ilustrasi makanan sehat (pexels.com/Mateusz Feliksik)
Ada tipe kepribadian yang lebih rentan mengalami food guilt, yaitu mereka yang punya kecenderungan perfeksionis. Perfeksionis cenderung menetapkan standar yang sangat tinggi dan bereaksi tidak proporsional terhadap penyimpangan sekecil apapun. Ini berarti satu porsi nasi putih bisa terasa seperti gagal diet meski sebelumnya sudah makan sayur dan protein dengan baik selama seminggu penuh.
Kondisi ini dalam literatur klinis dikenal sebagai orthorexia nervosa, yaitu obsesi terhadap makan sehat yang sudah mengganggu kualitas hidup. Orthorexia belum masuk sebagai diagnosis resmi di DSM-5, tapi sudah diakui oleh banyak ahli gizi klinis sebagai kondisi yang perlu ditangani. Fleksibilitas kognitif yang rendah dalam soal makanan bukan tanda kedisiplinan tinggi, tapi sinyal bahwa hubungan seseorang dengan makanan sudah perlu dievaluasi.
Food guilt bukan bukti bahwa kamu tidak cukup serius menjaga kesehatan. Justru sebaliknya, kemunculannya sering kali tanda bahwa standar yang kamu terapkan pada diri sendiri sudah melampaui apa yang tubuh dan pikiran bisa tanggung secara sehat. Makan satu makanan manis atau yang lainnya tidak membatalkan semua yang sudah kamu lakukan dengan baik. Hubungan yang sehat dengan makanan juga bagian dari kesehatan itu sendiri, lho.
Referensi
“Cognitive and Neural Correlates of Dietary Restraint.” Health Science Report. Diakses pada April 2026.
“Mindful Aging: The Effects of Regular Brief Mindfulness Practice on Electrophysiological Markers of Cognitive and Affective Processing in Older Adults.” Springe. Diakses pada April 2026.
“Social Media and Body Image: Recent Trends and Future Directions.” ELSEVIER. Diakses pada April 2026.
“Orthorexia Nervosa: An Obsession With Healthy Eating.” Federal Practitioner. Diakses pada April 2026.
“How to Stop Feeling Guilty About the Food You Eat.” UNC. Diakses pada April 2026.
“How To Enjoy Food Without Feeling Guilty About It.” Psyche. Diakses pada April 2026.