Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Tanda Rumah Berisiko Jadi 'Sarang' Hantavirus
Ilustrasi rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni. Rumah seperti ini bisa berisiko ditinggali tikus yang dapat menyebarkan hantavirus. (unsplash.com/Lucas de Moura)
  • Hantavirus dibawa oleh tikus dan dapat menular ke manusia melalui partikel udara dari urine, air liur, atau kotoran yang terkontaminasi di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk.
  • Rumah lama, gudang berdebu, tumpukan barang, serta bau pesing menetap menjadi tanda lingkungan berisiko tinggi karena mendukung perkembangbiakan tikus dan akumulasi partikel biologis.
  • Cara membersihkan area terkontaminasi harus hati-hati: gunakan disinfektan dan metode basah, bukan menyapu atau vacuum, sambil memastikan ventilasi baik untuk mencegah penyebaran virus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gudang lama, loteng, kamar kosong, atau rumah yang lama ditinggalkan mungkin cuma terlihat berdebu, kotor, atau berantakan. Namun, dari sudut pandang dunia kesehatan, tempat-tempat seperti ini harus diwaspadai.

Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Manusia bisa tertular ketika menghirup partikel kecil dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus. Risiko meningkat terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk. Aktivitas sederhana seperti menyapu atau membersihkan area penuh kotoran tikus dapat membuat partikel virus beterbangan ke udara lalu terhirup.

Masalahnya, banyak tanda-tanda rumah berisiko justru terlihat sepele dan sering diabaikan sampai seseorang jatuh sakit. Lalu kondisi seperti apa yang perlu diwaspadai?

1. Banyak kotoran tikus di area tertutup

Ini merupakan tanda paling jelas sekaligus paling berisiko.

Kotoran tikus bukan cuma masalah kebersihan. Pada tikus yang terinfeksi, urine, air liur, dan kotorannya dapat membawa hantavirus. Ketika mengering, partikel tersebut bisa bercampur dengan debu dan beterbangan di udara.

Risiko menjadi lebih tinggi jika:

  • Kotoran ditemukan dalam jumlah banyak.

  • Ruangan jarang dibuka.

  • Udara pengap.

  • Permukaan tampak penuh debu.

Sebagian besar penularan hantavirus terjadi akibat menghirup partikel terkontaminasi di udara.

Yang sering tidak disadari, makin lama ruangan tidak dibersihkan, makin besar kemungkinan akumulasi kontaminasi biologis terjadi.

2. Rumah lama kosong atau jarang dipakai

Rumah yang lama kosong sering menjadi tempat ideal bagi tikus untuk berkembang biak.

Gudang, rumah warisan, vila, kabin, atau kamar yang bertahun-tahun tidak dipakai dapat menjadi habitat tikus karena:

  • Minim aktivitas manusia.

  • Banyak sudut gelap.

  • Ventilasi buruk.

  • Tersedia tempat bersembunyi.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan sering terjadi saat seseorang kembali membuka atau membersihkan bangunan yang lama tertutup. Aktivitas ini dapat mengaduk debu terkontaminasi ke udara. Inilah alasan kasus hantavirus sering muncul setelah kegiatan bersih-bersih besar.

3. Ada bau pesing atau amis yang menetap

ilustrasi bangunan kotor yang sudah lama tidak digunakan bisa menjadi tempat paparan hantavirus (pexels.com/Francesco Paggiaro)

Bau pesing menyengat yang sulit hilang bisa menjadi tanda adanya infestasi tikus aktif.

Urine tikus mengandung protein dan senyawa kimia yang meninggalkan bau khas. Pada infestasi berat, bau ini dapat bertahan lama terutama di sudut ruangan, plafon, bawah wastafel, gudang, atau area penyimpanan barang.

Bau bukan satu-satunya masalah, karena adanya bau menandakan kemungkinan adanya paparan biologis berulang dalam lingkungan rumah.

Beberapa penelitian tentang hantavirus menunjukkan bahwa lingkungan dengan kepadatan hewan pengerat tinggi meningkatkan peluang kontaminasi aerosol dari ekskresi hewan.

4. Banyak barang menumpuk dan jarang dipindahkan

Tumpukan kardus, pakaian lama, koran, kayu, atau barang bekas menciptakan tempat persembunyian ideal bagi tikus.

Area yang disukai di antaranya yang hangat, gelap, tenang, dan minim gangguan. Karena itu, rumah yang terlalu penuh barang sering membuat infestasi tidak cepat terdeteksi.

Masalah lain muncul ketika barang-barang tersebut akhirnya dipindahkan. Debu dan partikel kering dari urine maupun kotoran tikus bisa langsung beterbangan ke udara.

