Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Mencukur Rambut Bisa Menyebabkan Bisul?
ilustrasi mencukur kumis dan jenggot (unsplash.com/Supply)
  • Mencukur rambut tidak langsung menyebabkan bisul, tetapi bisa memicu infeksi jika kulit terluka.

  • Bisul umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang masuk через folikel rambut.

  • Kebersihan alat cukur dan teknik mencukur sangat menentukan risiko infeksi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mencukur rambut adalah bagian dari rutinitas banyak orang. Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan munculnya benjolan nyeri atau bahkan bisul setelahnya. Karenanya, banyak orang menganggap mencukur rambut adalah penyebab bisul secara langsung. Padahal, penjelasannya tidak sesederhana itu.

Penjelasannya bukan pada aktivitas mencukur itu sendiri, tetapi pada apa yang terjadi setelah kulit terpapar gesekan atau luka kecil. Terus baca untuk memahaminya, ya!

1. Bagaimana bisul terbentuk?

Bisul (furunkel) terjadi ketika bakteri masuk ke dalam folikel rambut dan menyebabkan infeksi. Penyebabnya yang paling umum adalah bakteri Staphylococcus aureus, yang sebenarnya sering hidup di kulit tanpa menimbulkan masalah.

Masalah muncul ketika:

  • Kulit mengalami luka kecil.

  • Folikel rambut terbuka.

  • Sistem imun tidak langsung mengatasi bakteri.

Infeksi ini kemudian berkembang menjadi:

  • Kemerahan.

  • Nyeri.

  • Pembengkakan.

  • Nanah.

2. Hubungan antara bisul dan mencukur rambut

ilustrasi mencukur kumis dan jenggot (unsplash.com/Sander Sammy)

Mencukur rambut bisa menciptakan kondisi yang memudahkan bakteri masuk, seperti:

  • Luka mikro pada kulit

Pisau cukur dapat menyebabkan luka kecil yang tidak selalu terlihat. Iritasi atau luka mikro setelah mencukur dapat meningkatkan risiko infeksi kulit. Luka ini menjadi pintu masuk bagi bakteri.

  • Folikel rambut terbuka

Setelah rambut dicukur, folikel menjadi lebih terbuka dan sensitif. Jika area tersebut terpapar kotoran, keringat, atau bakteri, risiko infeksi meningkat.

  • Alat cukur yang dipakai tidak bersih

Pisau cukur yang tidak steril bisa menjadi sumber bakteri. Penelitian menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus dapat bertahan pada permukaan benda dan berpindah ke kulit. Ini menjelaskan kenapa penggunaan alat cukur bersama atau tidak higienis meningkatkan risiko.

  • Iritasi dan rambut tumbuh ke dalam

Mencukur juga dapat menyebabkan rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair), yang dapat memicu peradangan dan infeksi. Kondisi ini sering menjadi awal dari terbentuknya bisul kecil.

3. Siapa yang lebih berisiko?

Tidak semua orang akan mengalami bisul setelah mencukur. Risiko lebih tinggi pada:

  • Pemilik kulit sensitif.

  • Orang dengan kebersihan kulit kurang optimal.

  • Orang dengan diabetes atau gangguan imun.

  • Individu yang sering berkeringat.

Kondisi kulit yang lembap dan terluka meningkatkan peluang infeksi bakteri.

4. Cara mencegah bisul muncul setelah mencukur rambut

ilustrasi mencukur bulu kaki (freepik.com/freepik)

Beberapa langkah sederhana dapat menurunkan risiko, seperti:

  • Gunakan pisau cukur yang bersih dan tajam.

  • Hindari mencukur saat kulit iritasi.

  • Gunakan gel atau krim cukur untuk mengurangi gesekan.

  • Bersihkan kulit setelah mencukur.

  • Hindari berbagi alat cukur.

Pendekatan ini membantu menjaga integritas kulit dan mencegah bakteri masuk.

Jadi, mencukur rambut bukan penyebab langsung bisul, tetapi dapat menjadi faktor pemicu jika dilakukan tanpa memperhatikan kebersihan dan kondisi kulit. Luka kecil yang tampak sepele bisa menjadi pintu masuk bagi infeksi. Dengan memahaminya, kamu dapat mengubah rutinitas mencukur menjadi lebih aman.

Referensi

American Academy of Dermatology. “Shaving and Skin Care.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Staph infections.” Diakses Maret 2026.

Mayo Clinic. “Boils and Carbuncles.” Diakses Maret 2026.

Frank R. DeLeo, Binh An Diep, and Michael Otto, “Host Defense and Pathogenesis in Staphylococcus Aureus Infections,” Infectious Disease Clinics of North America 23, no. 1 (January 10, 2009): 17–34, https://doi.org/10.1016/j.idc.2008.10.003.

Editorial Team