseimbangan ekologi hutan tanpa merusak tanaman induk atau habitat satwa liar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di Medan, Ramadan selalu terasa padat dan hangat sekaligus. Jalanan ramai, masjid penuh, dan tepat pukul 5 sore, orang-orang mulai berburu takjil. Di banyak tempat, kurma impor dan gorengan jadi pilihan aman. Tapi di kantong-kantong komunitas Mandailing, ceritanya tentu berbeda.

Menjelang azan, asap tipis dari rotan bakar mulai naik dari lapak sederhana. Di kawasan seperti Jalan Letda Sujono atau Letsu, aromanya khas dan sulit tertukar. Orang-orang tahu itu pakkat, tanpa perlu papan nama besar. Rasanya pahit, agak sepat, tapi justru terasa pas setelah seharian berpuasa.

Bagi orang Mandailing di Medan, pakkat seperti pengingat kampung halaman yang ikut merantau ke kota. Tradisi ini sudah lama hidup dan bertahan tanpa banyak sorotan. Di balik kesederhanaannya, ada cerita panjang yang menarik untuk dibongkar, dan lima fakta berikut menjadi bukti pakkat lebih dari sekadar sayur pahit saat Ramadan.

1. Pakkat bukan nama tanaman

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)

Banyak yang menyebut pakkat seolah-olah itu nama spesies. Padahal bukan. Pakkat adalah sebutan untuk pucuk muda rotan yang masih lunak, yang belum mengeras dan belum “layak” menjadi bahan furnitur. Bagian yang dipotong biasanya sekitar satu meter dari ujung batang, saat jaringan tanamannya masih muda dan empuk.

Di Sumatera Utara, jenis yang paling sering dimanfaatkan antara lain Daemonorops melanochaetes dan beberapa jenis dari kelompok Calamus caesius. Jadi ketika orang makan pakkat, sebenarnya mereka sedang menikmati fase muda dari tanaman yang kelak bisa berubah jadi rotan keras. Ada semacam ironi kecil di situ, sesuatu yang dianggap “belum jadi” justru bernilai di meja makan.

2. Salah satu kuliner legendaris saat Ramadan

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)

Menariknya, pakkat tidak populer sepanjang tahun. Ia seperti tamu musiman yang muncul terutama saat Ramadan. Di pasar-pasar Mandailing dan beberapa sudut kota Medan, jumlahnya meningkat drastis menjelang bulan puasa dan bertahan sampai Lebaran.

Alasannya bukan cuma nostalgia. Secara alami, pucuk rotan punya kandungan air yang sangat tinggi. Setelah seharian berpuasa, tubuh butuh cairan. Pakkat membantu mengganti itu, sekaligus memberi sensasi pahit yang justru terasa menyegarkan. Tradisi kadang terdengar mistis, tapi kali ini logikanya cukup fisiologis.

3. Pakkat jadi bagian dari rantai makan badak langka

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)

Di hutan, pucuk rotan muda adalah salah satu makanan favorit badak Sumatera dan badak Jawa. Hewan besar itu memakan pucuknya, lalu tanaman merespons dengan menumbuhkan tunas baru. Fenomena ini dalam botani dikenal sebagai hilangnya dominansi apikal. Ketika pucuk utama terpotong, pertumbuhan menyebar ke samping. Secara sederhana dipangkas, lalu tumbuh lebih lebat. Jika manusia memanen dengan hati-hati tanpa merusak akar dan pohon inangnya, praktiknya mirip dengan proses alami tersebut. Hutan tetap hidup, bahkan bisa lebih produktif.

4. Rasa pahitnya akibat adanya reaksi kimia

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)

Di Mandailing, pakkat dipercaya membantu masalah lambung, menambah nafsu makan, bahkan dikaitkan dengan pengendalian gula darah. Cerita seperti ini mudah dianggap mitos. Tapi ketika diuji di laboratorium, pucuk rotan memang mengandung vitamin C, flavonoid, alkaloid, dan tanin.

Senyawa-senyawa itu dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan efek biologis tertentu. Tentu saja, itu bukan berarti pakkat adalah obat ajaib. Dunia medis tidak bekerja sesederhana “makan lalu sembuh”. Namun, jelas, kepahitan yang kita rasakan bukan rasa kosong. Ada reaksi kimia yang ikut andil.

5. Dari rotan kelas rendah, jadi pangan bernilai

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (dok. pribadi/Mangara Wahyudi)

Tidak semua rotan bagus untuk industri mebel. Beberapa jenis kualitasnya rendah untuk dijadikan furnitur. Di situlah pakkat menemukan celahnya. Rotan yang kurang bernilai secara industri bisa dialihkan fungsinya sebagai sumber pangan.

Pendekatan ini menarik secara ekonomi dan ekologis. Masyarakat sekitar hutan tetap mendapat penghasilan, sementara tekanan pada spesies rotan unggulan bisa berkurang. Dalam logika sederhananya, yang dianggap kurang berguna di satu sektor justru berharga di sektor lain.

Pakkat mungkin terlihat sederhana, bahkan kalah populer dibanding menu kekinian yang lebih fotogenik. Tapi ia menyimpan lapisan cerita yang tidak tipis. Ada hutan di dalamnya. Ada sains. Ada tradisi yang tidak berisik tapi bertahan. Mungkin itu yang membuatnya istimewa. Di tengah dunia yang serba instan, pakkat mengingatkan bahwa hubungan manusia dan alam bisa berjalan pelan, pahit sedikit, tapi jujur di lidah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team