Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Pisang Sebaiknya Tak Dicampur Buah Beri untuk Smoothie
ilustrasi smoothie pisang dan berry (magnific.com/chandlervid85)
  • Mencampur buah beri dan pisang dalam smoothie bisa mengurangi penyerapan flavan-3-ols, yaitu senyawa bioaktif yang banyak ditemukan pada buah beri, apel, teh, anggur, dan kakao.

  • Sebuah penelitian menemukan smoothie berbasis pisang menurunkan kadar metabolit flavan-3-ols dalam darah hingga 84 persen dibanding kapsul kontrol.

  • Jika tujuanmu memaksimalkan manfaat flavanol dari buah beri, lebih baik membuat smoothie beri tanpa pisang, lalu menambahkan bahan lain untuk tekstur seperti yogurt, susu, oat, atau biji chia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mencampurkan buah beri dan pisang saat membuat smoothie. Buah beri memberi rasa asam segar, pisang memberi rasa manis dengan tekstur creamy, dan keduanya bernutrisi.

Namun, penelitian mencatat, kalau tujuanmu adalah mendapatkan flavan-3-ols dari buah beri, mencampurnya dengan pisang mungkin bukan pilihan terbaik. Ini karena ada interaksi enzim dari pisang dengan senyawa bioaktif dalam buah beri.

Flavan-3-ols adalah kelompok senyawa bioaktif dari tumbuhan yang ditemukan dalam teh, apel, pir, buah beri, persik, anggur, dan produk berbasis kakao. Ada bukti kualitas sedang bahwa asupan flavan-3-ols sekitar 400–600 mg per hari dari makanan dapat mendukung kesehatan kardiometabolik, termasuk tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.

1. Pisang mengandung enzim yang bisa mengurangi flavanol dari buah beri

Enzim bernama polyphenol oxidase (PPO) berperan dalam proses pencokelatan buah dan sayuran setelah dipotong, dihancurkan, atau terpapar oksigen. Dalam smoothie, proses blending membuat sel buah pecah dan memberi ruang bagi enzim ini untuk bereaksi dengan senyawa polifenol.

Penelitian dalam jurnal Food & Function menguji apakah buah dengan aktivitas PPO berbeda dapat memengaruhi bioavailabilitas flavan-3-ols dalam smoothie. Studi ini melibatkan laki-laki sehat yang mengonsumsi smoothie berbasis pisang dengan PPO tinggi, smoothie mixed berry dengan PPO rendah, dan flavan-3-ols dalam bentuk kapsul sebagai kontrol.

Hasilnya, puncak kadar metabolit flavan-3-ols dalam darah setelah konsumsi smoothie pisang jauh lebih rendah dibanding kapsul kontrol, yaitu sekitar 84 persen lebih rendah. Sebaliknya, smoothie mixed berry dengan PPO rendah menghasilkan kadar yang mirip dengan kapsul kontrol.

Artinya, ketika pisang dicampur dengan bahan tinggi flavan-3-ols seperti buah beri, sebagian senyawa yang ingin kamu dapatkan bisa berkurang sebelum sempat dimanfaatkan oleh tubuh.

2. Memisahkan pisang dan beri belum tentu menyelesaikan masalah

Para peneliti juga melakukan studi lanjutan. Flavan-3-ols dan minuman pisang dibuat terpisah agar tidak bersentuhan sebelum diminum, lalu peserta mengonsumsinya bersamaan. Hasilnya, kadar flavan-3-ols dalam plasma tetap menurun.

Para peneliti menduga PPO dari pisang masih dapat berperan setelah tertelan, termasuk selama fase awal pencernaan di lambung.

Artinya, kalau targetnya memaksimalkan flavanol dari buah beri, solusinya bukan cuma diblender terlalu lama. Mengonsumsi pisang bersamaan dengan smoothie tinggi flavanol pun mungkin tetap mengurangi bioavailabilitasnya.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa studi tersebut berskala kecil, bersifat akut atau melihat respons setelah satu kali konsumsi, dan partisipannya laki-laki sehat.

