ilustrasi wanita sedang tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Selama Ramadhan, pola tidur cenderung berubah karena harus bangun lebih awal untuk makan sahur dan tidur lebih larut setelah melakukan ibadah malam seperti taraweh atau tadarus. Peningkatan aktivitas di malam hari ini bisa memengaruhi ritme biologis tubuh yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, metabolisme, dan total energi untuk keesokan harinya. Ketika ritme ini terganggu, tubuh tidak dapat mengatur produksi hormon penting seperti kortisol dan melatonin secara optimal yang berperan krusial dalam menjaga energi.
Hal tersebut bisa mengakibatkan tubuh terasa lebih lelah meskipun kebutuhan kalori telah terpenuhi dengan baik saat sahur. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memperlambat metabolisme energi dan menurunkan efisiensi kerja sel dalam menghasilkan energi. Inilah sebabnya rasa lemas saat puasa tidak selalu disebabkan oleh kurangnya makanan, tetapi juga karena jam biologis tubuh yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan pola tidur.
Dengan mengetahui beberapa alasan di atas, kamu bisa lebih memahami bahwa rasa lemas saat puasa merupakan respons fisiologis yang normal saat tubuh beradaptasi dengan perubahan sumber energi, jumlah cairan, dan ritme biologis dalam tubuh. Dengan menerapkan strategi yang benar, puasa tidak hanya dapat dijalani dengan nyaman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang baik bagi tubuh.
Referensi:
Pramono, A. (2003). Tinjauan Biomedik Puasa Ramadhan. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 3(1), 34-39. Diakses pada 26 Februari 2026.
Tjakradidjaja, F. A. (2024). Puasa Intermiten dan Transformasi Tubuh: Sains di Balik Penurunan Lemak, Pemeliharaan Otot, dan Optimalisasi Energi. Asian Journal of Multidisciplinary Research, 1(4), 157-165. Diakses pada 26 Februari 2026.
Alfin, R., Busjra, B., & Azzam, R. (2019). Pengaruh puasa ramadhan terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus Tipe II. Journal of Telenursing (JOTING), 1(1), 191-204. Diakses pada 26 Februari 2026.
Abdullah, A., Salwani, D., Muhsin, M., Khairi, A. B., & Syukri, M. (2021). Puasa ramadhan dan pengaruhnya terhadap progresifitas penyakit ginjal kronik. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(3). Diakses pada 26 Februari 2026.
Fairuz, R. A., Absari, N. W., Utami, R. F., & Djunet, N. A. (2024). Pengaruh diet puasa (intermittent fasting) terhadap penurunan berat badan, perubahan metabolik, dan massa otot. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 10(1), 40-47. Diakses pada 26 Februari 2026.