Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi insomnia
ilustrasi insomnia (freepik.com/jcomp)

Intinya sih...

  • Perubahan alami pada pola tidur lansia, menyebabkan tidur lebih ringan dan mudah terganggu.

  • Kondisi kesehatan seperti arthritis dan nokturia dapat mengganggu tidur lansia.

  • Obat-obatan untuk penyakit kronis dan gaya hidup kurang aktif mempengaruhi kualitas tidur lansia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kualitas tidur yang baik adalah fondasi kesehatan bagi lansia. Namun, banyak di antara mereka yang justru kerap mengalami sulit tidur.

Masalah ini sering dianggap sepele sebagai bagian dari penuaan. Padahal, dampaknya pada kesehatan fisik dan mental sangat serius. Mari kita telusuri lima penyebab utamanya yang mungkin belum kamu duga!

1. Terjadi perubahan alami pada pola tidur

ilustrasi wanita insomnia (freepik.com/jcomp)

Seiring bertambahnya usia, menyadur Sleep Foundation, ritme tidur atau jam biologis tubuh secara alami mengalami pergeseran. Lansia cenderung merasa mengantuk lebih awal di sore hari dan terbangun lebih pagi. Perubahan ini menyebabkan pola tidur menjadi lebih maju dan total waktu tidur pun berkurang.

Selain itu, tidur lansia menjadi lebih ringan dan mudah terganggu oleh suara sekecil apapun. Mereka menghabiskan lebih sedikit waktu dalam fase tidur lelap (deep sleep) yang restorative. Akibatnya, meski sudah tidur semalaman, mereka sering kali masih merasa kurang segar keesokan harinya.

2. Kondisi kesehatan yang menyertai para lansia

ilustrasi sering buang air kecil (freepik.com/jcomp)

Berbagai penyakit kronis yang umum diderita lansia dapat sangat mengganggu tidur. Nyeri akibat arthritis, sesak napas dari masalah jantung atau paru-paru, dan rasa tidak nyaman lainnya bisa membuat lansia terbangun sepanjang malam. Ketidaknyamanan fisik ini menjadi penghalang utama untuk mencapai tidur yang berkualitas.

Selain itu, seringnya buang air kecil di malam hari (nokturia) juga menjadi gangguan umum. Kondisi seperti pembesaran prostat atau diabetes sering memicu hal ini. Aktivitas bolak-balik ke kamar mandi ini memutus kontinuitas tidur dan menyulitkan untuk tidur kembali.

3. Akibat efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi

ilustrasi minum obat (freepik.com/freepik)

Lansia seringkali mengonsumsi beberapa jenis obat secara rutin untuk mengelola kondisi kesehatannya. Menurut Web MD, obat-obatan untuk hipertensi, asma, atau depresi tertentu diketahui dapat menyebabkan insomnia sebagai efek sampingnya. Zat diuretik dalam obat juga memicu nokturia.

Kombinasi dari berbagai obat (polifarmasi) dapat memperburuk dampak ini. Interaksi antar obat mampu menimbulkan gangguan4. Gaya hidup yang kurang aktif mengacaukan ritme tidur yang lebih kompleks. Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai efek samping obat yang dikonsumsi.

4. Gaya hidup yang kurang aktif mengacaukan ritme tidur

ilustrasi tidur siang (freepik.com/freepik)

Banyak lansia yang mengalami penurunan tingkat aktivitas fisik akibat keterbatasan mobilitas atau rasa nyeri. Tubuh yang tidak cukup lelah secara fisik akan merasa kurang membutuhkan tidur yang dalam. Kurangnya paparan sinar matahari pagi juga dapat mengacaukan ritme tidur.

Kebiasaan seperti tidur siang yang terlalu lama atau di sore hari juga dapat mengurangi rasa kantuk di malam hari. Pola hidup yang kurang terstruktur membuat tubuh kehilangan sinyal kapan waktunya untuk beristirahat. Aktivitas fisik ringan yang teratur justru sangat membantu meningkatkan kualitas tidur.

5. Faktor psikologis dan kognitif turut mempengaruhi

ilustrasi lansia cemas (freepik.com/jcomp)

Perasaan kesepian, kecemasan, atau kekhawatiran berlebih tentang kesehatan dan masa depan sering menghantui pikiran lansia. Mengutip Psychology Today,
stres psikologis ini adalah musuh besar dari tidur nyenyak karena pikiran menjadi sulit untuk beristirahat. Kondisi berduka juga dapat memicu gangguan tidur yang berkepanjangan.

Pada beberapa kasus, gangguan tidur bisa menjadi gejala awal dari demensia atau penyakit alzheimer. Kerusakan pada otak dapat mengacaukan pusat pengatur tidur. Mendeteksi masalah psikologis dan kognitif ini sejak dini sangat krusial untuk penanganan yang tepat.

Jangan anggap sepele orang tua yang susah tidur! Itu tanda tubuh mereka butuh perhatian. Cari tahu penyebabnya dan konsultasi ke dokter biar tidur mereka nyenyak dan hari-harinya lebih berkualitas!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team