Para penulis studi juga mencatat keterbatasan karena penelitian dilakukan pada peserta laki-laki dan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak jangka panjangnya.

3. Pisang tetaplah buah bergizi

ilustrasi memotong buah pisang (magnific.com/freepik)

Pisang tetaplah buah bergizi, mengandung karbohidrat alami, serat, vitamin B6, C, dan kalium. Satu pisang matang ukuran sedang mengandung sekitar 110 kalori, 3 gram serat, dan 450 mg kalium.

Orang dewasa berusia di atas 10 tahun dianjurkan mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari sebagai bagian dari pola makan sehat dan seimbang. Jadi, jika smoothie pisang membantu makan makan lebih banyak buah dan tidak menambahkan gula berlebihan, itu bisa menjadi bagian dari pola makan yang baik.

Kalau tujuanmu adalah membuat smoothie yang mengenyangkan, creamy, dan praktis, tidak masalah mencampurkannya dengan buah beri. Namun, jika tujuanmu adalah memaksimalkan penyerapan flavan-3-ols dari buah beri, pisang bukan pasangan terbaik.

4. Pengganti pisang agar smoothie tetap enak

Kalau kamu mau membuat smoothie buah beri yang lebih ramah flavanol, gunakan buah beri sebagai bahan utama tanpa pisang. Untuk tekstur creamy, kamu bisa menambahkan yoghurt tawar, susu, susu kedelai tanpa gula, oat, biji chia, atau sedikit kacang-kacangan.

Jika ingin makan pisang, kamu bisa menjadikannya camilan terpisah di waktu lain. Misalnya, smoothie mixed berry saat sarapan, lalu pisang dimakan beberapa jam kemudian sebagai camilan.

Untuk variasi, kamu juga bisa membuat dua jenis smoothie sesuai kebutuhan. Hari ketika ingin fokus pada flavanol, gunakan buah beri tanpa pisang. Hari ketika butuh smoothie yang lebih mengenyangkan dan mudah diminum, bisa dicampur dengan pisang.

Ada alasan ilmiah untuk tidak mencampur buah beri dan pisang dalam smoothie, terutama jika tujuanmu adalah memaksimalkan penyerapan flavan-3-ols dari buah beri. Pisang mengandung aktivitas PPO yang tinggi, dan enzim ini dapat mengoksidasi flavan-3-ols sehingga kadar metabolitnya dalam darah lebih rendah.

Namun, ini bukan berarti smoothie pisang dan buah beri berbahaya atau tidak sehat. Yang diteliti oleh studi ini adalah bioavailabilitas flavan-3-ols, bukan kandungan gizi buah. Pisang tetap buah bergizi, begitu juga buah beri. Kuncinya, sesuaikan bahan dengan tujuan. Untuk smoothie tinggi flavanol, pilih mixed berry tanpa pisang. Untuk smoothie yang creamy dan mengenyangkan, pisang bisa dicampurkan.

Referensi

Javier I. Ottaviani, Jodi L. Ensunsa, Reedmond Y. Fong, Jennifer Kimball, Valentina Medici, Gunter G. C. Kuhnle, Alan Crozier, Hagen Schroeter, and Catherine Kwik-Uribe, “Impact of Polyphenol Oxidase on the Bioavailability of Flavan-3-ols in Fruit Smoothies: A Controlled, Single Blinded, Cross-Over Study,” Food & Function 14, no. 18 (2023): 8217–8228, https://doi.org/10.1039/d3fo01599h.

Kristi M. Crowe-White, Levi W. Evans, Gunter G. C. Kuhnle, Dragan Milenkovic, Kim Stote, Taylor Wallace, Deepa Handu, and Katelyn E. Senkus, “Flavan-3-ols and Cardiometabolic Health: First Ever Dietary Bioactive Guideline,” Advances in Nutrition 13, no. 6 (2022): 2070–2083, https://doi.org/10.1093/advances/nmac105.

World Health Organization. “Healthy Diet,” Diakses Juli 2026.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Bananas,” The Nutrition Source. Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article