Di Medan, Ramadan selalu terasa padat dan hangat sekaligus. Jalanan ramai, masjid penuh, dan tepat pukul 5 sore, orang-orang mulai berburu takjil. Di banyak tempat, kurma impor dan gorengan jadi pilihan aman. Tapi di kantong-kantong komunitas Mandailing, ceritanya tentu berbeda.
Menjelang azan, asap tipis dari rotan bakar mulai naik dari lapak sederhana. Di kawasan seperti Jalan Letda Sujono atau Letsu, aromanya khas dan sulit tertukar. Orang-orang tahu itu pakkat, tanpa perlu papan nama besar. Rasanya pahit, agak sepat, tapi justru terasa pas setelah seharian berpuasa.
Bagi orang Mandailing di Medan, pakkat seperti pengingat kampung halaman yang ikut merantau ke kota. Tradisi ini sudah lama hidup dan bertahan tanpa banyak sorotan. Di balik kesederhanaannya, ada cerita panjang yang menarik untuk dibongkar, dan lima fakta berikut menjadi bukti pakkat lebih dari sekadar sayur pahit saat Ramadan.
