Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Penyebab Kesehatan Menurun pasca Lebaran, Idealnya Perlu Rehat
ilustrasi tidur (pexels.com/cottonbro studio)
  • Kesehatan sering menurun setelah Lebaran akibat kelelahan dari perjalanan mudik, acara halalbihalal, dan kurangnya waktu istirahat sebelum kembali bekerja.
  • Pola makan berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh serta bertemu banyak orang saat silaturahmi meningkatkan risiko gangguan pencernaan dan penularan penyakit.
  • Cuaca ekstrem atau pancaroba selama libur Idulfitri turut memengaruhi daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih mudah merasa tidak fit meski sudah selesai berpuasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama kamu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, daya tahan fisik sangat dibutuhkan. Tidak makan dan minum apa pun selama 12 atau 14 jam di tengah hari yang panas tentu gak mudah. Kondisi kesehatan naik dan turun.

Sering kali di 10 hari terakhir bulan puasa, tubuh makin tidak fit. Namun, ternyata sehabis Idulfitri dan dirimu sudah bebas makan serta minum pun kesehatan masih bisa drop. Malah boleh jadi pasca Lebaran baru kondisimu benar-benar lemah.

Masih mending saat kamu berpuasa. Kenapa hal seperti ini kerap terjadi pada siapa saja dari anak-anak sampai dewasa? Bila dirimu ingin tahun depan lebih bugar baik selama maupun setelah berpuasa sebulan penuh, perhatikan dan antisipasi lima hal di bawah ini. Tubuhmu juga butuh istirahat yang berkualitas.

1. Kelelahan mudik dan halalbihalal

ilustrasi sakit (pexels.com/www.kaboompics.com)

Pulang ke kampung halaman dalam rangka merayakan Idulfitri bersama keluarga memang menyenangkan. Suasananya terasa hangat sekali. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa perjalanan mudik melelahkan. Tambah jauh jarak yang ditempuh, rasa capek pun berlipat.

Padahal namanya mudik, tentu nantinya dilanjutkan dengan kembali ke rantau. Perjalanan panjang ditempuh lagi. Tanpa sadar kamu mengalami kelelahan ganda. Begitu pula acara halalbihalal turut menguras energimu.

Dirimu barangkali harus menghadiri sejumlah acara baik di kampung halaman maupun di rantau. Kelelahan meningkat kalau kamu yang menjadi panitia apalagi tuan rumah kegiatan tersebut. Akan ada banyak orang yang hadir. Persiapannya dapat seperti orang mau menyelenggarakan hajatan.

2. Gak ada jeda antara hari terakhir kerja vs mudik dan balik vs kerja lagi

ilustrasi demam (pexels.com/cottonbro studio)

Memang kalau sudah hari terakhir bekerja sebelum libur Lebaran, pikiran gak fokus. Kamu bawaannya ingin segera sampai di kampung halaman. Apalagi jatah liburmu tak terlalu panjang. Dirimu mesti bergegas berangkat mudik.

Pulang kerja sore hari, malamnya langsung berangkat mudik. Begitu juga tiba saatnya kamu kembali ke rantau. Dirimu sengaja ambil hari libur terakhir buat waktu balik. Biar liburan di kampung halaman maksimal. Barangkali jam berangkatnya juga sudah sore.

Kamu tiba di kota tengah malam bahkan dini hari. Di hari yang sama dirimu telah harus bekerja. Ini sama artinya kamu sebenarnya belum berisitrahat dengan memadai. Agar tidak kelelahan, idealnya ada jeda minimal satu hari sebelum masuk kerja dirimu sudah sampai rumah atau kos-kosan. Biar kamu bisa istirahat dulu.

3. Makan dan minum tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh

ilustrasi tidak enak badan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Lebaran memang harinya makan dan minum setelah kamu berpuasa sebulan penuh. Sayangnya, ini kerap diartikan sebagai makan serta minum sebebas-bebasnya. Apa saja masuk perut termasuk makanan atau minuman yang seharusnya dipantang.

Juga jumlahnya berlebihan. Padahal, pencernaan sudah terbiasa hanya makan sedikit selama Ramadan. Pola konsumsi tidak lagi memperhatikan kebutuhan tubuh, melainkan sekadar memenuhi keinginan akan rasa yang lezat.

Gak menunggu lama biasanya gangguan kesehatan langsung terasa. Paling cepat rasa tidak nyaman di perut dan sembelit atau justru mencret. Kalau ada darah tinggi dan diabetes juga rentan memburuk. Bergembira menikmati hidangan di hari raya tentu boleh, tapi tak usah kalap. Seakan-akan tidak ada lagi hari esok buat makan dan minum.

4. Penularan penyakit setelah bertemu banyak orang

ilustrasi sakit (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Lebaran identik dengan keramaian. Tidak hanya di semua tempat umum, tetapi juga di rumah. Keluarga berkumpul. Tetangga berdatangan. Teman-teman lama setiap anggota keluarga juga bertamu. Jarang sekali orang yang konsisten memakai masker.

Apalagi rajin membersihkan tangan sebelum makan. Ibaratnya, habis kamu bersalaman dengan puluhan orang dapat langsung mengambil makanan. Saking semangatnya bercakap-cakap, percikan ludah juga dapat tersebar ke mana-mana.

Penyakit yang sangat mudah menular dari manusia ke manusia seperti flu pasti marak. Ditambah rasa lelah yang bertubi-tubi, sulit untuk mempertahankan daya tubuh. Meski umumnya flu bisa sembuh sendiri atau dengan mengonsumsi obat warung, tetap akan terasa mengganggu aktivitas dan kualitas tidur.

5. Lebaran bertepatan dengan cuaca ekstrem atau pancaroba

ilustrasi sakit (pexels.com/MART PRODUCTION)

Faktor cuaca juga berpengaruh besar pada kesehatan selama libur Idulfitri. Misalnya, ketika sehari-hari hujan deras. Walaupun kamu ke mana-mana naik mobil pasti ada momen kehujanan. Udara menjadi dingin, tetapi aktivitas kudu tetap jalan.

Keluhan kembung, meriang, dan flu sering terdengar. Demikian pula ketika cuaca amat panas. Padahal, kamu masih harus bersilaturahmi ke sana kemari. Tubuh lebih mudah kekurangan cairan dan kesehatan pun terganggu.

Begitu pula cuaca yang berubah-ubah atau pancaroba. Udara dapat amat panas beberapa hari. Kemudian satu hari mendadak hujan deras dan mendung seharian. Tubuh sulit beradaptasi dengan cepat terhadap setiap perubahan tersebut. Kamu mungkin belum benar-benar jatuh sakit, tapi telah merasa serba gak enak badan.

Penurunan kondisi kesehatan pasca Idulfitri adalah sinyal untuk memperbaiki kembali pola konsumsi serta istirahat. Merayakan Lebaran bersama keluarga memang membahagiakan. Namun, apabila kamu sampai jatuh sakit pasti rasanya jadi tak nyaman. Jaga kesehatanmu dengan lebih baik lagi, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team