Tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suplai oksigen ke otot. Masalahnya, selama lari jarak jauh atau dalam waktu lama, beberapa hal mulai berubah secara perlahan.
Saat berkeringat, volume plasma darah menurun. Ini artinya darah yang beredar menjadi lebih sedikit. Akibatnya, jantung harus berdetak lebih cepat supaya suplai oksigen tetap terjaga.
Penelitian menunjukkan dehidrasi adalah salah satu pemicu terbesar cardiac drift. Bahkan kehilangan cairan sekitar 2 persen berat badan dapat mulai memengaruhi performa aerobik.
Makin lama berlari, tubuh makin panas. Tubuh kemudian mengalihkan lebih banyak aliran darah ke kulit untuk membantu pendinginan melalui keringat. Akibatnya, lebih sedikit darah kembali ke jantung. Ini membuat volume darah yang dipompa tiap denyut menurun. Sebagai kompensasi, denyut jantung naik.
Stres akibat panas dan dehidrasi dapat meningkatkan beban kardiovaskular selama olahraga endurance.
Dalam kondisi ideal, jantung memompa darah dalam jumlah besar tiap denyut. Namun, selama long run volume plasma turun, aliran darah bergeser ke kulit, dan pengisian jantung sedikit berkurang. Ini mengakibatkan stroke volume menurun.
Untuk mempertahankan curah jantung (cardiac output), tubuh meningkatkan frekuensi denyut jantung.
Makin lama berlari, tubuh makin bekerja keras mempertahankan efisiensi gerakan. Otot yang lelah membutuhkan lebih banyak energi dan oksigen untuk menghasilkan tenaga yang sama. Ini ikut meningkatkan respons jantung.