Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam cara manusia mencari informasi, dukungan emosional, bahkan makna hidup. Dari chatbot yang menemani obrolan larut malam hingga sistem AI yang menjawab pertanyaan eksistensial, batas antara alat dan “teman bicara” kian kabur. Bagi sebagian orang, interaksi ini terasa membantu, sementara bagi sebagian lain justru memicu kebingungan yang lebih dalam.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan klinis mulai menyoroti fenomena individu yang mengalami delusi, paranoia, atau distorsi realitas setelah interaksi intens dengan AI. Fenomena ini populer disebut AI psychosis atau psikosis akibat AI—istilah tidak resmi yang digunakan untuk menggambarkan episode psikosis yang dipicu atau diperburuk oleh penggunaan AI, terutama model bahasa generatif.
Walaupun belum diakui sebagai diagnosis medis tersendiri, tetapi AI psychosis mulai menjadi perhatian serius di kalangan psikiater dan peneliti kesehatan mental. Fenomena ini menantang cara kita memahami relasi antara manusia dan teknologi, sekaligus menuntut pendekatan yang lebih hati-hati dalam penggunaan AI di ruang personal dan klinis.
