Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Tubuh Tetap Lemas Saat Puasa Meski Sudah Sahur Cukup Banyak?
ilustrasi wanita lemas saat puasa (pexels.com/Ron Lach)
  • Tubuh terasa lemas saat puasa karena energi dari sahur cepat habis dan tubuh butuh waktu beradaptasi memakai cadangan glikogen serta proses pembentukan glukosa baru.
  • Penurunan kadar gula darah akibat asupan terbatas dan konsumsi karbohidrat sederhana saat sahur bisa memicu energy crash yang membuat tubuh mudah lelah dan sulit fokus.
  • Dehidrasi serta perubahan pola tidur selama Ramadhan menurunkan volume darah, pasokan oksigen, dan efisiensi metabolisme sehingga tubuh terasa lesu meski sudah makan cukup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang merasa bingung kenapa tubuh sering kali terasa lemas saat puasa. Padahal ketika jam sahur tiba, kamu merasa sudah makan dengan cukup banyak, bahkan sampai kenyang gengan harapan makanan tersebut bisa jadi bekal energi untuk aktivitas seharian penuh.

Tapi kenyataannya tubuh tetap terasa lesu, ngantuk, atau kurang bertenaga saat menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini pasti sering membuat orang bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan makanan yang dikonsumsi saat sahur atau cara kerja tubuh kita sendiri? Nah, supaya kamu gak lagi kebingungan, ini dia beberapa alasan kenapa kita masih terasa lemas saat puasa meski sudah sahur banyak!

1. Tubuh beralih memanfaatkan cadangan internal secara bertahap

ilustrasi pria lemas saat menjalankan ibadah puasa (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Ketika seseorang sedang menjalankan ibadah puasa, tubuh tidak menggunakan energi yang didapatkan dari makanan sahur secara langsung sepanjang hari. Hal ini dikarenakan sebagai besar glukosa yang didapatkan dari makanan yang dikonsumsi saat sahur hanya bertahan selama beberapa jam di dalam darah. Kemudian, kadar glukosa akan mengalami penurunan dan tubuh mulai beralih memakai cadangan glikogen yang tersimpan dalam hati dan otot sebagai sumber energi cadangan.

Ketika cadangan glikogen ini mulai menipis, tubuh mengaktifkan proses yang disebut gluconeogenesis, yaitu mekanisme pembentukan glukosa baru dari protein dan lemak untuk menjaga fungsi otak dan organ vital dalam tubuh agar tetap berjalan optimal. Namun, proses tersebut berlangsung lebih lambat dibandingkan saat memakai glukosa sebagai sumber energi. Oleh karena itu, tubuh akan mengalami fase adaptasi saat puasa yang ditandai dengan rasa lemas, lesu, atau kurang bertenaga.

2. Adanya penurunan kadar gula darah membuat tubuh kekurangan energi

ilustrasi wanita merasa pusing dan lemas saat puasa (pexels.com/Ron Lach)

Saat puasa, kadar glukosa darah secara alami akan mengalami penurunan. Ini dikarenakan tidak adanya asupan makanan baru yang masuk ke dalam tubuh, sehingga tubuh harus mengandalkan cadangan energi yang terbatas.

Kondisi ini menjadi lebih terasa jika saat sahur makanan yang kamu konsumsi didominasi dengan karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti tawar, gula, atau makanan manis lainnya. Jenis makanan tersebut sangat mudah diserap oleh tubuh dan juga cepat mengalami penurunan dalam beberapa jam.

Penurunan yang berlangsung cepat ini dapat memicu suatu kondisi yang dikenal sebagai “energy crash” dan bisa mengakibatkan seseorang dapat mengalami gejala seperti lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, dan mengantuk karena otak dan otot tidak mendapatkan pasokan energi yang stabil.

3. Dehidrasi ringan membuat tubuh kekurangan volume darah dan oksigen

ilustrasi wanita pusing dan lemas saat puasa (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Karena tubuh tidak diberi asupan air selama berpuasa, maka sudah pasti tubuh berada dalam kondisi dehidrasi. Kondisi tersebut juga bisa menjadi penyebab tubuh terasa lemas saat berpuasa meski sudah makan banyak saat jam sahur. Hal ini dikarenakan cairan memang merupakan komponen terbesar dan terpenting dalam tubuh untuk menjaga volume darah dan distribusi oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Ketika tubuh kekurangan cairan, volume plasma darah akan menurun sehingga aliran oksigen dan nutrisi yang seharusnya disalurkan ke otot dan otak menjadi kurang optimal. Hal ini membuat tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan fungsi organ vital secara normal. Kondisi inilah yang dapat memicu rasa lelah meskipun asupan makanan saat sahur sudah cukup atau terpenuhi.

4. Adanya perubahan ritme jam tidur yang bisa mengganggu produksi energi

ilustrasi wanita sedang tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Selama Ramadhan, pola tidur cenderung berubah karena harus bangun lebih awal untuk makan sahur dan tidur lebih larut setelah melakukan ibadah malam seperti taraweh atau tadarus. Peningkatan aktivitas di malam hari ini bisa memengaruhi ritme biologis tubuh yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, metabolisme, dan total energi untuk keesokan harinya. Ketika ritme ini terganggu, tubuh tidak dapat mengatur produksi hormon penting seperti kortisol dan melatonin secara optimal yang berperan krusial dalam menjaga energi.

Hal tersebut bisa mengakibatkan tubuh terasa lebih lelah meskipun kebutuhan kalori telah terpenuhi dengan baik saat sahur. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memperlambat metabolisme energi dan menurunkan efisiensi kerja sel dalam menghasilkan energi. Inilah sebabnya rasa lemas saat puasa tidak selalu disebabkan oleh kurangnya makanan, tetapi juga karena jam biologis tubuh yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan pola tidur.

Dengan mengetahui beberapa alasan di atas, kamu bisa lebih memahami bahwa rasa lemas saat puasa merupakan respons fisiologis yang normal saat tubuh beradaptasi dengan perubahan sumber energi, jumlah cairan, dan ritme biologis dalam tubuh. Dengan menerapkan strategi yang benar, puasa tidak hanya dapat dijalani dengan nyaman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang baik bagi tubuh.

Referensi:

Pramono, A. (2003). Tinjauan Biomedik Puasa Ramadhan. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 3(1), 34-39. Diakses pada 26 Februari 2026.

Tjakradidjaja, F. A. (2024). Puasa Intermiten dan Transformasi Tubuh: Sains di Balik Penurunan Lemak, Pemeliharaan Otot, dan Optimalisasi Energi. Asian Journal of Multidisciplinary Research, 1(4), 157-165. Diakses pada 26 Februari 2026.

Alfin, R., Busjra, B., & Azzam, R. (2019). Pengaruh puasa ramadhan terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus Tipe II. Journal of Telenursing (JOTING), 1(1), 191-204. Diakses pada 26 Februari 2026.

Abdullah, A., Salwani, D., Muhsin, M., Khairi, A. B., & Syukri, M. (2021). Puasa ramadhan dan pengaruhnya terhadap progresifitas penyakit ginjal kronik. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(3). Diakses pada 26 Februari 2026.

Fairuz, R. A., Absari, N. W., Utami, R. F., & Djunet, N. A. (2024). Pengaruh diet puasa (intermittent fasting) terhadap penurunan berat badan, perubahan metabolik, dan massa otot. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 10(1), 40-47. Diakses pada 26 Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team