Selain tes darah, ada metode lain yang sering digunakan untuk mendeteksi campak, terutama pada fase awal infeksi, yaitu RT-PCR; sampel diambil dari swab tenggorokan, hidung, atau urine.
Metode ini dapat mendeteksi materi genetik virus secara langsung, bahkan sebelum antibodi terbentuk. Karena itu, RT-PCR sering dianggap lebih sensitif pada tahap awal.
Kombinasi antara tes PCR, tes IgM, dan evaluasi klinis memberikan akurasi diagnosis terbaik.
Ini penting terutama dalam konteks wabah atau kasus yang tidak khas, yang mana diagnosis cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah penularan.
Tes darah memang bisa membantu mendeteksi campak, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada waktu pemeriksaan dan interpretasi hasil. Mengandalkan satu metode saja berisiko menimbulkan kesalahan diagnosis, terutama pada fase awal penyakit.
Pendekatan terbaik adalah kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Dengan pemahaman ini, deteksi campak bisa dilakukan lebih akurat, pasien bisa segera diobati, sekaligus mencegah penyebaran yang lebih luas
Referensi
World Health Organization. "Measles Surveillance and Laboratory Testing." Diakses Maret 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. "Measles (Rubeola): For Healthcare Professionals." Diakses Maret 2026.
Jennifer S. Rota et al., “Molecular Epidemiology of Measles Virus: Identification of Pathways of Transmission and Implications for Measles Elimination,” The Journal of Infectious Diseases 173, no. 1 (January 1, 1996): 32–37, https://doi.org/10.1093/infdis/173.1.32.
Rita F. Helfand et al., “Timing of Development of Measles-Specific Immunoglobulin M and G After Primary Measles Vaccination,” Clinical and Diagnostic Laboratory Immunology 6, no. 2 (March 1, 1999): 178–80, https://doi.org/10.1128/cdli.6.2.178-180.1999.