Para ahli memperingatkan agar area dengan tanda-tanda keberadaan hewan pengerat tidak langsung dibersihkan menggunakan sapu atau vacuum karena dapat meningkatkan aerosol partikel infeksius.

5. Ada lubang kecil atau celah yang tidak ditutup

Tikus tidak membutuhkan lubang besar untuk masuk ke rumah. Mereka bisa masuk melalui celah kecil di ventilasi, pipa, bawah pintu, retakan tembok, atau atap.

Masalahnya, banyak rumah cuma fokus membasmi tikus tanpa menutup jalur masuknya. Akibatnya, infestasi terus berulang.

Makin sering tikus keluar masuk rumah, makin besar kemungkinan kontaminasi lingkungan terjadi.

6. Ventilasi buruk dan ruangan lembap

ilustrasi tikus di bangunan kosong yang dapat menyebarkan hantavirus (pixabay.com/Simon)

Ruangan pengap dengan sirkulasi udara minim dapat meningkatkan konsentrasi partikel debu dan aerosol biologis di udara.

Area seperti loteng, gudang, ruang bawah rumah, plafon tertutup, atau kamar tanpa ventilasi lebih berisiko jika ada jejak tikus atau hewan pengerat lainnya.

Rekomendasi para ahli adalah membuka dan mengangin-anginkan ruangan tertutup setidaknya 30 menit sebelum mulai membersihkan area yang dicurigai terkontaminasi. Langkah sederhana ini membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara.

7. Membersihkan kotoran tikus dengan cara yang salah

Ini salah satu faktor risiko terbesar yang sering tidak disadari. Banyak orang refleks menyapu, meniup debu, atau menggunakan vacuum cleaner. Padahal tindakan ini justru dapat membuat partikel virus beterbangan lebih luas.

Para ahli menyarankan untuk:

  • Menggunakan sarung tangan.

  • Semprot area dengan disinfektan.

  • Diamkan selama beberapa menit.

  • Bersihkan menggunakan tisu atau lap basah.

  • Buang limbah atau kotoran dengan aman.

Artinya, cara membersihkan rumah bisa menentukan risiko paparan.

Kenapa hantavirus sulit dideteksi?

Masalah terbesar hantavirus adalah gejala awalnya sangat mirip flu, seperti demam, nyeri otot, lemas, sakit kepala, dan mual.

Pada sebagian kasus, kondisi dapat memburuk cepat menjadi gangguan paru atau ginjal tergantung jenis hantavirusnya.

Di Asia, hantavirus tertentu lebih sering berkaitan dengan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, sedangkan di Amerika kasus lebih sering berupa hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.

Karena itu, riwayat lingkungan menjadi petunjuk penting. Dokter biasanya akan mempertimbangkan kemungkinan paparan jika pasien memiliki riwayat:

  • Membersihkan gudang.

  • Kontak dengan infestasi tikus.

  • Tinggal di area dengan banyak hewan pengerat.

Cara membuat rumah lebih aman

ilustrasi disinfeksi rumah yang kotor (pexels.com/SHVETS production)

Beberapa langkah penting yang direkomendasikan meliputi:

  • Menutup celah masuk tikus.

  • Menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

  • Membuang sampah secara rutin.

  • Mengurangi tumpukan barang.

  • Menjaga ventilasi dalam kondisi baik.

  • Membersihkan area terkontaminasi dengan metode basah, bukan disapu kering.

Yang sering dilupakan, pengendalian tikus bukan hanya soal membunuh hewannya, tetapi juga mengurangi kondisi rumah yang membuat tikus "betah".

Selain kotor, rumah yang berisiko menjadi sumber hantavirus biasanya memiliki kombinasi infestasi tikus, ventilasi buruk, ruangan tertutup, dan cara pembersihan yang tidak aman.

Kotoran tikus, bau pesing menetap, gudang lama yang jarang dibuka, hingga tumpukan barang yang tidak pernah dipindahkan bisa menjadi tanda penting yang tidak boleh diabaikan.

Ingat, pada hantavirus, bahaya sering kali bukan dari tikus yang terlihat, melainkan partikel di udara.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “About Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

CDC. “How Hantavirus Spreads.” Diakses Mei 2026.

CDC. “Prevention.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

National Center for Healthy Housing. “Rodent Prevention and Control.” Diakses Mei 2026.

CDC. "2026 Multi-country Hantavirus Cluster Linked to Cruise Ship." Diakses Mei 2026.

CDC. "Hantavirus: Current Situation." Diakses Mei 2026.

Editorial Team