ilustrasi jus buah (unsplash.com/engin akyurt)
Sebagian vitamin dan senyawa alami pada buah terdapat di bagian daging serta seratnya. Ketika ampas dipisahkan, kandungan tertentu ikut terbuang bersama sisa hasil penyaringan. Padahal, bagian tersebut mengandung fitonutrien yang membantu tubuh melawan radikal bebas dan menjaga sel tetap sehat. Buah memang masih mengandung vitamin setelah dijus, tetapi jumlah serta manfaatnya tidak selalu sama seperti saat dikonsumsi utuh.
Proses penyimpanan juga ikut memengaruhi kualitas jus. Semakin lama jus dibiarkan terbuka, vitamin yang sensitif terhadap udara dan cahaya dapat menurun lebih cepat. Karena itu, jus tanpa ampas yang disimpan terlalu lama biasanya tidak lagi memberi manfaat optimal bagi tubuh. Banyak orang fokus pada rasa segar dari jus, tetapi lupa bahwa cara penyajian dan proses pengolahan juga menentukan kualitas gizinya.
Tubuh membutuhkan keseimbangan antara vitamin, serat, air, dan asupan gula agar manfaat buah bisa bekerja maksimal. Karena itu, jus sebaiknya tidak selalu dijadikan pengganti buah utuh setiap hari. Sesekali menikmati jus tentu tidak masalah, tetapi apakah selama ini cara mengonsumsi jus buah yang dianggap sehat justru membuat tubuh menerima gula berlebihan tanpa disadari?