Banyak orang tua menganggap anak yang mendengkur saat tidur sebagai hal biasa. Padahal, pada sebagian anak, dengkuran bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan napas berulang saat tidur akibat sumbatan jalan napas atas.
Studi besar yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan fakta yang tak bisa diabaikan. Para peneliti menganalisis data 539.127 anak usia 2–18 tahun dengan OSA dan membandingkannya dengan jumlah anak yang sama tanpa OSA. Selama lima tahun pemantauan, anak dengan OSA hampir dua kali lebih mungkin didiagnosis influenza dan 2,5 kali lebih mungkin didiagnosis COVID-19 dibanding anak tanpa OSA.
Secara angka, influenza terdiagnosis pada 5,1 persen anak dengan OSA, dibanding 2,8 persen pada kelompok kontrol (risk ratio/RR 1,80). Sementara itu, COVID-19 ditemukan pada 2,5 persen anak dengan OSA versus 1 persen pada anak tanpa OSA (RR 2,50).
Data ini memperkuat dugaan bahwa gangguan tidur kronis pada anak berdampak lebih luas daripada sekadar kualitas istirahat.
