ilustrasi menikmati makanan saat berbuka puasa (pexels.com/Askar Abayev)
Selain perubahan hormon dan metabolisme, faktor psikologis juga ternyata berperan penting dalam peningkatan nafsu makan saat berbuka puasa. Setelah menahan lapar dan haus selama berjam-jam, otak secara otomatis membentuk persepsi bahwa tubuh telah melalui kondisi sulit, sehingga muncul dorongan mental untuk memberikan hadiah berupa makanan. Respon ini melibatkan serangkaian sistem di otak, khususnya peningkatan hormon dopamin yang memperbesar dorongan untuk mengonsumsi makanan, terutama yang tinggi gula, lemak, atau berkalori tinggi.
Selain itu, ekspektasi terhadap sajian berbuka yang selalu lezat dan beragam, juga bisa memperkuat keinginan makan dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan otak kita memang tidak hanya dirancang untuk merespon kebutuhan energi, tetapi juga rangsangan emosional, visual, dan kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Fenomena ini dikenal sebagai compensatory eating behavior, yaitu kecenderungan makan lebih banyak setelah periode pembatasan makan, sebagai bentuk kompensasi biologis dan psikologis untuk memulihkan kepuasan.
Dengan mengetahui beberapa alasan di atas, kamu akan semakain paham bahwa peningkatan nafsu makan secara drastis saat berbuka merupakan respon alami tubuh yang dipengaruhi oleh faktor hormon, metabolisme, dan juga psikologis. Pemahaman yang dibagikan dalam artikel ini sangat penting untuk diketahui agar kita dapat mengontrol pola makan saat berbuka dengan lebih bijak, seperti memulai makan dengan porsi kecil, secara perlahan, dan memilih makanan bergizi seimbang.
Referensi:
How Ghrelin and Leptin Affect Hunger and Weight. Very Well Health. Diakses pada 26 Februari 2026.
Alogaiel, D. M., Alsuwaylihi, A., Alotaibi, M. S., Macdonald, I. A., & Lobo, D. N. (2025). Effects of Ramadan intermittent fasting on hormones regulating appetite in healthy individuals: A systematic review and meta-analysis. Clinical Nutrition, 45, 250-261. Diakses pada 26 Februari 2026.
Nuttall, F. Q., Almokayyad, R. M., & Gannon, M. C. (2016). The ghrelin and leptin responses to short-term starvation vs a carbohydrate-free diet in men with type 2 diabetes; a controlled, cross-over design study. Nutrition & metabolism, 13(1), 47. Diakses pada 26 Februari 2026.
Al-Rawi, N., Madkour, M., Jahrami, H., Salahat, D., Alhasan, F., BaHammam, A., & Al-Islam Faris, M. E. (2020). Effect of diurnal intermittent fasting during Ramadan on ghrelin, leptin, melatonin, and cortisol levels among overweight and obese subjects: A prospective observational study. PloS one, 15(8), e0237922. Diakses pada 26 Februari 2026.