ilustrasi sajian buah penutup makan (pexels.com/www.kaboompics.com)
Banyak orang percaya bahwa makan buah setelah makan besar akan langsung berubah menjadi lemak karena “tertimbun” di dalam tubuh. Padahal, sistem pencernaan manusia tidak bekerja berdasarkan urutan makanan seperti itu. Semua makanan tetap diproses sesuai mekanisme metabolisme yang kompleks.
Menurut Cancer Causes Control, kenaikan berat badan ditentukan oleh total asupan kalori dan keseimbangan energi secara keseluruhan, bukan waktu konsumsi makanan tertentu. Buah justru mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang penting untuk tubuh.
Menghindari buah hanya karena takut gemuk justru bisa membuat kita kehilangan sumber nutrisi penting. Dibandingkan dessert tinggi gula, buah tetap pilihan yang jauh lebih sehat, baik sebelum maupun setelah makan.
Lebaran sejatinya adalah perayaan tentang kembali, memaafkan, dan merayakan hidup dengan orang-orang terdekat. Namun dalam praktiknya, kita sering terjebak antara dua kutu. Makan berlebihan tanpa kontrol, atau justru menahan diri karena takut mitos yang belum tentu benar. Di sinilah pentingnya memahami, bukan sekadar mengikuti.
Mitos-mitos makanan yang beredar dari generasi ke generasi sering kali lahir dari pengalaman subjektif, bukan dari kajian ilmiah. Ketika mitos ini terus diulang tanpa dikritisi, ia berubah menjadi “kebenaran semu” yang memengaruhi cara kita memperlakukan tubuh sendiri. Padahal, tubuh tidak butuh ketakutan, ia hanya butuh keseimbangan.
Jadi, Lebaran bukan soal menghindari opor, menjauhi rendang, atau curiga pada setiap kue yang kita makan. Lebaran adalah tentang kesadaran, tahu kapan cukup, tahu bagaimana mengimbanginya, dan tahu bahwa kesehatan bukan ditentukan oleh satu hari, tetapi oleh kebiasaan yang kita bangun setiap hari setelahnya.
Referensi
“Saturated Fats”. American Heart Association. Diakses pada Maret 2026.
“Sodium Intake and Hypertension”. Nutrients. Diakses pada Maret 2026.
“WHO Calls on Countries to Reduce Sugars Intake Among Adults and Children”. World Health Organization (WHO). Diakses pada Maret 2026.
“Berapa Kalori Ketupat? 160 kkal per 100 g”. Nutrinusa. Diakses pada Maret 2026.
“Informasi Gizi Ketupat”. FatSecret Indonesia. Diakses pada Maret 2026.
“Mayo Clinic Q and A: Food to Reduce Bloating”. Mayo Clinic News Network. Diakses pada Maret 2026.
“Energy Balance and Obesity: What Are the Main Drivers?”. Cancer Causes & Control. Diakses pada Maret 2026.