ilustrasi bola salju (vecteezy.com/Ahmad Juliyanto)
Berikut ini beberapa potensi risiko makan salju:
Salju aktif menyaring udara saat turun dari langit ke permukaan bumi. Ini berarti salju bisa membawa serta polutan udara, partikulat, dan bahkan pestisida yang terikat dalam kristal es tersebut.
Para ilmuwan menyebut salju sebagai salah satu cara atmosfer “membersihkan” udara dari partikel-partikel tersebut, tetapi ketika berakhir di tanah atau pada salju yang kamu makan, partikel tersebut tetap ada. Paparan ini biasanya sangat rendah, tetapi tetap ada kemungkinan masuk ke tubuh jika dimakan dalam jumlah banyak atau di area berpolusi tinggi.
Setelah jatuh ke tanah, salju bisa bercampur dengan debu, bakteri, urine hewan, garam jalan, atau bahan kimia lain yang ada di lingkungan. Bahkan salju yang tampak putih pun bisa saja mengandung kontaminan ini jika pengaruh angin atau manusia sudah bercampur dengannya.
Mengonsumsi salju yang sudah terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti sakit perut, diare, atau mual, terutama jika mengandung bakteri atau patogen.
Meskipun salju terdiri dari air beku, tetapi menelan salju untuk memenuhi kebutuhan cairan tidak disarankan. Saat tubuh harus mengeluarkan energi untuk mencairkan salju menjadi air, ini memerlukan suhu tubuh melewati energi metabolik, yang justru bisa menurunkan suhu tubuhmu secara keseluruhan.
Ini bisa berdampak pada hipotermia, kondisi ketika suhu inti tubuh turun ke tingkat berbahaya, terutama jika kamu sudah berada di lingkungan dingin tanpa sumber panas lain.