Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Dampak Keseringan Tidur saat Puasa, Coba Sibukkan Diri
ilustrasi tidur siang (freepik.com/wavebreakmedia_micro)

  • Tidur berlebihan saat puasa bisa mengacaukan ritme sirkadian, bikin susah tidur malam dan menurunkan kualitas istirahat yang seharusnya memulihkan energi tubuh.
  • Kebiasaan tidur terlalu lama dapat menurunkan kebugaran fisik, mengurangi aktivitas harian, serta meningkatkan risiko gangguan metabolik dan sakit kepala.
  • Pola tidur yang tidak seimbang juga berdampak pada mood, motivasi, serta pola makan dan hidrasi selama Ramadan, sehingga penting menjaga rutinitas tidur tetap konsisten.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat puasa Ramadan, waktu makan bergeser, jam tidur sering terpotong karena sahur, dan aktivitas siang hari kadang terasa lebih berat. Dalam situasi ini, sebagian orang memilih untuk menuruti rasa lelah tersebut dengan tidur lebih lama pada siang hari.

Istirahat memang penting, terutama ketika tubuh sedang beradaptasi. Namun, tidur yang terlalu sering atau terlalu lama justru bisa membawa konsekuensi tersendiri. Tubuh memiliki sistem biologis yang sensitif terhadap pola tidur, dan perubahan ekstrem dapat mengganggu keseimbangan tersebut.

Ketahui apa saja potensi dampak keseringan tidur saat puasa, penting untuk diketahui agar kamu tahu cara tepat beristirahat tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental.

1. Gangguan ritme sirkadian

Ritme sirkadian adalah jam biologis internal yang mengatur siklus tidur-bangun, hormon, dan metabolisme. Perubahan pola tidur yang drastis dapat mengganggu sinkronisasi sistem ini.

Tidur berlebihan pada siang hari, terutama lebih dari 1–2 jam, dapat membuat tubuh sulit tidur pada malam hari. Akibatnya, siklus tidur menjadi tidak teratur, dan rasa kantuk justru berulang keesokan harinya.

Dalam jangka pendek, ini mungkin bukan masalah besar. Namun, dalam jangka panjang, gangguan ritme sirkadian dikaitkan dengan gangguan metabolik dan suasana hati.

2. Penurunan kualitas tidur malam

ilustrasi tidur siang (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Durasi tidur orang dewasa yang disarankan adalah sekitar 7–9 jam per malam.

Jika waktu tidur siang terlalu panjang, dorongan biologis untuk tidur (sleep pressure) berkurang. Hal ini membuat kamu sulit terlelap pada malam hari meski merasa lelah.

Tidur malam yang terganggu cenderung lebih dangkal dan kurang restoratif, sehingga tubuh tidak benar-benar pulih.

3. Penurunan kebugaran fisik

Para ahli menekankan pentingnya aktivitas fisik secara rutin untuk menjaga kesehatan kardiovaskular dan metabolik.

Keseringan tidur saat puasa sering kali berarti berkurangnya aktivitas fisik harian. Padahal, gerakan ringan seperti berjalan santai membantu menjaga sirkulasi dan metabolisme tetap stabil.

Kurangnya aktivitas dapat menyebabkan penurunan kebugaran dan massa otot, terutama jika berlangsung selama satu bulan penuh.

4. Risiko gangguan metabolik

ilustrasi tidur siang (freepik.com/stockking)

Beberapa studi observasional menunjukkan hubungan antara durasi tidur yang terlalu panjang (lebih dari 9–10 jam per hari) dengan peningkatan risiko gangguan metabolik dan mortalitas.

Mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga terkait dengan peradangan sistemik ringan dan perubahan sensitivitas insulin.

Meski hubungan ini tidak selalu kausal, tetapi tidur berlebihan tetap tidak dianjurkan sebagai strategi jangka panjang.

5. Sakit kepala dan “sleep inertia”

Tidur terlalu lama, terutama pada siang hari, dapat memicu sakit kepala pada sebagian orang. Perubahan pola tidur diketahui sebagai salah satu pemicu sakit kepala.

Selain itu, bangun dari tidur panjang dapat menyebabkan sleep inertia, yaitu rasa linglung, berat, dan sulit fokus selama sekitar 30–60 menit.

Alih-alih segar, tubuh justru terasa lebih lambat.

6. Penurunan mood dan motivasi

ilustrasi bad mood saat puasa Ramadan (freepik.com)

Penelitian menunjukkan bahwa durasi tidur ekstrem—baik terlalu pendek maupun terlalu panjang—berkaitan dengan gejala depresi.

Selama puasa, interaksi sosial dan aktivitas spiritual sering menjadi sumber makna. Jika waktu lebih banyak dihabiskan untuk tidur, peluang aktivitas tersebut berkurang, yang dapat memengaruhi suasana hati.

7. Mengganggu pola makan dan hidrasi

Keseringan tidur bisa membuat waktu berbuka atau sahur menjadi terburu-buru. Makan terlalu cepat atau melewatkan asupan cairan yang cukup berpotensi memicu dehidrasi dan gangguan lambung.

Penting untuk menjaga hidrasi demi menunjang fungsi kognitif dan fisik yang optimal.

Jika jadwal tidur membuat waktu makan tidak optimal, dampaknya bisa terasa sepanjang hari.

Tidur adalah kebutuhan biologis. Namun, terlalu banyak tidur bukan solusi ideal untuk mengatasi rasa lelah saat puasa. Tubuh bekerja paling baik dalam ritme yang konsisten dan seimbang.

Menjaga durasi tidur malam yang cukup, membatasi tidur siang sekitar 20–30 menit bila perlu, serta tetap aktif secara fisik dapat membantu menjaga energi selama Ramadan.

Referensi

National Institute of General Medical Sciences. “Circadian Rhythms.” Diakses Februari 2026.

American Academy of Sleep Medicine. “How Much Sleep Do Adults Need?” Diakses Februari 2026.

World Health Organization. “Physical Activity Guidelines.” Diakses Februari 2026.

Min Du, Min Liu, and Jue Liu, “The Association Between Sleep Duration and Risk of Mortality in Chinese Older Adults: A National Cohort Study,” Journal of Clinical Sleep Medicine 17, no. 9 (April 29, 2021): 1821–29, https://doi.org/10.5664/jcsm.9278.

Cleveland Clinic. “Oversleeping and Headaches.” Diakses Februari 2026.

Long Zhai, Hua Zhang, and Dongfeng Zhang, “SLEEP DURATION AND DEPRESSION AMONG ADULTS: A META-ANALYSIS OF PROSPECTIVE STUDIES,” Depression and Anxiety 32, no. 9 (June 5, 2015): 664–70, https://doi.org/10.1002/da.22386.

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. "Dietary Reference Intakes for Water." Diakses Februari 2026.

Editorial Team